Edvances Leygander dan Krayna Auderelia adalah dua orang yang tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan, bertemu untuk menciptakan suatu jalan menuju kebahagiaan.
Tentu itu tak mudah. Mereka harus menerima sebuah kenyataan dan rintangan sehin...
Sudah cukup ya romantis nya, kalo mau yang romantis lagi ya vote dong kennat.
Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vanya masih belum bisa menutup matanya padahal malam semakin gelap. Bulan sudah tak terlihat lagi ditutupi awan. Bintang-bintang pun ikut serta untuk berpamitan pada manusia untuk berhenti menemani manusia terlelap dalam tidurnya. Menjadikan langit malam yang gelap sepi tanpa pendampingnya.
Pikiran Vanya berkelana menyebar, semua yang dipikirnya seolah berterbangan di atas Vanya yang tengah berbaring di atas kasurnya menatap langit-langit kamar. Vanya ingin beristirahat tapi matanya seolah enggan untuk menutup, matanya seolah bekerjasama dengan kepala agar mengisi malam ini dengan pikiran yang tak kunjung sirna.
"Argh!" teriak Vanya merasa putus asa. "Jauh-jauh dari pikiran gue!" Vanya menarik rambutnya kesal. Bayangan Edvan dan Krayna terus berkeliling menyusuri kepala Vanya. Tak membiarkan Vanya beristirahat. Memberi semua ingatan kebersamaan mereka berdua yang dapat menyakiti hati Vanya. Mencabik-cabiknya kuat hingga berdarah-darah.
"Kenapa, sih, lo harus ada di dunia ini! Satu minggu gue gak bisa tidur tenang gara-gara lo!" Memang satu minggu ini Vanya mengalami kesulitan untuk tidur, disebabkan mimpi yang terus berdatangan padanya membuatnya terjaga di tengah malam gelap, setelah itu Vanya tidak bisa tidur lagi karna terbayang-bayang akan mimpi itu. Mimpi yang dialami Vanya sungguh buruk, menghantui Vanya selalu.
Dimulai malam pertama, Vanya memimpikan hari itu dirinya berjalan bersebrangan dengan Edvan dan Krayna yang berjalan dengan bergandengan tangan. Vanya yang kebetulan berjalan di samping Evan berniat untuk menghampirinya. Menyapa seperti biasa.
Hampir sampai di depan Edvan, Vanya langsung mengudarakan tangannya untuk melambaikan tangan. "Edv—"
"Gak usah deket-deket, gue gak mau lo ganggu." Setelah mengucap itu Edvan dan Krayna langsung pergi begitu saja meninggalkan Vanya yang masih melambai tangan. Seketika tangan Vanya turun bersaaman senyumannya yang ikut turun. Hatinya terasa nyeri sekali saat itu, bagaikan satu kaca yang dijatuhkan dari atas dan hancur berkeping-keping mengotori lantai. Begitulah yang dirasakan Vanya disaat pandang matanya menatap bayangan Edvan dan Krayna mulai menghilang dibalik koridor.
"Argh! Gue, kan gak ganggu kalian! Sejak kapan gue ganggu? Gak pernah, Van!" teriaknya ketika mengingat mimpi itu. "Emang salah gue nyapa lo doang, hah?"
Pada malam kedua, Vanya memimpikan hati itu dirinya berada di dalam perpustakaan. Saat hendak mencari tempat duduk, mata Vanya tidak sengaja menemukan Krayna yang juga tengah sedang berada di dalam perpustakaan. Perempuan itu tengah mencatat beberapa hal yang tidak Vanya ketahui. Vanya pun tidak berniat untuk mengetahuinya. Tapi jika ada Krayna lalu mana Edvan? Vanya terus memandang ke sekeliling mencari keberadaan Edvan.
Vanya tidak bisa menemukannya, apa ia harus bertanya pada Krayna? Tapi Vanya sungguh malas sekali berinteraksi dengan perempuan itu. Perempuan yang menjadi musuhnya itu. Namun Vanya harus mengetahui dimana Edvan berada. Maka dari itu Vanya mulai mendekatkan dirinya dengan Krayna.