Bonus(Berangkat Bertiga, Pulang Bertiga)

224 21 24
                                        

Tinggal selama 4 tahun di negri orang bukanlah hal mudah bagi Acep, Jian dan Ram. Apalagi mereka tinggal dinegara yang minoritas muslim. Tentu banyak hal yang harus mereka perhatikan. Perbedaan budaya dan kebiasaan juga menjadi tantangan tersendiri untuk remaja yang saat itu baru berusia 18 tahun, mereka pernah mengalami culture syok saat tahun pertama perkuliahan. Yang paling kontras dari budaya di tanah air dan di sana adalah gaya berpakaian dan pergaulan remajanya.

Acep sebagai yang paling taat dari kedua temannya hampir saja pulang ke tanah air karena merasa tidak nyaman dengan beberapa gadis yang mendekatinya terang-terangan. Tidak di negri sendiri, tidak di negri orang, pesona si sulung Syarifuddin itu memang sangat menarik di mata para kaum hawa. Begitupun dengan Jian dan Ram yang tak jauh berbeda.

Namun sejauh ini ketiganya masih kuat dalam mempertahankan prinsip. Tak ada yang berubah dari ketiganya selain fisik yang semakin menawan dan gaya yang lebih trendy. Bahkan kini Jian mengecat surainya menjadi blonde, sedangkan Ram memanjangkan surainya hingga tampak seperti pemuda Jepang.

Untungnya perjuangan mereka mengenyam pendidikan di sana tidak sia-sia, karena mereka berhasil menyabet gelar sarjana. Satu minggu yang lalu mereka wisuda bersama setelah mengalami bulan-bulan neraka dalam menyusun skripsi, sidang dan lain-lain. Asep, Jennie, Kai, Lilis, Jimi dan Iros bahkan sengaja terbang dari Indonesia ke London untuk mendampingi kelulusan putra sulung mereka, dan keesokan harinya mereka sudah harus pulang kembali karena  pekerjaan para suami yang tidak bisa ditinggal lama-lama.

Sementara trio AJR akan ikut pulang beberapa hari lagi. Para pemuda berusia 22 tahun itu masih ingin menikmati kota London sebelum akhirnya kembali ke tanah air setelah sekian lama.

"Cep... " Panggil Jian pada Acep yang tengah menyicil baju untuk dimasukan ke dalam koper.

"Apa?"

"Nanti malam mau datang gak ke pesta ulang tahunnya Alexa?"

"Engga. Kitakan udah sepakat dari awal buat ngehindarin acara kayak gitu"

"Tapi ini Alexa loh Cep, partner belajar kamu. Lagian ini kesempatan terakhir kita sebelum pulang. Bisa kali dateng, jujur saya penasaran sama pesta ala bule" Bujuk Jian

"Acep mana mau datang ketempat penuh dosa kayak gitu Yan" Timpal Ram yang baru saja selesai mandi.

"Ah kamumah gak asik Cep, harusnya kamu kuliah di kampusnya Kang Sobin aja di Mesir"

Acep menghela nafas kemudian mengangguk.

"Yaudah ayok, tapi janji sama saya, kalian jangan aneh-aneh disana. Jangan minum atau makan apapun, kita datang ngasih kado, ngucapin selamat terus pulang, gimana?"

"Oke, yang penting saya gak penasaran lagi eheheh" Jian cengengesan.

Malamnya, ketiga pemuda itu benar-benar datang ke pesta ulang tahun teman mereka yang bernama Alexa. Pesta itu diadakan di sebuah club malam. Dan baru saja sampai di depan pintu masuk, ketiga pemuda itu hampir putar balik, sebelum teman mereka yang lain menyeretnya masuk.

"Ham, kamu datang?" Alexa terkejut melihat kehadiran Acep di pestanya. Karena perempuan cantik berdarah Swedia-Bali itu tau betul bagaimana sifat Acep atau yang biasa dipanggil Ilham dan teman-temannya.

"Hmmm, dipaksa Jian. Oh iya, selamat ulang tahun ya Lexa" Alexa tersenyum dan menerima kado dari Acep.

"Thanks Ham, oh iya kapan kamu pulang ke Indo?"

"2 hari lagi"

"Yahh... kita bakal LDR dong Ham, aku baru bisa pulang ke Indo 3 bulan lagi" Gadis itu merengut sedangkan Acep terkekeh pelan. Dari sekian banyak gadis-gadis yang ada di kampusnya. Hanya Alexa yang membuat Acep nyaman, selain karena gadis itu memiliki darah Indonesia dan menguasai bahasanya, gadis itu juga cerdas, sopan, dan menghargai Acep dan teman-temannya yang berbeda keyakinan dengan gadis tersebut.

"Asep Family"Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang