Para pengendara di Jalan Jenderal Gatot Soebroto depan kompleks Akademi Militer menghentikan laju kendaraannya saat dua orang Polisi Militer terlihat sedang menyebrangkan para taruna Akmil yang hari ini mendapat jatah pesiar. Berpeleton-peleton taruna yang gagah dan menenteng tas hitam berlogo Akmil menambah tempo langkahnya kala diperintah PM agar semua taruna bisa segera keluar dari Kesatrian sehingga tidak menyita lebih lama waktu para pengendara.
Begitu menyebrang, para taruna tersebut menuju tujuannya masing-masing. Ada taruna yang menghampiri keluarga yang kebetulan menjenguk, ada taruna yang menuju rumah keluarga asuh dan ada juga taruna yang langsung pergi bersama taruna lain untuk menikmati waktu pesiar.
Sertar Adrian adalah taruna yang kedua. Bersama kawannya, Sertar Nanda, keduanya langsung menuju rumah keluarga asuh. Kebetulan mereka juga satu keluarga asuh. Rencananya setelah mengambil mobil Adrian, mereka akan mencari makan sebelum melakukan kegiatan lain.
Siang hari ini Adrian akan menghabiskan waktu bersama Nanda. Sore sebelum kembali ke Akmil, Adrian baru menemui Nindhy. Karena saat ini berdasarkan pesan dari pacar cantiknya yang baru ia terima, Nindhy sedang berada di sekolah untuk sebuah urusan yang berkaitan dengan class meeting. Nindhy juga yang meminta Adrian untuk melakukan pesiarnya bersama Nanda dulu yang akhir-akhir ini sedikit dilupakan sejak mereka pacaran.
Saat Adrian dan Nanda berjalan beriringan dengan langkah yang serempak tanpa ada obrolan, tiba-tiba saja sebuah suara memanggil nama Adrian.
"Sertar Adrian!"
Adrian langsung balik badan. Badannya langsung tegap dan tak lupa menyebut kata 'siap' ketika ia tahu yang memangilnya adalah Danmenkorpstar, Sermatutar Dihyan. Nanda juga melakukan hal yang sama dengan Adrian.
Dihyan lalu memangkas jarak dengan dua juniornya. Setelah sampai di hadapan Adrian dan Nanda, Dihyan menganggukkan kepalanya untuk meminta dua juniornya menurunkan tangan dari sikap hormat.
"Izin Mayor, ada yang bisa saya bantu?" tanya Adrian formal seperti kehidupan mereka di dalam Akmil. Mereka masih berada di sekitar Akmil juga jadi Adrian harus benar-benar menjaga sikap.
"Kalian mau kemana, San?"
"Siap, kami mau cari makan, Mayor."
Dihyan mengangguki sahutan Nanda. Kemudian ia kembali ke Adrian. "Kamu nggak ke rumah, Yan?" Dihyan mengubah bahasa menjadi lebih santai.
"Nanti sore, Mayor. Izin, Nindhy sedang ada kegiatan di sekolah."
"Biasa aja, Yan, nggak ada yang dengar lagian," sahut Dihyan terkekeh kecil. Adrian mengangguk.
"Saya ikut kalian cari makan boleh nggak? Nanti pulangnya ke rumah saya. Kayanya PS5 saya udah sampai."
Bola mata Nanda tidak bisa dikontrol. Ia melotot sangking tergiurnya. Seniornya itu sedang mengajak ia dan Adrian untuk memainkan mainan barunya itu kan? Wah, mana bisa ditolak kalau begini. Nanda sih mau banget!
"Sambil nunggu Nindhy pulang, Yan." Dihyan menambahkan. Karena dilihat-lihat pacar adiknya itu akan menolak.
"Ya sudah deh, Bang."
"Good!" Dihyan tersenyum senang. "Habis makan anterkan saya ke klinik hewan dulu, Yan buat ambil BinBin."
"BinBin udah boleh pulang, Bang?"
"Udah, Yan. Udah sembuh lukanya. Baru banget tadi dokternya kasih tau saya kalau BinBin udah boleh dibawa pulang. Tau nggak tuh anabul malah tambah gemuk. Betah kayanya dia ada teman di sana."
"Kayanya emang butuh teman BinBin, Bang. Biar nggak diam-diam keluar terus main sama kucing liar. Nanti berantem lagi, luka-luka lagi."
Dihyan mengangguk menyetujui ucapan Adrian. "Emang sih, Yan. Mana tuh kucing badan doang yang gede tapi nggak bisa tengkar."
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
Fiksi Umum" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
