Jum'at malam pukul 23:00 WIB.
Mayor satu taruna Adrian menggelar koper di lantai ruang kamarnya. Beberapa potong pakaian yang didominasi kaos olahraga berserakan di atas tempat tidur. Ada juga peralatan mandi, perlengkapan sholat, sepatu dan barang lainnya yang hendak dimasukkan ke dalam koper. Adrian sedang menyortir barang yang akan dibawa saat latsitarda nanti sesuai list yang telah diberikan.
Dia tidak sendiri, ada seorang Sersan yang ia suruh datang dari jam sepuluh malam untuk membantunya. Sersan itu gesit ke sana kemari mengambil barang yang ditunjuk Adrian lalu memasukkan ke koper sesuai perintah si senior yang santai duduk di tempat tidur. Kerja bagus. Tidak salah Adrian menyayangi Sersan itu daripada adik asuhnya yang lain.
"Odolnya, San, udah masuk belum?"
Sersan yang bernama Yudhis tersebut langsung mengecek isi tas alat mandi seniornya.
"Ada, Mayor."
"Sip. Masukin ke koper."
Kegiatan itu berlangsung hingga setengah dua belas malam. Semua kebutuhan Adrian sudah masuk dan ditata super rapi di dalam koper. Sersan Yudhis kemudian menutup koper tersebut dan meletakkan di dekat lemari Adrian.
"Kenapa, San?" tanya Adrian saat Sersan Yudhis menatap lama barang yang tersisa di meja miliknya.
"Siap, tidak, Mayor!"
"Besok ada rencana pergi ke mana, San?"
"Paling jalan-jalan di sinian aja, Mayor bareng Sersan Angga dan Sersan Dio." Sersan Yudhis berdiri di hadapan Adrian dengan sikap siap. Sepertinya seniornya tersebut belum memperbolehkan ia kembali ke kamarnya sendiri.
"Batalin, Deksuh. Besok kamu ikut saya ke Jogja!"
"Siap, Kasuh!"
Bagi junior sepertinya, memang pantang menolak perintah senior. Apapun yang diminta senior, senyeleneh apapun, para junior hanya memiliki satu jawaban yaitu siap.
"Oke, San. Makasih sudah bantuin saya. Ambil itu jam tangan yang bikin kamu ngiler tadi," ucap Adrian melirik dua jam yang tergeletak di mejanya.
"Mayor? Serius nggak ini?"
"Ambil, San, sebelum saya berubah pikiran!"
Tanpa dikomando lagi, Sersan Yudhis secepat kilat mengambil salah satu jam yang menarik matanya saat tadi meletakkan koper Adrian. Senyumnya langsung merekah. Ia cengengesan sangking senangnya ketiban durian runtuh. Tidak sia-sia dia menahan kantuk untuk melakukan perintah senior sebelumnya. Kalau tiap diperintah dapat jam tangan bermerk sih Sersan Yudhis mau-mau saja dimintai tolong terus menerus.
"Mana lihat kamu ambil yang mana?" Dengan gerakan kepalanya Adrian menyuruh Sersan Yudhis membuka kepalan kedua tangan yang menyembunyikan jam yang ia ambil.
Kedua tangan Sersan Yudhis membuka lalu terlihatlah jam tangan yang ia ambil. Adrian mendekatkan wajah untuk meneliti lebih jauh jam yang diinginkan Sersan Yudhis. Terus dilihat, lamat dan lama. Mata Adrian langsung melotot. Ia menatap horor Sersan Yudhis.
"Balikin, San. Ambil yang satunya aja."
Dahi Sersan Yudhis mengerut bingung. "Kenapa, Mayor?"
"Jam tangan itu kado dari rekanita saya, San! Masa mau kamu ambil ntar kalau rekanita saya tahu apa nggak diamuk sayanya."
"Mohon maaf, Mayor, saya nggak tau. Mohon maaf sekali." Sersan Yudhis langsung mengembalikan di tempat yang sama. Lalu ia ambil satu jam lainnya.
"Yang kamu ambil sekarang, merknya sama kaya tadi cuma itu saya beli sendiri. Walaupun model dan harganya hampir sama, buat saya yang dikasih rekanita saya lebih-lebih spesial dan istimewa. Kalau lagi pakai jam dari rekanita saya itu, San, rasanya semangat dan energi saya nggak habis mau secapek apapun kegiatannya. The power of love, San. Nanti kamu jadi tamu VIP, San di nikahan saya sama rekanita saya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Still, San!
General Fiction" ... pacarnya ngambekan, mending sama saya aja, Dek. Taruna loh saya, ganteng, gagah ... kurang apalagi coba?" "Taruna? Iiyeuhh ... sorry nggak minat!" tandas gadis yang dikenal paling ilfeel sama taruna/tentara/polisi/abdinegara. "Alah sok-sokan...
