🍈 - 52

3.5K 170 20
                                        

Karina menatap anak tangga lalu menghela napas, ia mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju lantai satu rumahnya, jujur ia sudah sangat lelah karena harus menuruni anak tangga hanya untuk menuju dapur

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Karina menatap anak tangga lalu menghela napas, ia mulai melangkahkan kakinya perlahan menuju lantai satu rumahnya, jujur ia sudah sangat lelah karena harus menuruni anak tangga hanya untuk menuju dapur.

Saat ini Jeno sedang di kantor dan Bik Wulan yang merupakan art rumahnya sedang berbelanja kebutuhan bulanan mereka. Hanya ada supir pribadi Karina yaitu Pak Dean yang sedang mencuci mobil di taman, itu sebabnya Karina terpaksa harus ke dapur seorang diri karena merasa lapar.

Saat sampai di dapur, Karina membuka kulkas untuk mengambil roti dan susu. Namun tiba-tiba ia merasa perutnya sangat sakit, sebenarnya ia sudah mulai merasa mules dari subuh, namun karena mulesnya tidak terlalu terasa. Tapi kali ini rasa mulesnya sudah berubah menjadi rasa sakit.

Karina terjatuh, ia bertumpu pada kedua tangannya menahan tubuhnya agar tidak terbaring di lantai.

"Pa-k! D-dean" panggil Karina dengan napas tersengal-sengal, rasanya seluruh tubuh Karina menjadi lemas karena mules dan sakit di perutnya semakin parah.

"ASTAGA NON!" Bik Wulan yang baru tiba terkejut melihat keadaan Karina dan langsung memanggil Pak Dean untuk membawa Karina ke rumah sakit.

🍏🍈🍏

Jeno mengelus pucuk kepala Karina, Karina baru saja bangun, setelah persalinannya selesai 2 jam yang lalu, ia sangat kelelahan dan akhirnya tertidur. Karina tersenyum melihat Jeno, ia meringis saat ingin mengubah posisinya menjadi duduk, semua tulangnya terasa remuk.

Jeno pun membantu Karina mengubah posisinya menjadi duduk bersandarkan beberapa bantal, netra Karina menyusuri ruangan tersebut seolah mencari sesuatu.

"Twins, boy and girl" ucap Jeno tiba-tiba seolah tau apa yang istrinya itu cari.

"Serius?" Karina menatap Jeno dengan tatapan tidak percaya.

"Serius. Makasih ya, Rin. Gue gak tau kata apa lagi yang bisa nyampein rasa seneng dan makasih gue ke lo" ujar Jeno lalu mengecup kening Karina.

"Baby-nya dimana Jen?" tanya Karina.

"Bentar lagi dibawa kesini, tadi masih diperiksa sama dokter" jawab Jeno.

"Yang temenin siapa? Kok lo gak nemenin baby-nya?" tanya Karina sedikit panik.

"Baby-nya udah ada yang temenin, itu" Jeno menunjuk pintu yang baru terbuka dan terlihatlah Tiffany dan Irene yang masing-masing sedang menggendong bayi.

"Eh, anaknya mami udah bangun" ujar Irene lalu mengecup kening Karina kemudian memberikan bayi do gendongannya ke Karina.

"Ini baby boy-nya sama Mamanya dulu ya" ucap Irene setelah Karina menggendong bayi itu.

𝐏𝐞𝐫𝐣𝐨𝐝𝐨𝐡𝐚𝐧Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang