Budayakan vote sebelum membaca ya pemirsa!!
Happy Reading💕
___________________
Untuk beberapa waktu yang cukup lama, Ariel hanya bisa mematung. Seribu alasan yang biasanya tersusun rapi di otaknya untuk membuat Aurel selalu percaya, kini hilang entah kemana. Seribu untaian kata-kata manis bak malaikat untuk menenangkan, kini sirna. Ariel benar-benar hanya diam meski kini ditatap sedingin itu oleh Aurel. Tak ada yang kembali bersuara, hingga biarkan sepi yang melingkupi. Entah akan berhasil atau tidak, Ariel berdehem untuk menetralkan gugup yang kini mendominasi.
"Sayang, aku bisa jelasin, ya"ucap Ariel begitu lembut—bahkan lebih lembut dari biasanya. Jemari Aurel ia raih dan digenggam, ditatapnya sang kekasih dengan tatapan hangat khas dirinya.
"Apa? Coba jelasin,"
"Sebenarnya, dari kemarin emang ada yang teror aku kayak gitu—ngatain aku psikopat gila. Berkali-kali aku blok, berkali-kali juga orang itu masih tetep teror aku, dan selalu ngomong akan hancurin hubungan kita. Alesannya apa? Aku gak tahu. Rasanya aku gak punya masalah sama seseorang yang sampai ngebuat orang itu dendam. Kamu tahu semua kegiatan aku, kan, sayang? Sebelumnya aku juga minta maaf gak jujur lebih awal sama kamu, aku cuma takut kamu akan terpengaruh sama omong kosong nya. Aku..takut kehilangan kamu. Hanya itu"deretan kebohongan kembali ia lontarkan dengan lancar guna mengatasi perasaan was-was—takut tak dipercaya lagi oleh Aurel. Dia tahu jika dirinya iblis yang menjelma menjadi malaikat, tapi apa salah jika dirinya juga ingin dicintai oleh Aurel yang sangat ia cintai? Setiap orang berhak untuk jatuh cinta, bukan? Dan setiap orang juga berhak untuk mempunyai keinginan saling memiliki.
"Terus kamu pikir aku akan percaya gitu aja?"respon Aurel datar, genggaman tangan Ariel ia lepas paksa. Tatapan tajam nya masih menyorot Ariel yang kini masih mempertahankan raut tenang penuh keyakinan akan penjelasan yang baru saja diberikan.
"Aku gak maksa kamu buat percaya, sayang. Aku hanya menjelaskan. Gak sekali dua kali aku dituduh sebagai pembunuh—meskipun tanpa bukti yang jelas, jadi wajar kalau kamu udah gak percaya aku lagi. Tapi apa kamu tahu? Aku pikir gak dipercaya sama Papa itu udah yang paling sakit, tapi ternyata aku salah. Kehilangan kepercayaan kamu seperti ini jauh lebih menyakitkan"Ariel tersenyum tipis, seolah tunjukkan bahwa dirinya benar-benar sakit karena kekasihnya sendiri tak mempercayainya. Bagus Ariel, dirimu sudah terlalu sering membuat kebohongan, dirimu sudah handal dalam memanipulasi keadaan. Apa yang harus ditakutkan? Nyatanya setelah ini Aurel pasti akan kembali mempercayainya dan meminta maaf karena sudah berkata demikian. Bukankah memang seperti itu alurnya? Cara terbaik mempertahankan Aurel memang dengan kebohongan, tak ada cara lain selain itu.
Aurel memalingkan wajahnya ke arah lain—kemanapun, asal tidak melihat wajah Ariel yang selalu sukses membuat perasaan bersalah itu hinggap dihatinya. Sejujurnya ia pun ingin terus percaya, namun rasanya aneh jika ada orang yang meneror Ariel dengan mengatainya pembunuh. Setiap perilaku seseorang selalu memiliki alasan, dan orang yang meneror Ariel pun pasti memiliki alasan yang jelas. Tapi apa? Tidak mungkin, kan, kekasih bak malaikat nya ini pernah membunuh seseorang? Jika iya, entah apa yang akan ia lakukan. Percaya sulit, tak percaya pun sulit.
"Hanya kamu alasan aku bertahan setelah kepergian Mama, Rel. Kalau kamu pergi, aku gak tahu hidupku akan seperti apa"lagi, mulut jahanam nya bersuara. Berusaha terus merecoki pikiran Aurel agar luluh seperti biasanya.
"Diem, Ariel!"geram Aurel, kembali menatap Ariel tajam.
"Aku harus gimana biar kamu percaya lagi? Kecurigaan mu itu tanpa bukti yang jelas. Cuma karena pesan tidak jelas ini, kamu mau lebih mempercayai dia yang gak kamu kenal daripada aku yang selama ini selalu ada buat kamu?"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Psychopath Boyfriend
Novela Juvenil(BUDAYAKAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA, PEMIRSA!!) Jangan lupa bersedekah dengan cara memberi vote dan komentar di cerita ini:) Ariel Prayudha. Pria tampan dengan semua sikap misteriusnya. Terkadang ia bisa bersikap seperti malaikat yang mampu membuat se...
