22 September
14:00 WIB
Adrian serta Nindhy keluar dari dalam kediaman keluarga Nindhy setelah sekali lagi izin membawa Nindhy dan berpamitan untuk segera berangkat ke Semarang. Keduanya berjalan bersama menuju mobil Adrian yang terparkir di halaman depan.
Saat sudah sampai, Adrian dengan sigap membuka pintu samping kemudi untuk Nindhy. Lalu mempersilahkan Nindhy yang betulan cantik siang ini. Dress di bawah lutut yang dipakai Nindhy senada dengan seragam pesiar yang melekat di tubuh tegapnya. Hal itu membuat Adrian bertambah senang karena mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang sudah merencanakan pakaian yang akan mereka kenakan.
"Kamu mau sampai kapan di situ, Adrian? Tutup pintunya, panas loh."
Adrian yang tidak sadar melamun itu sadar lagi. Ia terkekeh malu. Cantiknya Nindhy mengalihkan dunia Adrian.
"Kamu cantik banget, Nin. Udah siap ketemu camer kayanya ya?" Adrian menggoda Nindhy. Ia yang sudah duduk di balik kemudi mecondongkan tubuhnya ke arah tempat Nindhy.
"Coba dong mujinya yang bener. Muji aja jangan kasih embel-embel lain."
Semalam Nindhy sudah mengultimatum dirinya agar tetap biasa saja di depan Adrian. Ia lupakan ucapan Aksa. Karena kalau diingat, ia jadi sakit hati. Adrian memang suka membuat ia terluka tanpa disadari.
"Kamu cantik, Nin."
"Oke, makasih pujiannya!"
Adrian terkekeh mendapat balasan yang kelewat biasa saja. Tumbenan Nindhy lurus saja.
"Kita jalan sekarang. Seatbeltnya pakai dulu, Nindhy." Adrian kembali menoleh untuk memeriksa. "Udah?" tanyanya.
"Udah." Nindhy mengangguk.
Adrian menarik pedal gas. Perlahan mobil melaju dalam kecepatan sedang keluar dari halaman rumah Nindhy. Saat sudah berada di jalan besar dan bergabung dengan kendaraan lain, Adrian sedikit menambah laju mobilnya. Tujuan mereka jauh jadi harus mengefensiasi waktu yang ada. Supaya sampai tepat waktu.
"Kado dari saya udah kamu bukan belum, Nin?" tanya Adrian membuka obrolan agar tidak sepi-sepi amat.
"Belum sempat aku buka. Isinya nggak yang aneh-aneh kan? Awas ya kalau aku buka terus isinya aneh. Ntar aku balikin ke kamu."
"Makanya buka dulu, cantik." Adrian mengedipkan satu matanya.
"Ntar deh pulang dari sini. Nggak aneh-aneh kan isinya?"
"Nggak, Nindhy. Kamu pasti suka." Nindhy mengangguk. Suasana jadi hening lagi. Sebelum Nindhy kembali bersuara.
"Kenapa kamu pakai rahasia-rahasiaan sih, Adrian? Kemarin kamu minta izin bawa aku ikut rayain ultah Bunda kamu kan? Padahal tinggal ngomong aja deh tapi kamu malah sengaja banget sampai bikin aku kesel kemarin."
"Kan saya udah pernah bilang juga kalau lihat muka kamu yang judes itu saya suka. Gemesin, Nin. Ditambah kemarin kamu pakai bandana jadi tambah imut."
"Gombal lagi ujungnya," sahut Nindhy.
"Capek banget dituduh gombal mulu. Padahal saya serius loh." Adrian melirik Nindhy. "Biar kamu percaya gimana caranya, Nin?" tanyanya kemudian.
"Nggak tau." Nindhy mengedikkan bahunya. Sejujurnya ia juga bingung. Entah Adrian harus seperti apa di depannya.
Adrian membuka dashboard depan Nindhy. Di sana ada beberapa snack yang sengaja ia simpan untuk hari ini. Pun ada beberapa minuman kemasan juga. Ia tidak mau membuat Nindhy bosan dalam perjalanan ini.
"Biar nggak bosan, Nin. Makan aja. Atau kamu mau nyalain musik?" tawar Adrian. Sangat berusaha membuat Nindhy nyaman.
"Boleh," sahutnya. "Pakai playlist kamu aja. Punya aku lagi random banget."
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
General Fiction" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
