"Kayanya bakal balikan deh mereka. Siapa tau kan di class meeting nanti Haris nembak Nindhy lagi. Lagian dia emang cocoknya sama Nindhy sih daripada Zeva. Tapi katanya pas pacaran sama Nindhy kemarin, Haris udah pacaran duluan sama Zeva, bener nggak sih?"
"Nggak tau deh kalau itu. Tapi kalau balikan sih nggak mungkin kayanya. Nindhy kan sekarang udah punya pacar lagi. Taruna loh, mana kaya prince charming banget. Soft spoken juga lagi. Pernah tuh Nindhy bikin igs lagi ngobrol santai sama dia dan gue yang ikutan meleleh dong denger suaranya!"
Selica mengerutkan dahinya dalam saat mendengar dua siswi yang lewat di depan perpustakaan saat ia baru saja keluar dari sana. Selica merasa aneh karena tiba-tiba saja mereka membahas tentang Nindhy dan Haris.
Terus apa katanya tadi, Haris dan Nindhy bakal balikan? Ah, rasanya Selica ingin tertawa kencang.
Selica yakin pasti ada sesuatu yang baru terjadi antara sahabatnya dan Haris sehingga membuat siswi tadi membicarakannya. Keyakinannya itupun seperti mendapat jawaban saat ia melihat Haris terlihat ditarik oleh salah seorang teman basketnya menuju gudang di sebelah toilet yang berada tepat di samping perpustakaan.
Tak berpikir apa-apa lagi, Selica mengikuti Haris dan Vicky. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Selica bersembunyi di balik tembok untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
"Lo ngapain sih, Ris, kaya gitu? Jangan bilang lo beneran jatuh cinta sama Nindhy?!"
"Kalau iya emang kenapa, Vic? Menurut lo perasaan gue ini salah?" Haris menjawab tak kalah tajam.
Vicky menggelengkan kepala dan mendecih. Ia semakin mendekat ke Haris untuk mengitimidasi. "Lo inget nggak sih, Ris, taruhan kita sama Pancasakti? Atau lo pura-pura nggak inget? Apa perlu gue ingetin lagi hah?!"
Dengan telunjuknya, Haris menjauhkan badan Vicky yang memburu. Ia benci diitimidasi seperti itu. Apalagi untuk sebuah hal yang ia rasa itu bukan kesalahannya. Dan Vicky, telah lancang melakukan hal yang ia benci.
"Taruhan itu udah nggak berlaku, Man. Gue udah putusin Nindhy sesuai waktu yang Dion kasih. Bersamaan dengan itu artinya gue sama Dion nggak terlibat perjanjian apapun lagi. Lo bisa lihat sendiri Vic, Nindhy hancur karena gue putusin. Dion yang tau itu seneng karena bisa balas dendam ke Nindhy. Clear kan? Terus salah gue dimana?"
"SALAH GUE DIMANA KALAU GUE CINTA BENERAN SAMA NINDHY?!" sentak Haris.
Bugh!
Vicky memberi bogem mentah di pipi Haris. Tak cukup sekali, pemuda itu kembali memberi pukulan di pipi kiri Haris hingga membuat bibir kapten basket Wira Kartika berdarah.
Selica yang menyaksikan itu tidak bisa lagi menahan ke-ngerian depan matanya memilih pergi dari sana dengan terburu. Jantungnya ikut berpacu. Bukan hanya karena melihat secara langsung bagaimana dua orang itu saling memberi bogem mentah, tapi juga karena fakta yang baru ia tahu.
Nindhy dijadikan bahan taruhan antara Haris dan Dion, kapten basket Pancasakti, rival Wira Kartika. Yang dulu merupakan siswa Wira Kartika yang memilih pindah sekolah setelah pernyataan cintanya ditolak Nindhy.
***
Meski dua hari lalu tingkah Haris menjengkelkan, itu tidak membuat Nindhy mengudurkan diri menjadi pasangan untuk melakoni pemotretan sebagai ikon hari Rabu ini di tengah-tengah jam pelajaran. Selain memang tidak bisa mundur, Nindhy jujur saja menyukai kegiatan itu. Apalagi ini akan menjadi kali terakhir dirinya menjadi ikon Wira Kartika. Akhirnya Nindhy memilih mengesampingkan persoalannya dengan Haris. Dan fokus untuk menjalani peran menjadi wajah Wira Kartika bersama Haris.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
General Fiction" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
