"Nggak mau deh jadi bayi." Adrian meralat celetukan sebelumnya.
"Kenapa?"
"Ntar nggak bisa pacarin kamu, nikah, punya anak sama kamu terus kita hidup bahagia."
Demi apapun rasanya Nindhy ingin muntah dengan gombalan receh Adrian. Apalagi itu didengar Tata dan Narendra. Adrian memang asal bicara tanpa melihat situasi dan kondisi. Dan lihatlah, bukannya didukung Adrian malah menerima ejekan berbentuk suara tertawa dari Kakak dan tunangannya.
"Nembak aja nggak berani gegayaan bikin planning setinggi langit."
Narendra menyahut, "kalau jatuh sakit loh, Yan. Bener nggak, yang?"
"Betul." Tata mengangguk.
"Ketularan Kak Hana nih kalian. Minimal dukung adiknya gitu. Nggak aku restuin kalian menikah baru tau rasa!"
"Childish banget." Nindhy menyindir. Ia menggelengkan kepalanya. "Marah-marah mulu ntar cepet tua. Aku nggak mau sama yang tua ya."
Hanya dengan penuturan Nindhy tersebut, suasana hati Adrian jauh lebih membaik. Dia melunak. Raut kesal di wajahnya perlahan berganti. Raut yang selama ini selalu Nindhy lihat kembali muncul lagi. Daripada melihat raut kesal atau sedihnya, Nindhy lebih suka saat Adrian menunjukkan wajah jumawa. Seperti saat ini.
"Beda dua tahun masih bisa kan?"
"Bisa kalau wetonnya cocok." Nindhy menyahut asal.
"Saya pernah ngitung dan cocok," balas Adrian.
Nindhy terkejut. "Serius?"
Adrian mengangguk. Setelah mengetahui tanggal lahir Nindhy, Adrian iseng untuk menghitung weton mereka. Dan sungguh hasilnya sangat membuat ia senyum-senyum sendiri setelah itu. Weton mereka cocok. Meskipun Adrian tidak tahu dia hitungnya sudah benar atau tidak. "Cara ngitungnya saya lihat google. Kayanya emang bener. Katanya juga kalau kita menikah rejekinya bakal lancar."
"Seriusan apa bohongan kamu? Aku jadi skeptis sama kamu ya."
Mereka leluasa mengobrol berdua karena pasangan di samping mereka juga sama-sama sedang sibuk berdua.
"Historinya masih ada, mau lihat? Saya juga lihat Youtube tutorial ngitung weton. Atau mau lihat hasil perhitungannya? Saya sempat foto."
Kan sudah dibilang, Adrian cinta mati dengan Nindhy. Begitu tahu darimana asal keluarga salah seorang yang memintanya berkenalan dengan Nindhy, pikiran Adrian langsung menuju ke hal-hal yang masih dipegang sebagai tradisi itu. Dari awal Adrian tidak berniat main-main. Ia sudah diberi izin dan pastinya ia juga ingin bertanggungjawab atas izin yang ia dapatkan.
Jadi begitu tahu tanggal lahir dari gadis yang akan ia jadikan satu-satunya pemilik hatinya, Adrian langsung mencoba menghitung kecocokan weton mereka. Siapa sangka ternyata hasilnya cocok. Semesta seperti sudah memberikan jalan takdir untuk mereka.
"Ngitung weton itu hal paling krusial kalau mau menikahkan pasangan suku Jawa. Kadang ada tuh ya yang lebih milih batalin nikahnya gara-gara wetonnya nggak cocok daripada dilanjut tapi ke depannya nggak akan baik. Jadi kalau udah nemu yang sama-sama cocok, ya itu berarti bagus kan? Tinggal siapin hal lainnya."
Nindhy menghela napas lelah. "Kamu bahasnya udah nikah aja, nembak aku aja belum."
"..."
***
Hari mulai beranjak petang. Acara belum usai malah semakin ramai karena ada karaokean. Meski sudah bisa mengakrabkan diri, Nindhy masih sedikit tidak berani untuk ikut menampilkan diri meski beberapa kali diminta untuk seru-seruan bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
General Fiction" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
