Asep dan Jennie jalan bergandengan tangan memasuki sebuah gedung yang dijadikan tempat wisuda Acep. Ya, hari ini si sulung Syarifuddin itu lulus dari SMK 1 Bighit. Jika dulu Asep dan Jennie hanya datang sebagai orang tua Acep saja, maka sekarang keduanya juga hadir sebagai salah satu donatur di yayasan.
"Sep!"
Langkah Asep dan Jennie terhenti saat melihat kedatangan Kai-Lilis serta Jimi-Iros.
"Eh Man, Jim"
"Kamu duduk dimana Sep?"--Jimi
" Harusnya di kursi para donatur, tapi saya mau duduk di barisan orang tua siswa aja"
"Bagus, biar trio AJK gak mencar, kuy!" Kai merangkul Asep dan Jimi kemudian mencari tempat duduk. Sedangkan para istri yang ditinggalkan memutar matanya malas.
"Yaudahlah kita juga jangan mau kalah, trio JIL" Kini Lilis yang merangkul bahu kedua sahabatnya.
"Duh, udah lama banget iros gak denger julukan kita Teh" Celetuk yang paling muda.
"Nah iyakan? Makanya kita duduk di meja bertiga aja, gak usah gabung sama bapak-bapak"--Lilis
" Kalo kayak gini kita berasa balik ke jaman gadis ya Lis" Timpal Jennie
Karena posisi duduk diaula gedung tersebut seperti di acara pesta. Yaitu satu meja diperuntukkan untuk 4 orang. Trio AJK dan trio JIL memilih duduk berpisah dengan pasangan masing-masing. Dan mereka juga tidak mengizinkan orang lain bergabung dan cukup hanya 3 orang saja. Tak apa, toh meja disini banyak yang belum terisi, karena sebagian siswa hanya di dampingi oleh ibu atau ayahnya saja.
"Gak nyangka ya anak kita udah lulus SMK aja, padahal berasa baru kemaren kita ke posyandu bareng-bareng sambil gendong mereka" Ucap Jennie.
"Bener banget, gue masih inget Jen, waktu kita lagi hamil tua. Tapi lakik kita malah sibuk skripsian"
"Sumpah, kalo inget bikin kesel aja. Mana A Asep ditaksir mahasiswi di sana. Kalo gak inget lagi hamil Acep, udah gue jambak tuh cwek kecentilan!" Jelas Jennie menggebu-gebu.
"Kalo Iros ingetnya waktu Kang Jimi pingsan pas nemenin Iros lahiran Jian eheheh"
"Kalo flashback gini tuh seru ya. Dipikir-pikir kok bisa dulu kita suka sama trio AJK?" Lilis menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Kalo gue sih karena A Asep cakep, mana baik lagi. Inget dulu gue pernah gedek ama bininya si Juki gara-gara nempelin A Asep"
Lilis yang mendengar itu langsung menatap Jennie datar "Bini si Juki itu adek gw btw"
"Lah iya anjir, gue lupa kalo Erna adek lo Lis eheheh"
"Iya gapapa"
"Tapi menurut gue, perjuangan mereka dapetin kita tuh gak maen-maen ya. Terutama A Karman, gile perjuangan dia dapetin lo Lis"
Lilis tersenyum simpul mengingat bagaimana kerasnya perjuangan Kai mendapatkannya. Dulu ia sekolah di kota bersama Jennie, sedangkan Kai di kampung. Tapi pemuda itu tak pernah lelah menunggunya. Mereka bertemu 6 bulan sekali jika lilis libur semester. Itupun Lilis tidak pernah menanggapi bahkan sering mengusir Kai pergi. Namun saat Jennie datang ke Nangka Runtuh, ia jadi lebih dekat dengan Kai karena sering diajak maen bareng oleh Jennie-Asep. Belum lagi moment lucu dimana Kai menyatakan perasaannya pada Lilis di lapangan setelah pertandingan sepak bola tim Asep lawan tim Danil. Lilis tak habis pikir jika mengingat moment itu.
Puncaknya, dan mungkin moment paling menyakitkan untuk Kai adalah saat Lilis kuliah di Yogyakarta dan tidak pulang selama 2 tahun. Mereka lost kontak, karena saat itu Kai belum punya ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Asep Family"
FanfictionLanjutan kisah Asep dan Jennie di babak yang baru. Ingin melihat CEO perusahaan besar nyangkul disawah? Cuma Asep jawabannya. Dan bagaimanakah keseharian Jennie setelah pensiun dagang seblak? Serta tidak ketinggalan keseruan trio A.J.K dengan kelu...
