Part. 45

7.9K 484 37
                                        


Jam pelajaran sekolah yang telah usai, membuat Alvan langsung bergegas pergi atas prihal yang akan ia kerjakan, membuat ia tak bergeming ketika sautan ataupun panggilan menyapa dirinya. Berjalan lurus tanpa menghiraukan banyaknya yang berlalu lalang.

"Kebiasaan lo ninggalin gua" ucap Leo yang kini sudah berada di sisi kanan Alvan dan Revan berada sisi kirinya.

"Padahal ada Revan" jawabnya.

"Gak mau tau gua ikut lo"

"Lo gak bawa motor sendiri?"

Leo menggeleng cepat "engga, males nyetir" jawabnya.

Alvan hanya mangangkat kedua bahunya sebagai jawaban, hingga ia sampai di tempat parkiran, menaiki sepeda motornya tiba-tiba seseorang menyekal lengan Alvan yang membuat dia menoleh ke arahnya.

"Apa kamu ingin melupakan abangmu ini juga Alvan?" Tanya Virly yang seolah tak suka dengan sikap Alvan yang lebih acuh dari biasanya.

"Lo kan emang pantes di lupain" celetuk Leo.

"Gua gak ngomong sama lo ya panu badak"  sarkas Virly

"Kutil kuda kaya lo apa sih yang mau di arepin? Madesu ke gitu juga"

Virly mengernyit bingung "madesu?"

"Masa depan suram"

Plak.!!

"Sembarangan ya congor lo!!"

Leo mengelus kepalanya yang di geplak oleh Virly "sakit babi, kalo gua geger otak terus lupa ingatan gimana?"

"Bagus dong, karena otak lo kan emang perlu di perbarui"

Plak.!!

"Congor nya..."

Alvan hanya memutar bola matanya malas lalu memakai helmnya " jadi ikut gk lo?" Tanya Alvan pada Leo

Seketika Leo langsung loncat dan duduk ke kursi belakang motor "Gass"

"Alvan"

"Kalo udh waktunya gua ke sana" jawabnya dan berlalu pergi.

Sedangkan Virly masih merasa bimbang, entah kenapa melihat Alvan menjauh seperti itu ia merasa tak suka apalagi semenjak ia tau kebenarannya dan para sodara sepupunya menyesali dari perbuatan mereka itu membuat Alvan lebih jauh darinya dan itu juga menjadi akar benih membuat dia membenci seluruh keluarganya.

"Sudahlah biarkan dia dulu, kalo udh waktunya dia juga balik sama lo" ucap Revan dan berlenggang pergi menuju motor sport nya dan berlalu pergi dari area sekolah menyusul Alvan.

"Vir..!!"

Virly menoleh ke arah sumber suara yang ternyata kakannya Tiana yang kini bersama dengan Dion.

Virly memutar bola matanya malas lalu berlenggang pergi menuju motor sport nya, namun Tiana lebih dulu mencekal tangannya hingga membuat pergerakan Virly terhenti.

Menatap sinis "apa?"

"Samapai kapan kamu seperti itu sama kakak?"

Virly menatap meremehkan "masih nanya?"

"Vir"

"Apa lo bisa bikin Alvan kembali?"

"Virly gua tau gimana perasaan lo tapi tolong ngertiin kita juga, gue tau-"

"Lo gak akan tau apa-apa Tiana" potong Virly "karena lo termasuk salah satu yang menbuat Alvan muak dengan keluarganya sendiri" sarkas Virly.

"Virly.!!" Tekan Dion.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang