37. INAP

39 2 0
                                        


Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.

Jam sudah berjalan hingga memunculkan waktu setengah enam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Jam sudah berjalan hingga memunculkan waktu setengah enam. Tapi kini bumi kembali diguyur hujan. Tanah mulai basah kembali sejak setengah jam yang lalu, angin juga ikut membantu dengan menggerakkan pohon-pohon dan menerbangkan air lebih merata. Membuatnya saling bergantungan, menggenggam sama lain yang tak kunjung lepas.

Krayna memandangi pemandangan hujan yang sedikit membuat sekitarnya sedikit menjadi abu-abu, seperti tengah dipeluk oleh kabut. "Kok hujannya masih belum berhenti juga."

Edvan datang dari belakang, bergabung dengan Krayna dengan berdiri di sampingnya. "Maaf gue belum bisa anterin lo pulang." Edvan merasa bersalah karna sudah jam segini ia belum memulangkan Krayna ke tempat asalnya. Edvan juga tidak tau hari akan turun hujan dua kali.

"Iya, gak papa, Edvan." Krayna tersenyum simpul.

"Beneran gak papa?" tanya Edvan untuk memastikan Krayna beneran tidak keberatan jika berada disini lebih lama lagi.

Krayna dengan segera mengangguk. Tangannya juga ikut naik menyentuh pundak Edvan, berusaha untuk menguatkan perkataannya. "Beneran, Edvan. Aku gak papa."

"Tapi kalo nanti ujannya belum reda juga, gimana?"

Pertanyaan itu justru kini membuat Krayna terdiam. Ia jadi memikirkan perkataan Edvan, benar juga. Bagaimana jika hujannya juga masih belum mau berhenti? "Kita cari cara lain aja."

Keheningan terjadi disaat Edvan tidak menyahut ucapan Krayna. Disana hanya terdengar suara hujan yang diterbangkan angin menerpa sesaat. Edvan tengah mencari jalan penengah untuk masalah ini. Semoga otaknya memberi satu jawaban untuk keluar dari masalah ini.

"Lo nginap aja disini, gak papa?" tanya Edvan dengan hati yang tidak enak, ia merasa bersalah sekarang.

Krayna masih diam, dirinya masih membuat keputusan. Lama hatinya berkelana mempertarungkan satu jawaban diantara dua pilihan. Iya atau tidak. Pandangannya tetap terus tertuju ke depan, berharap di celah-celah kabut itu muncul satu jawaban.

Butuh waktu empat puluh detik untuk Krayna mendapatkan jawabanya. "Emang boleh...?" tanyanya yang masih ragu.

"Boleh." Edvan mengangguk. "Lo tidur di kamar gue, gue biar tidur di sofa aja."

"Tapi-"

"Kita udah gak tau cara lain, Kray. Pulang dalam ujan-ujan gini juga gak mungkin, kan?"

"Iya, Edvan. Tapi... aku takut sama kamu." Krayna menghentikan bicaranya. Ia menarik napas sebentar sebelum melanjutkan, "Sejatinya aku tetap perempuan." ucapnya masih tidak melihat ke arah Edvan.

"Hmm...." Edvan terpaku sebentar. "Lo kunci pintu kamar, atau kalo lebih baik tahan pintu pakek sesuatu."

"Iya, Edvan." Tidak ada jalan pilihan lain selain menginap di rumah ini. Ia hanya bisa berlindung diri di dalam pelukannya sendiri.

SERAPHICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang