Adrian POV
Menikah ternyata semenyenangkan itu. Setiap hari ada yang mengurus dari mulai baru bangun tidur sampai tidur lagi. Dari hal sepele sampai hal rumit. Setidaknya itu yang aku rasakan setelah pernikahan kami masuk di hari ke 72. Sudah dua bulan lebih aku dan Nindhy menjadi pasangan suami istri. Setiap hari rasanya selalu sama seperti hari pertama kami telah sah di mata negara dan agama.
Dari sekian banyak hal menyenangkan menjadi suami Nindhy, menurutku yang paling favorit adalah saat aku melihat bagaimana istriku tidur lelap dan memeluk tubuhku begitu erat. Seperti yang aku lakukan dini hari ini. Memandangi wajah cantik istriku yang terpejam erat dengan napas teratur. Aku tahu beberapa hari ini sangat melelahkan untuknya harus ikut mempersiapkan segala kebutuhan dalam menyambut Panglima TNI dan jajarannya yang akan berkunjung di Yonif tempatku bertugas esok hari. Beberapa kebutuhan yang belum selesai bahkan ada yang istriku bawa pulang untuk dilanjutkan di rumah. Aku yang tak tega tentu ikut membantu menyelesaikannya.
Aku masih ingat pada janjiku sendiri. Sampai kapanpun aku akan berusaha membuat Nindhy selalu aman dan nyaman bersamaku. Aku mencintainya. Kalau cinta pasti tidak ingin melihat orang yang kita cintai kesusahan bukan? Itulah yang aku lakukan.
"I love you, sayang," bisikku pelan sambil mengusap pipinya yang halus.
Istriku ini cantik. Cantik sekali. Walaupun sering cerewet saat aku lupa menaruh barang ketika hendak berangkat kerja dan membuatnya harus mematikan sebentar kompor untuk mencari apa yang aku perlukan. Ajaibnya ketika Nindhy yang cari, pasti barang itu langsung ketemu. Padahal aku sudah mondar-mandir seperti kitiran kalau kata orang tua.
Cup. Aku mencium kening Nindhy dan menahannya lama. Allah, tolong jaga istriku untukku. Saat aku tak bersamanya. Aku mencintainya dan berharap aku bisa membawanya ke surga-Mu.
"Eughh ..."
Oh tidak. Sepertinya perbuatanku mengganggu tidur nyenyaknya. Nindhy melenguh pelan dan perlahan kelopak mata indahnya terbuka.
Aku menyengir tanpa berdosa.
"I love you, sayang."
Keningnya langsung mengerut mendengar kalimat cintaku.
"Aneh ..." ejeknya lirih dan memelukku semakin erat.
Aku balas memeluknya tak kalah erat. Membawa tubuh istriku ke dalam pelukanku yang hangat. Ia kembali memejamkan matanya. Namun aku tahu Nindhy tak benar-benar tidur lagi. Aku mengusap-usap rambut panjangnya dan sedikit merapikan di bagian yang menutup wajah istriku yang cantik.
"Aku sayang kamu." Aku tidak akan lelah mengatakan itu. Sampai kapanpun. Sampai tubuhku ringkih dan rambutku memutih serta gigi-gigiku habis termakan usia, aku akan selalu mengatakan itu.
"Kamu ngelindur ya?" tanya Nindhy dengan suara yang terendam.
"Nggak, cinta."
"Sekarang jam berapa? Udah pagi ya?"
Aku melirik jam di dinding. "Setengah tiga."
Aku menurunkan pandanganku saat aku merasa Nindhy menatapku dari bawah. Aku memberi senyum dan masih setia mengusap rambutnya yang beraromakan strawberry. Sesekali juga aku mencium puncak kepalanya.
"Tidur lagi, Bang. Besok masih kerja nanti Abang ngantuk."
"Tenang, sayang, aku punya penangkalnya kalau tiba-tiba ngantuk di kantor."
"Penangkal? Emang apa?"
Aku mengelus pipinya lembut dengan senyumku yang manis—kalau kata istriku, madu saja kalah. "Kamu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
Fiction générale" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
