Still, San! - Chapter 24

1.5K 77 5
                                        

Pukul empat sore saat mobil Adrian kembali memasuki halaman rumah dinas Gubernur Akmil. Begitu mesin telah mati, Adrian keluar diikuti Nindhy yang sudah dari tadi meminta Adrian agar tidak usah membukakan pintu untuknya. Adrian iyakan saja sebab dia juga perlu mengeluarkan beberapa oleh-oleh untuk keluarga Nindhy yang ia beli setelah dari Gembira Loka.

"Boneka singanya tadi dimana ya?" tanya Nindhy menyusul Adrian yang membuka bagasi mobil.

"Ada di kursi tengah, sayang."

Nindhy membuka pintu tengah dan menemukan boneka yang ia beli di gerai Zoovenir Gembira Loka. Segera ia ambil dan masukkan ke paperbag karena sebelumnya ia keluarkan.

"Ada kan?" Adrian muncul dari belakang. Membawa serta beberapa oleh-oleh yang cukup banyak di kedua tangannya.

"Iya ada. Ayo!"

Hadi dan Asmarini yang tengah merawat tanaman di halaman depan segera menyambut kepulangan Nindhy bersama kekasihnya. Asmarini sedikit memekik kecil saat Adrian mengatakan semua tentengan di tangannya yang semua adalah makanan untuk mereka.

"Apa ini, Nak Adrian ... donat pagi tadi yang kamu bawa juga masih ada loh, Nak."

"Sedikit oleh-oleh dari Jogja, Ibu."

Hadi terkekeh atas pekik kecil istrinya tadi. Pria paruh baya yang masih tegap dan terlihat kharismatik tersebut memanggil ajudan yang tak jauh dari sana untuk membawa masuk oleh-oleh yang Adrian beri.

"Lain kali tidak perlu repot-repot, Le." Begitu kata Hadi selepas Adrian menyalaminya penuh takzim.

"Sesekali, Bapak, mohon izin."

"Kak Aksa kok nggak keliatan? Kemana Yah?" tanya Nindhy bergantian menyalami Ayahnya.

"Lagi keluar, Dek."

Nindhy menganggukkan kepalanya. Hadi kemudian menyuruh Nindhy masuk dan mandi karena waktu sudah semakin sore. Tidak lupa, ia juga meminta tolong ke anak gadisnya untuk meminta asisten rumah tangga mereka membuatkan minuman untuk Adrian.

"Abang jangan langsung pergi ya, tungguin aku selesai mandi," ujar Nindhy mendekati Adrian untuk pamit mandi.

"Iya, Nin."

Hadi dan Asmarini tersenyum kecil dengan tingkah Nindhy pada Adrian.

"Jalan-jalan kemana aja tadi?" Hadi membuka percakapan setelah mereka duduk di ruang tamu.

"Ke Kebun Binatang Gembira Loka, Pak karena Nindhy yang mau jadi saya ikuti maunya Nindhy. Setelah dari sana, kita cari makan dan beli oleh-oleh terus pulang." Adrian cukup tegang kali ini. Sudah lama sekali dia tidak berhadapan langsung dengan Hadi. Baik di Akmil maupun pertemuan personal yang hanya dia dan Hadi serta Asmarini.

Hadi menyadari ketegangan Adrian. "Nggak usah tegang, Le, saya cuma mau mengobrol ringan sama kamu."

"Tehnya minum dulu, Nak, biar nggak gugup," sambung Asmarini sedikit memberi candaan.

Adrian menurut. Dia ambil cangkir teh di meja. Sebelum meminumnya, ia sempatkan meminta izin. Setelah dipersilahkan, Adrian segera menyeruput hangatnya teh yang berhasil meredakan kegugupannya. Sekarang Adrian sudah jauh lebih tenang menghadap orang tau Nindhy yang tidak bisa Adrian tebak alasan sebenernya ia didudukan di depan mereka. Tidak mungkin kan hanya untuk mengobrol ringan yang sepele. Pasti ada sesuatu. Kecurigaan Adrian itu pun benar.

"Ibu masih ingat, Koptar yang pernah Ayah ceritakan punya lisensi menyelam dan sering juara berkuda di usianya yang masih relatif muda? Yang langsung buat Ayah kagum di hari pertama serah terima jabatan Gubernur Akmil kurang lebih satu setengah tahun yang lalu. Ibu ingat?"

Still, San!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang