29. BINTANG DI LANGIT

44 1 0
                                        

Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.

"Tempat pulang setiap manusia bukan saja berbentuk bangunan, bisa jadi itu wujud yang berperasaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Tempat pulang setiap manusia bukan saja berbentuk bangunan, bisa jadi itu wujud yang berperasaan. Yang senantiasa senang melihat orang dicintainya senang, dan sedih  melihat orang yang di cintainya sedih."

***

"Woi, keluar, yok." Afkar datang dari luar dengan raut wajah yang tertarik membentuk senyuman. Binar menyelimuti matanya.

"Ngapain?" tanya Edvan dengan alis yang terangkat ke atas sebelah.

"Katanya di luar lagi banyak bintang sama anak lain," info Afkar.

Zihel yang baru saja datang dari dapur, memutuskan untuk duduk dulu, mengistirahatkan bokongnya yang lelah. "Bintang yang di langit,kan?"

"Ya iyalah! Lo pikir mereka bertamu ke sini jenguk lo gitu!" Afkar menggelengkan kepala tak habis pikir. Entah bagaimana jalan pikiran Zihel ini.

"Ya lo bilangnya setengah-setengah, sih. Kan gue bingung." Tangan Zihel terangkat ke atas, menggaruk bagian kepala yang tak gatal. Agar mengurangkan sedikit rasa malu disebabkan kebodohan yang menjalar dalam darah.

"Kayaknya otak lo perlu di perbaiki, deh, saking gobloknya." Allea memperagakan obeng dengan tangannya. Tanpa raut berdosa ia memutarkan tangan, seolah sedang memutar obeng. Membongkar baut gaib yang bersarang di pangkalan jejeran rambut.

Suara tawa pecah, menggema ke seluruh ruangan. Anggota Delvoz yang melihat tingkah lucu couple itu tertawa terbahak-bahak. Termasuk Edvan dan Krayna, mereka tertawa dengan mata yang saling mengarah satu sama lain. Sedangkan Elga ia hanya terkekeh kecil melihat itu.

Ruangan dalam markas memang sepi. Banyak anggota memilih bersantai di luar. Karna katanya sedang banyak bintang bertebaran di langit luas malam ini. Yang ada di dalam markas pun, mereka yang malas melihat bintang. Mereka lebih memilih bermain PS di dalam.

"Keluar, yok. Gue mau liat bintang!" ajak Adelyna dengan semangat.

"Ayok!" balas Allea dengan semangat. "Lo ikut Krayna?"

"Boleh, deh." angguk Krayna dengan semangat yang membuncah.

"Yang laki bawa perlengkapan ke luar!" titah Adelyna tegas. Perintahnya ini tidak boleh dibantah gugat. Tangan Adelyna ia letakkan di pinggang, juga dengan dagu yang di angkat tinggi.  Memperlihat keangkuhannya.

"Lah?" sentak Zihel terkejut. Alis yang tertekuk menempel di wajah dengan mata yang mendelik—menatap tak terima. "Gak mau gue!"

"Udahlah, teman-teman." Dikta berusaha menenangkan keadaan sekitar. Matanya memandang ke belakang di mana ada Zihel disana. "Ibu negara sudah berbicara. Kita gak bisa bantah perintah dia." Dikta memutar matanya ke belakang—ke arah Adelyna, lalu kebelakang lagi, mengisyaratkan untuk mengikuti perintahnya saja. Jika tidak.... Kalian tau sendirilah ya akibatnya apa.

SERAPHICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang