28. BERBAGI ITU INDAH

44 1 0
                                        

Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.

Banyak makanan dan minuman tertata rapi di atas meja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Banyak makanan dan minuman tertata rapi di atas meja. Zihel baru saja membawakannya dari belakang. Anggota inti juga kekasihnya berkumpul di markas hari ini. Begitu juga dengan Krayna ikut serta dalam bagian itu.

"Semuanya udah di siapin?" tanya Dikta pada salah satu anggota umum, yang bertugas pada bagian mengangkut makanan.

"Sudah, Bos." Anggota itu mengangguk mengiyakan.

"Mau kan pergi ikut berbagi juga?" tanya Edvan untuk kesekian kalinya. Krayna yang mendengar itu muak sendiri. Padahal sudah sedari tadi Krayna meyakinkan Edvan bahwa ia mau pergi ikut berbagi juga. Tapi apalah Edvan yang tak percaya.

"Iya, Edvan. Aku mau kok perginya," Ucapan lembut itu keluar, berusaha meyakinkan kembali sang kekasih. "Udah, ya, jangan tanya lagi. Aku mau perginya, kalo enggak udah dari tadi aku bilang enggak, Sayang."

Bibirnya berkedut, menahan pergerakan yang ingin melukiskan senyuman. Seperti ada sesuatu yang menggelitik Edvan, itu tidak biasa. Edvan merasakan dirinya tengah salting kali ini dengan perkataan Krayna yang terakhir.

"Hari-hari gue liat orang bucin." Ternyata di samping mereka, ada Afkar yang sibuk mengunyah makanan. Matanya lurus ke depan dengan tatapan yang malas juga datar. Sepertinya ia jenuh dengan keadaan ini selalu. Dimana Afkar hanya bisa duduk terdiam memandang kebucinan yang tidak ada opsi untuk dirinya. "Capek juga jagain bumi sendiri."

"Cari pacar juga Afkar makanya." Krayna tertawa pelan. Sedangkan Edvan tidak memperhatikan Afkar. Ia sibuk memandangi pemandangan di depan yang jauh lebih indah.

"Gak ada yang cocok, Krayna." Afkar kembali memungut satu makanan lain untuk dikunyahnya. "Semuanya pada genit-genit."

"Aelah pacarin aje semuanya, Kar. Milih-milih amat lo," tukas Zihel. Ia sibuk tertawa dengan Allea setelahnya.

Afkar yang melihatnya merasa jenguh, matanya memutar dengan perasaan yang ingin menggeplak kepala Zihel. "Gue mah gak tertarik jadi playboy, sorry, ya."

"Maksud lo gue playboy gitu?" Zihel bertanya dengan alis yang di tekuk.

"Lah, kan emang lo playboy, Zihel." papar Allea, pacar dari sekiannya pacar Zihel. Tatapan datarnya menghunus malas Zihel.

"Eh, iya juga, ya. Lupa gue." Zihel cengegesan setelahnya. Semua mata yang memandang menatap malas, males meladeni tingkah konyol itu.

"Van." Itu suara Dikta. Sang ketua geng Delvoz yang berada di luar pintu markas memanggil wakil ketuanya.

Edvan hanya menaikkan sebelah alisnya, mengisyaratkan lewat raut wajah yang mengekspos bertanya; 'Ada apa?'

"Sini bentar." panggil Dikta yang langsung dilaksanakan wakilnya itu. Edvan segera beranjak dari duduknya, meninggalkan temannya di sofa yang sibuk bersantai. Tapi sebelum itu ia sempat pamit dulu dengan sang pacar. Ciri-ciri pacar yang tidak mau kekasihnya kesepian atau merasa diabaikan.

SERAPHICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang