"Bonus(Im[Perfect]"

239 19 24
                                        



"Itu istrinya pak manager sekaligus menantunya bos besarkan?"

"Iya, dia yang pengacara itu"

"Cantik sih, pinter, dan kariernya juga bagus, tapi buat apa kalo gak bisa jadi istri yang bener"

"Denger-denger katanya dia belum punya anak karena terlalu sibuk ngejar karir"

"Kasian ya pak manager dapat istri model gitu, padahal kan nanti kalo pak manager gantiin bos besar harus udah punya keturunan buat nerusin perusahaan"

Yeji menghela nafas dan tetap berjalan lurus menuju ruangan milik suaminya tanpa mendengarkan cibiran dari 3 pegawai wanita itu. Sudah bukan hal aneh lagi, ia sering menjadi bahan gosip hanya karena belum mempunyai seorang anak.

Tok... Tok... Tok...

Yeji mengetuk pintu ruangan tersebut kemudian masuk setelah sosok di dalam sana menyuruhnya masuk. Saat masuk Yeji langsung disambut senyuman tampan suaminya yang tengah duduk di depan laptop dengan berbagai kertas berserakan diatas meja.

"Makan siang dulu A" Ucapnya kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut dan menaruh makanan yang dibawanya ke atas meja.

"Tumben kesini pas jam makan siang, emang gak sibuk?"

"Enggak, udah ayok cepet makan sebelum jam istirahat abis"

Acep mengangguk dan segera menghampiri pengacara cantik dan berprestasi itu.

"A, tadi Umi chat aku katanya ntar malem kita disuruh kerumah utama"

Acep mengangguk disela makannya "Iya, tadi juga Abi bilang gitu pas abis rapat"

"Emang mau ada acara apa A?"

"Umi gak cerita emang?" Yeji menggeleng

"Umi mau nyambut kepulangan Minji sama Niki dari Jepang"

......

Malamnya, Acep dan Yeji segera datang ke kediaman utama keluarga Syarifuddin dimana Asep, Jennie, Zam dan si kembar tinggal. Dan sesampainya disana suasana rumah sudah ramai karena ibu mertua Yeji itu juga mengundang keluarga Abdullah dan Jaenudin beserta anak cucu mereka.

"Ayahhhhh!"

"Ayaahhh!"

Acep yang baru masuk kedalam rumah diikuti Yeji langsung terkekeh saat 2 balita perempuan berusia 4 tahun berlari dan memeluk kakinya.

"Seneng banget yang ketemu ayah, ampe Daddynya sendiri ditinggalin"

"Tau tuh, Luna seketika lupa sama Babapnya"

Acep jongkok tanpa menghiraukan celotehan kedua sahabatnya. Ia mengusak surai kedua gadis kecil itu dan mengecup kening mereka satu-satu.
"Rahel sama Luna kangen ayah ya?"

"Iya Una kangen ayah!"

"Ahel juga!"

Aluna Dara Jaenudin dan Rahel Yuniar Abdullah, putri kecil Jian-Winter dan Ram-Windi yang usianya hanya terpaut 6 minggu. Sama seperti Jian dan Ram yang memanggil Abi pada Asep, Luna dan Rahel juga memanggil Acep dengan sebutan ayah. Jika melihat si sulung Syarifuddin itu keduanya bahkan tidak menghiraukan kehadiran Daddy Ram, Mommy Windi, Babap Jian dan Ibu Winter yang jelas-jelas orang tua kandung mereka. Banyak yang bilang Acep itu punya daya tarik tersendiri bagi anak-anak, sayangnya si sulung itu belum dikaruniai anak dari pernikahannya yang sudah berjalan 5 tahun.

"Acep... Yeji... "

"Umi!" Acep dan Yeji segera mencium tangan Jennie.

"Seneng banget Umi bisa lihat kalian berdua datang"

"Asep Family"Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang