"Gue kalau di posisi mereka kayanya juga bakal kesel ke lo sih, Suh." Cakra menyandarkan diri di sandaran kursi. "Bayangin deh, mereka deket sama Abangnya, tampang juga sebelas dua belaslah kaya lo. Mereka lebih senior. Tapi ditolak sama Nindhy. Terus ternyata Nindhy deket sama lo dimana posisi lo di sini junior mereka. Ya gimana nggak kesel coba, Suh. Untung aja lo nggak sampai bonyok."
Nanda terkekeh, "tapi dibikin malu seumur hidup, Cak."
"Ck! Diem nggak lo, Suh," kesal Adrian.
"Kasian bener lo, Suh."
Adrian melirik Dimas, "setelah puas ketawain gue, lo baru ngomong kasian ke gue?"
"Hahaha ... yaudah sih, Suh. Kan emang video lo bikin kita ketawa. Abis lo kaya orang linglung gitu. Btw, Nindhy bakal ilfeel nggak ya kalau lihat video lo itu."
Adrian mendadak ikut menebak reaksi Nindhy. Jangan sampai Nindhy jadi ilfeel lagi. Kalau sampai ilfeel, maka Adrian akan meminta tanggungjawab dari kelima seniornya. Resiko pikir nanti saja.
Beberapa saat kemudian, handphone miliknya yang berada di meja berdering. Nindhy Nayaka, begitu nama yang terpampang. Adrian lantas mengambil handphone itu dan mendekatkannya ke telinga.
Nanda, Cakra dan Dimas kembali melanjutkan permainan uno mereka. Lagipula Adrian sudah memenangkan permainan itu lebih dulu.
"Iya, halo, Nin?" Adrian membuka sambungan itu.
"Aku ketiduran tadi. Kamu baik-baik aja, kan?"
"Alhamdulillah, muka ganteng saya aman." Ketiga temannya memberi reaksi ingin muntah. Adrian tidak peduli. "Capek banget ya sampai ketiduran gitu. Saya jadi merasa bersalah nih bikin kamu kecapean."
"Tadi pulang jam berapa?"
"Nggak digubris cuy ..." bisik Nanda ke Cakra dan Dimas. Samar-samar suara Nindhy bisa didengar mereka.
"Jam lima." Adrian lekas berdiri. Memilih menjauh agar temannya tidak bisa menguping obrolannya dengan Nindhy. "Ini kamu baru bangun?"
"Nggak. Aku bangun setengah enam tadi. Tapi baru buka handphone sekarang. Aku khawatir sama kamu."
"I'm okey, Nin."
"Mereka ngapain kamu? Nggak main fisik kan?"
Mendengar Nindhy khawatir dengan keadaannya, Adrian tidak bisa menahan degupan jantungnya. Jatuh cinta ternyata semenyenangkan ini. Tahu bawa si dia peduli dan khawatir, membuat hatinya merasa hangat.
"Nggak, Nin. Apa mau saya pap biar kamu percaya?"
"Coba mana?"
"Kamu serius?" Adrian berbinar.
"Nggak jadi deh. Ntar kamu kepedean. Pasti mukanya juga ngeselin. Setelan muka kamu kan gitu."
"Iya deh. Tapi kamu juga suka kan? Udah deh ngaku aja, Nindhy. Gemes deh saya lama-lama sama kamu." Mungkin jika Nindhy ada di dekatnya, sudah Adrian acak rambut yang harum shamponya masih ia ingat itu.
"Cinta itu butuh kesabaran. Kamu nggak sabar berarti kamu nggak pantas dapet cintanya aku."
"Mana bisa begitu, heh? Saya udah effort banget ini. Sampai mempermalukan diri saya sendiri loh demi kamu. Demi bisa boleh ketemu kamu terus."
"Maksudnya?"
Adrian menepuk dahinya. Ia keceplosan. Berakhir dituntut penjelasan oleh Nindhy. Padahal yang paling ditakutkan oleh Adrian saat Ale merekam dan menyebarluaskan di sosial medianya adalah Nindhy melihat itu dan menertawakan dirinya. Bisa-bisa tebakan Dimas benar, Nindhy akan ilfeel melihat bagaimana badan tegapnya dipaksa bergerak mengikuti alunan lagu jawa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
Fiksi Umum" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
