4 Tahun kemudian.....
Seorang gadis cantik berusia 24 tahun nampak terduduk lesu diatas ranjangnya sembari menggenggam sebuah jaket. Jaket tersebut bukan jaket sembarangan, melainkan jaket milik seseorang yang ia cintai. Sosok yang tidak pernah ia temui lagi setelah kepergiannya 6 tahun lalu. Bahkan 1 tahun ini mereka lost kontak, ia tak tau kenapa sosok itu menghilang tanpa kejelasan. Apa ia sudah menemukan pengganti dirinya?
"Apa gue harus nyerah nunggu lo balik Bin?" Ucapnya diikuti tetesan air mata yang jatuh membasahi jaket milik sosok yang istimewa dalam hidupnya itu.
"Gue tau, lo pernah bilang ke gue buat jangan nunggu lo. Tapi gue tetep keukeuh mau nunggu lo. Gue tau, gue yang salah disini karena terlalu berharap sama lo Bin. Tapi gue harus apa kalo gue cintanya cuma sama lo? Hampir 10 tahun gue suka sama lo Bin, bahkan lo tinggal 5 tahun LDR terus 1 tahun lost kontrak aja gue masih tetep suka, gue harus apa Bin?"
"Nomor lo tiba-tiba gak aktif, bahkan keluarga lo aja susah buat dihubungin. Dan itu bikin gue gak bisa nolak lamaran cwok lain Bin, gue udah gak punya alasan lagi. Apa ini saatnya gue ikhlasin lo? Kalo emang iya, maaf ya Bin, gue harap lo bisa dapet seseorang yang lebih baik dari gue" Setelah mengucapkan hal itu Lia langsung menangis tersedu sembari memeluk jaket Sobin yang pemiliknya berikan saat dibandara 6 tahun lalu.
Sedikit kilas balik tentang Lia, gadis cantik putri dari Siti dan Jejen itu sudah menetap di kampung halamannya dari satu tahun lalu, tepatnya saat Sobin menghilang. Lia yang sudah lulus dari bangku perkuliahan dibuat khawatir dan kecewa saat kekasihnya itu hilang kontak. Hal itu membuat Jejen langsung menjemput putrinya dan menyuruhnya untuk tinggal di Nangka Runtuh.
3 bulan setelah peristiwa tersebut, Lia mulai bangkit dan akhirnya melamar sebagai guru Bahasa Indonesia di SMA tempatnya sekolahnya dulu. Ia kembali ceria meskipun hatinya masih belum sembuh dan belum bisa melupakan Sobin.
Lia dikenal ramah dan menjadi idola murid-muridnya. Bahkan beberapa guru muda dan pemuda disana tertarik pada kakak sepupu Acep tersebut. Tak jarang dari mereka nekat datang menghadap Jejen untuk melamar putri dari kepala desa Bangtan Asri itu, namun selalu berujung penolakan. Tapi kali ini, bertepatan dengan lamaran ke 7, Lia sudah tidak bisa menolak lagi. Apalagi sang kakek, Ramdan, pernah menasehatinya, untuk tidak menolak lamaran seseorang sampai berkali-kali. Bukannya apa, tapi di daerah Lia banyak yang percaya jika seorang gadis menolak lamaran laki-laki berkali-kali nantinya akan sulit jodoh.
Tok... Tok... Tok...
Pintu kamar Lia diketuk, dan tak lama kemudian muncul Siti yang langsung berjalan tergesa dan memeluk erat putrinya yang terlihat berantakan itu.
"Ma hiks... hiks... L-Lia cuma suka sama Sobin, Lia cintanya sama Sobin, bukan yang lain hiks.. hiks.. "
"Suuttt... Iya sayang mama tau, tapi bapak kamu udah terlanjur nerima lamaran yang sekarang. Mama gak bisa berbuat apa-apa. Kamu berusaha ikhlas aja ya nak, mama percaya kok sama calon kamu yang ini, kalo dia bisa buat kamu bahagia"
"Gak mau Ma, Lia mau kabur aja"
"Heh, gak boleh gitu. Kalo mau nolak, tolak aja secara baik-baik, jangan kabur-kaburan"
"Loh, tadi kata mama Lia udah gak bisa nolak?"
"Ya memang, tapi buat mama kebahagiaan Lia nomor satu. Mama siap berdiri paling depan buat bela Lia, meskipun itu bakal buat mama berantem sama bapak kamu" Siti tersenyum lembut sembari menghapus air mata putri satu-satunya itu.
"Udah, sekarang kamu cuci muka ya, abis itu turun ke bawah soalnya keluarga calon kamu udah pada datang"
Lia mengangguk kemudian masuk ke kamar mandi yang ada didalam kamarnya. Sedangkan Siti kembali ke ruang tamu untuk menyambut calon besannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
"Asep Family"
FanfictionLanjutan kisah Asep dan Jennie di babak yang baru. Ingin melihat CEO perusahaan besar nyangkul disawah? Cuma Asep jawabannya. Dan bagaimanakah keseharian Jennie setelah pensiun dagang seblak? Serta tidak ketinggalan keseruan trio A.J.K dengan kelu...
