"Sayang, aku otw ke rumah kamu. Kamu mau dibawain apa?"
"Kamu ke sini dulu aja. Jangan lama-lama!" balas Nindhy menarik bibir Adrian untuk membentuk senyum kecil.
Adrian kemudian buru-buru masuk ke mobil yang dititipkan orangtuanya ke keluarga asuh untuk dirinya bepergian selama pendidikan militernya saat pesiar seperti ini. Setelah duduk di balik kemudi, Adrian mengganti panggilan telepon itu ke fitur hands free call. Tidak lupa juga ia mengenakan seatbelt.
"Iya, sayangku, ini aku jalan ya."
Mobil perlahan keluar dari perkarangan rumah keluarga asuh. "Kamu bener nggak mau nitip apa-apa?"
"Nggak, Adrian. Bawel deh. Kamu cepet ke sini. Aku di rumdis Ayah."
Meski nada suaranya terdengar ketus dan agak sensi, tidak membuat senyum di bibir Adrian hilang. Adrian memahami sikap sensi Nindhy barusan karena beberapa saat yang lalu saat ia membuka handphonenya kembali, ia mendapatkan pemberitahuan di kalender bahwa minggu ini, Nindhy sedang menerima kedatangan tamu bulanannya.
"Oh kamu di rumdis. Ya sudah, Nin, tunggu 15 menit lagi aku sampai."
"Iya, kamu hati-hati ... Adrian."
Kembali Adrian tersenyum. Nindhy menyebut namanya dengan penuh rasa sayang yang dapat dirinya rasakan. Belakangan Adrian tak lagi memaksa Nindhy memanggilnya dengan panggilan sayang seperti yang kadang ia ucapkan untuk Nindhy. Karena menurutnya, sudah cukup dengan itu. Pada intinya yang paling penting Adrian tahu perasaan Nindhy.
Tidak terasa hubungan mereka sudah berjalan dua bulan. Adrian bersyukur karena hubungan mereka selalu baik-baik saja.
***
Nindhy bercermin untuk merapikan letak japitan lucu yang ia pakai untuk mempercantik penampilan rambutnya. Selesai dengan kegiatannya, Nindhy putuskan untuk keluar kamar. Sebentar lagi Adrian akan sampai dan dia ingin menyambutnya di teras depan. Rasa rindunya sudah tidak bisa ditahan lagi. Dua minggu kemarin, mereka tidak bisa bertemu karena kesibukan masing-masing. Lalu beberapa saat yang lalu, Adrian mengatakan akan datang untuk menemuinya. Gadis cantik itu sudah tidak sabar.
"Wah, tadi uring-uringan sekarang udah sumringah lagi. Pacarnya mau datang kah?"
Aksa yang duduk di sofa ruang keluarga menghentikan langkah adiknya. Pria angkatan udara tersebut beranjak mendekati Nindhy. "Adrian mau ke sini?" tanyanya lagi.
Nindhy mengangguk. "Iya."
"Udah datang emang? Kamu buru-buru banget mau ke depan."
"Bentar lagi sampai. Aku mau nunggu di depan." Nindhy kembali melangkah dan Aksa mengikutinya. "Kak Aksa ngapain ikut?" tanya Nindhy.
"Mau ikut lihatlah, Dek ngapain lagi? Kamu lupa Mas Gala nyuruh Kakak atau Dihyan buat jadi CCTV hidup kalau kebetulan kami ke rumah dan Adrian main ke sini."
Nindhy mendengus sebal. Ketiga kakaknya ada-ada saja. Tidak cukup sampai merestui hubungan mereka. Mereka selalu mengawasi Nindhy dan Adrian entah diam-diam atau terang-terangan macam Aksa sekarang.
"Adrian nggak kaya yang dulu, Kak Aksa. Kakak, Mas Gala sama Bang Dihyan kan tau sendiri."
"Emang, makanya kami kasih izin pacarin kamu," sahut Aksa. Menaruh kedua tangannya di saku celana sembari matanya menyapu halaman rumah dinas Gubernur Akmil.
"Yaudah kalau gitu Kak Aksa masuk aja deh. Kalau Kak Aksa di sini aku nggak bebas ya berasa dipelototi!"
Nindhy mengamati Aksa yang dari penampilannya seperti hendak pergi. Ah, dia baru sadar. Rambut Kakaknya itu juga ditata sedemikian klimis. Wangi parfumnya juga seperti sebotol dipakai semua.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
Fiction générale" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
