Part. 47

7K 368 3
                                        

Tandain kalo ada typo:)
•••••

Motor sport hitam mengkilap perlahan berhenti tepat di parkiran dimana kendaraan lain juga berada.

Alvan kini turun dari kendaraannya dengan Virly yang bersikeras untuk ikut bersamanya, tidak ada alasan untuk Alvan menolaknya, lagipun ini bukan untuk suatu pekerjaan tapi untuk membuat dirinya menghilangkan rasa jenuh atas apa yang sudah di laluinya.

Mencari kesenangan? Ya itu jawabannya.

"Kenapa kesini Al?" Tanya Virly yang kini masih mengikuti langkah Alvan menyusuri area taman yang cukup banyaknya di lalui orang-orang.

"Ikuti ajh kalo penasaran"

"Oh. Ok"

Sedangkan di sisi lain, lima remaja pria itu duduk di bangku yang sudah tersedia di taman yang tak lain adalah, Leo, Revan, Wisnu, Rio dan Deza.

Leo dengan Aromanisnya, Revan dengan Handphone nya, Rio, dengan kripik kentangnya, Wisnu dengan permen lollipopnya dan Deza dengan gerutuannya, wajahnya yang di tempelkan di meja, dengan raut wajah malasnya.

"Kenapa Alvan ngajak kita kesini kalo dianya gak ada?" Racaunya yang melihat tanpa minat dari kesibukan teman-temannya.

Rio mengangkat kedua bahunya "gua juga gak tau" ucapnya lalu menatap ke arah Revan "abang sendiri tau kenapa Alvan nyuruh kita kumpul disini?"

"Katanya dia pengen hangout, tapi gak ekspek bakal ngajak kalian sih" jawab Revan dengan mata yang masih fokus pada layar ponselnya.

Deza beranjak dari duduknya lalu menatap Leo yang masih anteng dengan Aromanisnya bahkan cara makannya itu seolah terlihat enak baginya.

"Bang Leoo~" panggil Deza dengan nada mendayu tapi rupanya itu tidak membuat Leo bergeming.

"Bang Leoo yuhuu, bang Leo~" panggilnya lagi, namun itu malah seperti angin lalu baginya.

Deza menghela nafas "bang Leo mauu, gua minta itu bang" ucapnya namun tak di tanggapi oleh Leo.

"Bang Leo gua mau~" ucapnya lagi dengan sedikit rengekan namun keheningan yang malah ia dapatkan.

Merasa kesal Deza beranjak berdiri menghampiri "bang Leo gua mau itu. minta" ucapnya lagi dengan menadahkan tangan ke arah Leo, namun tetap tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut leo, dia malah terlihat lebih menikmati Aromanisnya saat ini.

Wisnu yang melihat itu hanya tersenyum sesaat, melihat raut kesal Deza yang sungguh membuatnya terlihat menggemaskan.

Deza pun langsung ingin merebut Aromanis Leo tersebut namun seakam insting nya itu kuat, Leo langsung beranjak menjauh dengan pandangannya yang tetap fokus pada Aromanisnya yang saat ini masih ia nikmati sendiri.

"Bang lee mau" rengeknnya seolah kembali menghampiri Leo yang ternyata malah berlalu terus menjauh.

"Bang Lee ihh minta, Dezaa mauu" rengeknya kembali dengan sedikit larian untuk mengejar Leo namun hal itu tidak membuatnya bergeming.

Revan hanya menggelengkan kepalanya, karena ia tahu bagaimana tabiat Leo dengan makanan favoritnya yang tidak akan pernah ia bagi dengan siapapun, sekalipun itu papa dan abangnya, dia akan mempertahankan makanannya itu meski luka yang akan ia dapati.

Seperti waktu mereka bermain bersama dengan keluarga Bagaskara, Revan mencoba meminta Aromanis yang dimna itu adalah makanan pavoritnya tapi tak kunjung di berikan oleh Leo, hingga berakhir dengan saling kejar, dan kejar-kejaran itu berhenti dimana Leo terjatuh dengan darah di lututnya. Namun bukannya merintih karena sakit ia malah lebih peduli dengan Aromanisnya dan kembali menjaganya seolah itu adalah berlian baginya yang takut bisa di ambil kapanpun oleh orang lain.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang