Still, San! - Chapter 33

1.4K 69 17
                                        

Hari masih pagi ketika seorang gadis tampak sibuk dengan semua bahan-bahan dapur. Gadis itu Nindhy, si cantik kesayangan taruna still bernama Adrian. Adrian akan datang menjelang siang nanti. Ldr end. Mereka akan kembali bertemu setelah sebulan menjalani hubungan jarak jauh. Untuk menyambutnya, Nindhy ingin memasakkan beberapa makanan kesukaan Adrian.

Saat ini Nindhy berada di rumah Tante dari pihak ibunya. Masih di Jogja. Dulu saat ia dinyatakan diterima di kampusnya sekarang, Tante Dina, menawarkan agar Nindhy tidak perlu menyewa kos dan tinggal di rumahnya saja. Namun, Nindhy menolak. Ia ingin mandiri. Meski menolak, sesekali Nindhy mengunjungi rumah Tantenya ini.

Hampir seluruh keluarga besarnya juga sudah tahu ia memiliki seorang pacar taruna. Tak terkecuali Tante Dina yang kediamannya sering dijadikan tempat pertemuan Nindhy dan Adrian. Termasuk hari ini, Nindhy bahkan menggunakan dapurnya untuk memasak. Kebetulan juga hari ini, Ibunya juga sedang berkunjung. Jadi Nindhy bisa meminta Ibunya untuk mengoreksi rasa masakannya sebelum dihidangkan untuk Adrian.

"Gimana, Bu? Udah pas belum?"

"Tambahin garam sedikit lagi, Nak. Sejumput aja."

Nindhy mengikuti instruksi sang Ibu. Ia membuka wadah garam dan mengambilnya sejumput. Lalu memasukkan ke dalam panci berisi sayur asem. Nindhy kemudian mengaduk untuk melarutkan garam yang ia masukkan.

"Nah ini udah pas, sayang, seger. Pinter kamu."

Nindhy menahan senyum. "Makasih ibu." Ia memeluk Asmarini sayang.

"Masaknya sambil peluk-pelukan ya ternyata." Tante Dina datang dan ikut melihat sayur asem yang sedang Nindhy masak. "Keliatan seger banget. Tante dikasih coba nggak masakan kamu, Nin."

"Iya dong, Tante. Ini nggak semuanya buat Bang Ian. Nanti aku bagi buat Tante sama Ibu. Om Arda juga."

"Om Arda nggak usah dihitung, Nin, dia pulangnya sore. Kalau udah main badminton dia sering lupa waktu. Lupa anak istri juga."

Nindhy dan Asmarini terkekeh menanggapi curhatan Tante Dina.

***

"Siapa ini yang datang, siapa ini??"

Adrian membalikkan badan. Tatapannya langsung bertemu dengan wajah cantik Nindhy yang baru membukakan pintu. Tanpa banyak bicara, Adrian segera memeluk Nindhy dan menggoyangkan pelukan mereka.

Nindhy terkekeh dalam pelukan hangat yang telah absen satu bulan ini. Pelukan hangat untuk pertemuan yang sudah dinantikan. Ia menghirup rakus aroma wangi parfum Adrian.

"Kangen banget sama kamu, cinta," jujur Adrian mengusap sayang rambut Nindhy. Satu tangannya memeluk pinggang Nindhy possesif.

"Aku juga. Kangennya banget banget banget!"

Kekehan kecil Adrian menyapa telinga Nindhy. "Banyak ya bangetnya."

"Heem ..." Nindhy menyahut pendek. Ia mengurai pelukan mereka. "Nunduk sedikit dong kamu. Aku mau bisikin sesuatu."

Adrian mengacak puncak kepala Nindhy sebelum melakukan apa yang gadisnya minta.

Nindhy mendekatkan wajah ke telinga kanan Adrian. Ia berbisik kecil nan halus. "Welcome back home, sayang. I miss you and I still love, love, love you. Aku sayang banget, banget, banget sama Bang Ian. Terimakasih udah kembali."

Adrian tersenyum sampai matanya menyipit. "Terimakasih, sudah jadi tempat pulang, sayang. I still love you too."

Mereka kembali menyatu dalam pelukan hangat yang selalu sama rasanya, hangat dan menenangkan. Rasa-rasanya mereka tidak puas hanya dengan satu pelukan dalam satu pertemuan.

Still, San!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang