Mendengar nama Hesa disebut-sebut, Acep dan Jian saling tatap sebelum keduanya beralih menatap yang paling muda. Acep mencengkram bahu Ram erat sedangkan si sulung Abdullah itu belum berani menatap mata sahabatnya.
"Ram lihat saya... "
Ram menggeleng, "Ramdani Abdullah"
Setelah nama panjangnya disebut, Ram pun terpaksa mendongak, menatap mata Acep yang kini menajam. Ram tau, jika Acep sudah memanggil nama lengkapnya berarti remaja itu sedang marah.
"Jelasin sama saya apa yang terjadi, sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya. Sebelum tangan saya sendiri yang buat kamu babak belur dan saya seret kamu kehadapan bapak sama mama Lilis, kalo seandainya apa yang ada dipikiran saya terbukti benar"
Jian tidak berkutik, ia hanya diam melihat Acep yang menahan amarahnya dan Ram yang terlihat berantakan. Ia juga kacau sebenarnya, ia takut, takut jika Ram melakukan kesalahan fatal yang akan merusak masa depannya sendiri.
"Saya sama Teh Windi.... "
.
.
.
Windi speechless melihat bentuk tubuh Ram yang bertelanjang dada. Tak pernah terbayang dalam benaknya jika kekasihnya itu memiliki tubuh yang bagus. Terlihat kokoh dengan otot perut yang terbentuk samar, ditambah kulit agak tan nya yang membuat remaja bongsor dan tampan itu semakin menawan. Sial, ia jadi menginginkan hal lebih.
"R-Ram... "
Ram sudah kehilangan kontrol dirinya. Kini yang ada dipikirannya hanya memuaskan sesuatu dalam dirinya yang meluap-luap. Apalagi sosok gadis di depannya itu sedari tadi tak henti menggoda dan memancingnya agar berbuat lebih.
Kecupan demi kecupan Ram daratkan di leher jenjang gadisnya sembari tangannya berusaha membuka kancing kemeja milik Windi. Namun, baru sampai di kancing ketiga kesadaran Ram kembali saat ia mendengar nada dering ponselnya yang terus-terusan berbunyi.
Ram mundur dengan panik, ia bahkan tak memperhatikan langkahnya hingga jatuh dari atas ranjang. Windi yang terkejut berniat menghampiri namun yang ada kekasihnya itu malah beringsut mundur.
"J-jangan mendekat!"
"Ram.... "
Mata bulat Ram mengedar ke sekeliling, jantungnya serasa berhenti berdetak ketika ia baru sadar tengah berada di dalam kamar bernuansa pink yang pasti milik kekasihnya. Ram tatap Windi yang terlihat berantakan, surai gadis itu kusut, begitupun dengan pakaian atasnya yang terlepas beberapa kancing dan melorot hingga menampakkan leher jenjang dan bahu putih mulusnya. Sedangkan ia, kini sudah bertelanjang dada.
"T-Teh m-maaf Ram--"
"Hey, sayang gapapa. Kita sama-sama maukan? Toh aku percaya sama kamu.. " Windi jalan mendekat kearah Ram yang duduk di lantai, kemudian ia peluk tubuh besar kekasihnya itu.
"Sebentar lagi kamu bakal ninggalin aku jauh, jadi aku mau benar-benar terikat sama kamu. Aku mau milikin kamu seutuhnya, begitu pun sebaliknya."
.
.
.
"Kamu nganu sama Windi Ram?" Tanya Jian, kini ketiganya sudah berada di ruang tamu rumah Acep, mendengarkan penjelasan dari si sulung Abdullah.
"Hampir, dia bilang dia percaya sama saya. Dan dengan ngelakuin hal itu hubungan kita juga bakal makin erat."
.
.
.
"Iya, hubungan kita bakal makin erat karena abis itu teteh hamil anak Ram, terus kita dinikahin secara paksa kayak Teh Karina sama bang Hesa. Teteh mau kayak gitu?!"
Windi terdiam, entah kenapa ucapan Ram bukannya membuat ia sadar, malah membuatnya kesal.
"Jangan lebai Ram! Kita ngelakuin itu sekali belum tentu jadi, lagian buat apa ada yang namanya pengaman?"
KAMU SEDANG MEMBACA
"Asep Family"
FanfictionLanjutan kisah Asep dan Jennie di babak yang baru. Ingin melihat CEO perusahaan besar nyangkul disawah? Cuma Asep jawabannya. Dan bagaimanakah keseharian Jennie setelah pensiun dagang seblak? Serta tidak ketinggalan keseruan trio A.J.K dengan kelu...
