42. KEBERSAMAAN 2

32 2 0
                                        

Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.

"Cepet gue udah dua kartu lagi, nih!" teriak Adelyna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Cepet gue udah dua kartu lagi, nih!" teriak Adelyna. Permainan As ini hampir dimenangkan oleh Adelyna jika saja kedua kartunya yang tersisa dapat dimainkan segera. Permainan kali ini cukup memakan waktu hampir satu jam, banyak waktu yang dilalui hanya dengan mencangkul. Dan beruntungnya Adelyna bisa sampai di titik tinggal dua kartu lagi.

Afkar tengah mencangkul tumpukan kartu agar mendapatkan kartu hati, kartu yang dikeluarkan Dika cukup menyulitkan Afkar. Akhirnya pada kartu ketiga Afkar mendapatkan kartu 2 Hati, yang walaupun nilainya sedikit yang penting sudah keluar.

"Oke ronde ini dimenangkan Kak Zihel. Lo mau keluarin apa, Kak?" beritahu Dika ketika melihat semua perbandingan kartu.

Zihel yang ditanyai kembali memilah kartu, ia tersenyum dengan senang. Zihel melirik Afkar dnegan sekilas, baru setelahnya ia mengeluarkan kartu 7 Hati. Setelah melemparkan itu ia terkekeh pelan.

"Jahat lo ama gue, Hel." Afkar segera meluncurkan tangannya, ia meraih kumpulan kartu yang tak banyak lagi. "Gak ingat sama teman seperjuangan lo."

"Sorry kali ini gue harus munafik." Zihel menyandarkan kepalanya pada bahu Afkar, bermodus untuk bisa dimaafkan. Tapi nyatanya Afkar malah mendorong Zihel ke samping dengan kuat, membuat Zihel terpelanting jauh dari sisi meja.

"Males gue sama lo, minggir sana gak usah deket-deket," lanjut Afkar mengambil kartu yang baiknya sekarang ia mendapatkan kartu 4 Hati.

Edvan baru saja meneguk minuman kalengnya yang tersisa sedikit lagi. Edvan membawa kaleng itu di tangan kirinya yang ia goyangkan isinya yang tersisa sedikit beradu dengan dinding kaleng. Di tengah heningnya suasana disana ada panggilan dari handphone Edvan yang berdering di saku celana. Edvan segera meraih benda yang bergetar itu dengan tangan kanannya, terdapat panggilan dari Rania disana.

"Gue angkat telpon dulu bentar, ya." ucapnya pada Krayna yang asik menggigit pizza sedari tadi. Krayna mengangguk hingga Edvan menghabiskan seteguk lagi minumannya kemudian ia tempatkan di atas meja, baru Edvan bangkit dari duduknya dengan tangan kiri yang mengusap pelan rambut Krayna.

Krayna tersenyum mendapat perlakuan itu, ia memandang kepergian Edvan yang mengarah ke luar markas, ke teras dengan kegiatan yang masih sama—menggigit potonga pizza.

Sembari berjalan Edvan mengangkat ikon hijau ke atas, baru setelahnya ia bawa benda itu mendekat pada daun telinga. Suara Rania dari seberang sana langsung terdengar. "Kak Edvan lagi dimana?"  tanyanya.

"Lagi di markas, butuh apa?" tanya Edvan langsung pada poinnya. Tidak ingin berbasa-basi sepeti biasanya.

"Jadi gini, Kak...." Terdengar Rania yang membenarkan posisi duduknya dari seberang, dan sepertinya ia juga tengah mengambil sesuatu yang tidak Edvan ketahui. "Mama sama Papa mau keluar, aku bosen kalo dirumah aja. Temen Rania juga sibuk.... Emm...."

SERAPHICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang