39

470 51 21
                                        

Ruangan persegi menjadi saksi bisu keheningan dua sejoli yang sedang berbaring saling membelakangi. Lampu utama yang dimatikan membuat suasana temaram karena cahaya lampu jalanan berusaha mengintip dibalik tirai yang tidak tertutup sempurna, menambah kesan sunyi dan hampa.

Sesekali cahaya kilat menerobos seiring guntur yang saling bersahutan. Perlahan jendela mulai buram karena percikan hujan yang mengembun di sana.

Jederr!!

Si cantik terjengit, menarik selimut sembari meringkuk dengan tubuh sedikit bergetar.

"Sst..., tidurlah. Besok kita akan menemui mommy!".

Mark memeluk tubuh ramping sang kekasih yang ketakutan. Menyalurkan kehangatan lewat lingkaran tangan kekarnya pada pinggang kecil si cantik.

Bisikkan pelan itu bukan memberikan ketenangan. Pikiran berkecamuk yang berusaha diredam kembali memenuhi kepala. Berperang antara logika, hati dan rasa seakan membuat otak kecilnya pecah.

Tenggorokannya tercekik seolah terbelenggu rantai besi tak kasat mata. Lisan tercekat membuatnya seperti menelan duri yang menyiksa diri.

Tes!

Satu bulir bening meluncur sendiri, membuat rongga dada sesak menahan isak.

Set!

Mark membalik tubuh Jeno dan melihat dua kelopa indahnya basah. Menilik pada iris berusaha menerka lewat pancaran netra. Menyelam pada manik kelam yang redup seperti telah lama kehilangan binarnya.

"Mark..., ku mohon akhiri semua ini!",

Akhirnya lisan yang sudah lama tertahan terucap meski hanya terdengar lirihan pelan. Setidaknya sedikit memberi kelegaan.

Rahang Mark mengeras bersamaan dengan maniknya yang menggelap. Memancarkan aura kelam membuat Jeno tenggelam dalam ketakutan.

"Itu tidak semudah yang kau bicarakan!",

Mark bangkit dan menjauh, melangkah ke arah jendela. Menatap pada rintik yang begitu deras.

"Biar aku yang bicara pada mommy...",

Jeno memberanikan diri untuk mendekat meski jantungnya bertalu begitu cepat.

Sregh!

"Akhh!",

"Sekali lagi kau berbicara seperti itu aku benar-benar akan membunuh mu!",

"Ughh, Mark...!",

Jeno mencengkram tangan Mark yang semakin kuat mencekik lehernya. Memejamkan mata, tidak sanggup melawan tatapan Mark yang semakin membuat hatinya perih. Kenapa Mark selalu menatapnya seperti itu. Keras dan tajam seakan membunuhnya.

Bugh!

Mark menghempaskan tangannya hingga membuat Jeno terjerembab.

"Uhhh...",

Meski terasa sakit tapi setidaknya saat ini dia bisa bernafas.

"Tapi aku tetap akan mengakhiri semua ini. Besok aku akan menemui bunda dan mommy!",

Ucapan Jeno membuat langkah Mark terhenti dan berbalik dengan cepat.

Srett!!

Menyeret Jeno dengan kasar dan menghempaskannya ke ranjang.

"Kau benar-benar minta dibunuh rupanya",

Intonasi yang begitu datar membuat Jeno cukup bergetar. Seringai kecil yang terukir membuat Mark terlihat seperti akan menerkam Jeno saat ini.

Sweet but PsychoTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang