Bang Dihyan :
Jangan kasih tau Nindhy, Yan. Biarin dia fokus ke PAS dulu.
Adrian :
Ya Bang.
Adrian lalu menyimpan kembali handphonenya setelah membalas pesan Dihyan. Ia melirik jam tangannya, jam sebelas. Namun belum ada tanda-tanda Nindhy keluar dari dalam sekolah. Adrian menghembuskan napas kasar. Dirinya sangat khawatir takut Haris berbuat hal yang menyakiti Nindhy. Seperti yang Inu ceritakan tadi.
Adrian melirik Inu di sebelahnya. "Kenapa nggak kamu aja, sih Nu, yang jadi pasangan ikon Nindhy? Kalau sama kamu kan saya bisa tenang."
"Males, Bang, ribet."
"Bukannya enak jadi banyak yang kenal."
"Justru itu, Bang, nggak pengen banyak yang kenal. Hidup tenang tanpa dikenal orang yang nggak kita kenal itu lebih enak," sahut Inu setelah menggelengkan kepalanya. Ia terkekeh kecil.
Adrian setuju dengan Inu. Ingin hidup tenang adalah salah satu keinginan Adrian yang akhirnya bisa ia dapatkan setelah menjadi taruna. Menjelang kelulusan di Taruna Nusantara dulu, Adrian mengambil keputusan besar dengan menghapus semua sosmed yang ia miliki. Tidak peduli seberapa banyak followers-nya saat itu. Ketika ia naik ke tingkat dua, Adrian akhirnya membuat akun baru. Alasannya tidak lain untuk mencari tahu lebih dalam sosok Nindhy, anak gadis Gubernur Akmil.
"Udah mau keluar nih, Bang, Nindhy. Selica barusan chat," beritahu Inu.
Mendengar informasi tersebut, Adrian langsung berdiri dan beranjak dari kursi depan post satpam yang ia duduki bersama Inu sedari tadi. Adrian ingin menyambut Nindhy dan sekaligus sebagai kejutan karena ia tidak memberitahu Nindhy keberadaannya di sini.
Beberapa saat kemudian, Nindhy dan Selica muncul dari arah lapangan. Keduanya terlihat saling mengobrol dan tak menoleh ke arah depan di mana Adrian dan Inu berdiri menunggu.
"Dijemput tuh sama pacar." Selica menyengol lengan Nindhy.
Menatap ke depan, Nindhy menemukan kehadiran Adrian dengan gaya cool-nya. Senyum Adrian menyihir Nindhy hingga tanpa menunggu waktu lagi, Nindhy berlari menghampiri.
Adrian membuka kedua tangannya menyambut pelukan Nindhy. Setelah Nindhy menubruk dadanya, Adrian memperangkap dalam pelukannya yang hangat. Satu tangan Adrian melingkar di pinggang sementara satu tangan lainnya mengusap rambut hitam Nindhy yang kali ini bergaya half ponytail dengan poni yang membuat gadis itu terlihat manis dan imut.
"Kok nggak ngomong mau jemput sih? Aku kan jadi kaget liat kamu tiba-tiba di depan mata." Nindhy bergerak melepas pelukan itu.
"Jangan dilepas dulu."
Adrian kembali memperangkapnya. "Kenapa?" tanya Nindhy.
"Belum puas, sayang."
Adrian menikmati pelukan Nindhy. Namun, ia juga menikmati bagaimana raut wajah Haris di depan sana yang mengeras dan kedua tangan di sisi tubuhnya mengepal begitu kuat.
Senyum penuh ejek dari Adrian keluar dan ditujukan untuk bocah bau kecur itu —kalau kata Dihyan. Kali ini Adrian sungguhan senang dan berkali-kali lipat merasa di atas Haris. Lihat saja, wajah remaja itu yang berubah memerah menahan gejolak marah bercampur rasa cemburu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
General Fiction" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
