Kegiatan terakhir taruna wreda, latsitardanus yang diikuti oleh 1.845 peserta dari taruna mantra TNI dan Kepolisian serta praja IPDN, Poltek SSN, Kadet Unhan, Mahasiswa daerah serta pengasuh dan pendukung telah berlangsung dua minggu. Berbagai kegiatan yang menjadi proker taruna yang dibagi menjadi empat satlat juga telah memberikan hasil yang diinginkan. Akses jalan rusak telah diperbaiki, saluran air yang sempat bermasalah juga sudah ditangani oleh para taruna dengan kerjasama bersama warga setempat. Tempat ibadah yang beberapa bagian mengalami kerusakan serta cat yang mengelupas telah diperbaiki dan dicat ulang.
Selama dua minggu itu juga Adrian berada di fase hubungan jarak jauh dengan sang kekasih. Untungnya semua tetap baik-baik saja. Meski terkadang harus berjibaku dalam mengatasi rasa rindu yang kian hari kian bertambah. Adrian sungguh mensyukuri kemajuan teknologi yang memudahkan ia dan Nindhy tetap bisa berkomunikasi dan berbalas kabar lewat telepon. Jadi dia tidak cosplay cacing kepanasan kalau sedang rindu dan ingin melihat Nindhy.
Mereka biasanya melakukan telepon rutin di malam hari. Saat Adrian menyelesaikan semua kegiatan di siang hari lalu menghabiskan makan malamnya. Adrian akan menuju sebuah dipan di belakang rumah penduduk yang menjadi tempatnya beristirahat. Di sana entah lewat handphone atau laptopnya, Adrian menghubungi Nindhy. Mereka akan saling bercerita kegiatan mereka di hari itu.
Adrian akan selalu antusias mendengar dan menyimak cerita Nindhy. Namun entah kenapa malam ini mendengar cerita gadisnya, Adrian justru emosi.
"Aku udah tolak bahkan aku udah sengaja lihatin case handphone aku yang ada foto polaroid kamu. Tapi dia maksa, Bang Ian. Dia nggak pergi dari meja aku sama Seli. Selica juga udah bantu ngusir tapi dia tetap nggak mau pergi sebelum aku kasih nomor teleponku. Mau kabur juga nggak bisa, dia bawa tiga temannya. Mana di cafe cuma ada aku, Seli sama mereka doang. Terus dia kan tau aku nolak kasih nomorku, dianya nego minta di-follback instagramnya. Yaudah kan aku iyain aja biar selesai dan bisa pergi. Terus dari hari itu, dia dm aku terus, Bang. Aku kaya diteror. Dia juga ngacem kalau aku berani blokir dia."
"Kamu balas dm-nya, sayang?" Adrian mencoba tenang. Tidak ingin membuat Nindhy tahu kemarahan yang sedang ia tahan.
"Nggak. Makanya dia teror aku terus."
"Siapa namanya tadi?" tanya Adrian lagi.
"Leader Welly."
"Karbol tingkat III ya tadi ..."
"Iya, Bang Ian."
Adrian menganggukkan kepalanya dan terus mengingat nama tersebut. Leader Welly. Berani sekali mengganggu gadisnya. Adrian menyunggingkan senyum miring.
"Kamu nggak usah takut, cinta. Aku yang bakal beresin itu. Sekarang kamu tidur. Jangan lupa mimipiin aku, cinta."
"Heem ... Good night Bang Ian. I love youuuu ... makasih udah dengerin ceritaku. Makasih selalu jadi penenang. Aku tutup ya, Bye, Bang Ian ..."
Sambungan telepon itupun terputus. Lengkungan senyum Adrian semakin seram. Ia beranjak dari sana untuk mulai membereskan kerikil kecil yang bisa membuat ia terjatuh suatu saat. Adrian masuk ke rumah dan mencari kawan dari AAU yang satu tempat tinggal dengannya di rumah ini.
Adrian mengetuk pintu kamar kawan yang dimaksud. "Dit?"
"Lo di dalam?" tanya Adrian pelan.
Karena tidak ada sahutan, Adrian mencoba membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci. Tidak ada orang di sana. Adrian kembali menutupnya. Ia segera menuju halaman depan. Mungkin Radit dan yang lain berada di sana.
Sampai di halaman depan yang terdapat sebuah bale, Adrian menemukan semua kawannya di sana termasuk Radit yang ia cari. Gegas Adrian menghampiri mereka yang tengah bersantai ditemani beberapa camilan dan kopi. Sepertinya mereka akan begadang seperti biasanya saat libur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
General Fiction" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
