Plak!
"Bajingan!. Apa yang kau lakukan pada anak ku?!!!",
Sungguh kedatangan yang dramatis. Lelaki paruh baya berparas cantik muncul dengan gejolak marah. Wajahnya basah oleh air mata dengan mimik penuh kebencian.
"Winwin tenang...",
Taeyong memeluk Winwin dari belakang berusaha menenangkan hati sang sahabat.
Sregh!
Winwin menepis kasar, menilik tajam menetapkan permusuhan di antara mereka.
"Pergi!",
"Win-",
"Ku bilang pergi!",
"Bunda..., aku mohon!",
"Berhenti memanggil ku seperti itu, menjijikkan!",
Taeyong sedikit kaget dengan ucapan Winwin. Hatinya sedikit panas dan tidak terima Mark direndahkan seperti itu. Di lain sisi ia juga sadar bahwa anaknya salah jadi lebih memilih untuk bungkam.
"Tolong biarkan aku di sini, setidaknya menjelang tahu kondisi Jeno...",
Mark benar-benar memohon. Hatinya berkecamuk cemas hingga tidak mampu berbicara banyak. Di dalam benaknya hanya ada Jeno dan tentang apa yang telah dia lakukan padanya.
"Aunty..., biarkan si brengsek ini bertanggung jawab atas perbuatannya!",
"Ingat, Jeno sedang bertaruh nyawa sekarang!",
Hyunjin berusaha membujuk meski dari tadi tangannya terus mengepal ingin memukul bajingan biadab di hadapannya ini. Namun ia tahu sekarang bukan waktunya emosi, Jeno lebih penting.
Hati seorang ibu yang awalnya sekeras batu sedikit melembut. Hyunjin menuntunnya duduk di kursi tunggu pasien.
Mark yang selalu menatap Hyunjin penuh kebencian sekarang malah sebaliknya. Sirat terimakasih terlalu kentara di pancaran netranya. Beruntung pria itu sedikit membantunya saat ini.
Hiks...
"Aunty..., tenang. Jeno pasti kuat!",
Hyunjin berusaha menenangkan Winwin yang sejak tadi terus menangisi putra cantiknya. Meski hatinya sendiri tak karuan menunggu kabar Jeno.
Taeyong pun terlihat murung, duduk dekat mereka namun sedikit memberi jarak. Tahu Winwin sangat sensitif saat ini.
Sementara Mark meringkuk di lantai dingin, bersandar pada pintu ruangan Jeno. Tatapannya kosong namun otaknya penuh hingga rasanya mau pecah. Berdenyut nyeri setiap kali memori kelam itu berputar acak di benaknya.
Menari-nari sengaja menyiksa bajingan brengsek yang tengah meratapi kebodohannya. Senyuman si cantik yang terus melintas semakin mengiris hati. Paras cantik dan tingkah manisnya terngiang-ngiang jelas menyalurkan rasa sakit yang menggerogoti jantungnya.
Rasa takut kehilangan semakin menggunung seiring dengan penyesalan tak berujung seperti akan menenggelamkan dan melenyapkannya.
Mark benci kenapa semua rasa ini baru datang sekarang.
Taeyong menatap pada jarum jam dinding yang terus berjalan. Menyaksikan setiap detik mereka di sini.
Pukul dua dini hari. Sudah lumayan lama mereka menunggu namun tidak ada tanda-tanda dokter akan muncul memberi kabar.
Prihatin melihat kondisi putranya, Taeyong beranjak pergi lalu datang kembali dengan membawa roti dan air mineral.
"Sayang, isi perut mu dulu...!",
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet but Psycho
Sonstiges"Lelah membangun dinding ku, hanya untuk menyaksikan mereka runtuh lagi".... "Cintai Aku atau Biarkan Aku Pergi".... Highest rank on wattpad: #3-markno(01-08-2023) #Markno Boys Love Mark x Jeno Warning!!! Mature Content 21+++++
