22. Perubahan

8 1 1
                                        

Niat hati menyenangkan diri serta mendinginkan pikiran namun nyatanya malah menambah beban pikiran juga menyiksa diri. Apa yang dilihatnya tadi tentang Sarah cukup membuat perasaan Clarista hancur bahkan sampai dini haripun Clarista tak dapat tidur. Terbukti dengan saat ini, waktu sudah menunjukan pukul 01 pagi namun Clarista tak kunjung tidur. Berbagai cara sudah ia lakukan, makan mie yang sudah ia beli, minum susu hangat juga membaca novel berharap mengundang rasa kantuk datang namun ternyata tidak.

Masih dengan pikiran yang sama, Clarista berdiri di depan jendela kamar sebari memandang langit malam. Sangat indah. Namun sayang tak seindah perasaannya saat ini.

Clarista tak tahu bagaimana perasaannya nanti jikalau pikiran buruknya memang benar terjadi. Sarah menyimpan banyak rahasia yang mungkin akan menyakiti perasaannya. Mengingat akhir-akhir ini Clarista sering kali melihat Sarah terlalu sibuk dengan ponselnya tak seperti biasanya. Mungkin di situlah rahasianya tersimpan.

Tetapi Clarista tak pernah terpikir, apa maksud dan penyebab Sarah bisa melakukan hal itu. Clarista rasa, ia tak pernah berselisih paham dengan Sarah ataupun melakukan hal-hal yang mungkin menyinggung perasaan Sarah.

"Ah gila!" racau Clarista yang sudah mulai pusing dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang ia pikirkan.

Tring!

Ponsel Clarista berbunyi dan Claristapun langsung mengerutkan keningnya heran. Pasalnya ini sudah dini hari, siapa yang akan mengiriminya pesan di waktu seperti ini.

Tak ingin terus menduga-duga, Clarista langsung berjalan ke arah meja rias, di mana ponselnya ia simpan.

"Eh?" pekik Clarista ketika ia membaca nama Elvaro sebagai pengirim pesan.

[Lo belum tidur apa kebangun? Kok 5 menit yang lalu gue lihat lo online?]

Clarista tak langsung membalas. Terlebih dahulu ia terus menatap pesan itu sebari berpikir apakah ia harus membalasnya atau tidak.

Walau ragu, Clarista mulai membuka pesan yang Elvaro kirimkan. Perlahan, tangannya mulai menari di atas layar ponsel guna mengetikkan huruf demi huruf.

[Kepo bngt lo]

Begitulah kira-kira balasan pesan yang Clarista tuliskan. Mungkin terkesan jutek namun Clarista tak ingin terlalu lembut pada Elvaro dengan alasan tak ingin terus menjadi bahan ejekan laki-laki itu.

[Tidur sana! Besok gw jmpt, jam 6 udh hrs siap!]

Lagi-lagi ponsel Clarista kembali berbunyi tanda ada pesan masuk dan dengan pengirim yang sama.

Mata Clarista melotot tajam, bukan ia terkejut karena Elvaro hendak menjemputnya namun karena waktu yang Elvaro sebutkan.

"Mampus, mana bisa gue bangun jam segitu," dumel Clarista.

Tanpa Clarista membalas pesan itu, iapun membantingkan dirinya ke atas tempat tidur berharap ia bisa langsung tertidur lelap.

******

Clarista mendengar suara yang cukup keras masuk ke dalam telinganya. Hal itu cukup membuat Clarista terganggu sampai ia terlihat gelisah .

"Apa sih ini?" racau Clarista sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Suara itu terus berbunyi, semakin lama terdengar semakin kencang masuk ke indra pendengarannya. Perlahan Clarista mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba kembali ke alam sadarnya, berharap suara tadi hanyalah mimpi semata.

"Mimpi apa sih tadi? Berisik banget," gumam Clarista setelah ia berhasil membuka matanya dan merubah posisinya menjadi duduk.

Lagi-lagi suara itu kembali terdengar. Ternyata suara itu nyata, bukan hanya mimpi. Cukup lama Clarista terdiam sampai akhirnya ia sadar bahwa suara itu adalah suara dari ponselnya.

TIPU DAYA CINTA [End]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang