Vote komen dulu guys sebelum baca. Semoga tetep berkenan baca meski udah ngalor-ngidul-wetan-kulon nggak jelas ceritanya.
Btw, yang baca cerita ini umur berapaan ya? Masih sekolah, kuliah atau kerja?
***
Di salah satu sudut sebuah resto privat yang telah disiapkan untuk acara makan siang bersama itu telah disulap dengan dekorasi simpel untuk merayakan pertambahan umur Nindhy. Ada meja yang menampung beberapa cake dan pastinya kue yang lilinnya telah Nindhy tiup.
Ini seperti kejutan kedua untuknya. Nindhy tidak tahu menahu bahwa kedua orangtuanya melakukan hal tersebut. Karena Nindhy kira, lunch ini akan seperti acara makan bersama seperti sebelumnya yang hanya makan dan mengobrol ringan dengan bahasan apa saja.
Nindhy tentu senang. Ia bisa mengabadikan momen bersama dengan background yang lucu dan cantik itu.
Seperti sekarang ia melayani Adrian yang ingin foto bersamanya di tengah dekorasi dengan dominan warna peach tersebut.
Adrian seriusan mengekor. Pagi tadi ikut sarapan bersama dan siang ini kembali berada di tengah-tengah keluarga Nindhy. Keluarga Nindhy menyambut bahkan Ibunya sendiri yang meminta. Maka dari itu, Nindhy pun tidak bisa menolak. Dan memang tidak berniat menolak. Adrian itu juga temannya.
"Sekali lagi selamat ulang tahun ya, Nindhy cantik!" Adrian melakukan puk-puk di puncak kepala Nindhy. Lelaki itu semakin berani meski di depan keluarga Nindhy.
"Dih gombal banget! Anyway makasih. Enjoy aja deh. Lagian kayanya kamu udah akrab sama semua keluargaku."
Adrian terkekeh agak jumawa, Ytta. Dia kan memang punya jurus keturunan Kian Santang yang dari segi tampang dan kepribadian sangat mudah untuk menarik perhatian dan diterima dengan baik oleh siapa saja. Termasuk keluarga Nindhy yang baru ditemui beberapa kali. Kalau secara langsung. Tapi kalau by chat sih sering. Entah sama Dihyan atau Aksa. Kalau Gala jarang-jarang.
"Oh iya, tadi aku juga udah minta ijin ke Bapak sama Ibu sama Kakak-kakak kamu juga."
Nindhy mengerutkan dahinya. "Ijin ngapain emang?"
Senyum penuh kemenangan muncul di wajah Adrian. Tanda yang pasti itu bukan hal baik untuknya.
"Hih! Nggak usah sok misterius kaya gitu deh! Muka kamu tuh nyebelin ya, Adrian!"
"Ntar kamu tahu sendiri. Besok jam dua siang aku jemput. Kamu dandan yang cantik ya kaya hari ini."
"Kasih tahu dulu mau ngapain?" tanya Nindhy.
"Ada aja deh."
Adrian menerima handphone yang Selica sodorkan setelah tadi digunakan untuk memotret dirinya dan Nindhy. Ia kemudian melihat hasil foto-fotonya dengan senyum sumringah. Ditatapnya Selica yang sedang menunggu komentar akan foto yang ia bidik.
Taruna itu memberi acungan jempol untuk Selica. "Makasih, ya. Bagus fotonya."
"Sama-sama. Panggil aku lagi aja kalau mau difotoin lagi." Adrian mengangguk. Selica pergi menghampiri Inu. Mereka kembali hanya berdua di depan dekorasi.
"Adrian?"
"Ya? Kenapa?"
Nindhy memutar bola matanya malas. Adrian sengaja pura-pura tidak tahu. Memang taruna satu itu hobi membuat darahnya naik. Awas saja jika nanti ia melakukan medical check up rutin dan hasil tensinya naik, maka ia akan meminta Adrian untuk bertanggungjawab. Lihat saja nanti.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
Fiksi Umum" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
