Edvances Leygander dan Krayna Auderelia adalah dua orang yang tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan, bertemu untuk menciptakan suatu jalan menuju kebahagiaan.
Tentu itu tak mudah. Mereka harus menerima sebuah kenyataan dan rintangan sehin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Markas Delvoz tidak pernah absen dari kata sepi. Markas itu selalu ramai di isi anggota, mulai dari kalangan kecil maupun besar. Seperti sekarang, baru saja Krayna turun dari motor —dengan dibantukan pundak Edvan— banyak orang yang menyambut mereka di luar teras markas. Kebanyakan dari mereka merupakan anggota angkatan kelas satu SMA.
Edvan turun dari motor hitamnya, melepaskan helmnya. Baru setelah itu Edvan menyusul di mana Krayna berdiri. Tangannya dengan cekatan mengaitkan jarinya dengan jari Krayna. Beberapa anggota yang duduk di luar, menyapa mereka sebagai bentuk perhormatan. Krayna hanya membalas dengan senyuman yang tipis, sebagai balasan saja. Tidak lebih.
Mereka berdua pun masuk ke dalam ruangan bertingkat dua itu. Sama juga keadaannya dengan di luar, banyak anggota memenuhi ruangan. Mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Edvan membawa Krayna menuju sofa dimana temannya mengisi tempat itu. Tempat yang sudah menjadi milik mereka bersinggah waktu berdiam disini.
"Eh, Krayna!" sapa Adelyna dengan riang. Cewek itu tidak pernah absen di tempat ini. Dari kecil sampai sekarang, apalagi ketika status Adelyna berubah, dari sahabat Dikta menjadi pacar Dikta. Walaupun bukan anggota, akan tetapi para anggota Delvoz memperlakukan Adelyna lebih dari itu.
"Hai, Adelyna!" balas Krayna tak kalah riang. Punggungnya mendarat di atas sofa, duduk di samping Edvan.
Kegiatan pada umumnya pun di mulai, kegiatan yang semua orang pasti melakukannya. Tidak memandang gender, umur, juga martabat. Para anggota inti Delvoz juga dua perempuan yang ada di sana—Adelyna dan Krayna, mereka terus saja berbicara, mengeluarkan nada yang menciptakan gelak tawa yang tertuaikan dengan langgas.
Zihel dan Afkar saling berlomba melawak, melihat siapa yang paling bisa membuat teman-temannya tertawa kencang. Namun dua orang yang receh itu masih belum bisa menentukan siapa yang akan menjadi pemenang. Di sebabkan temannya yang terus-terusan menciptakan getaran di sekitar.
"Aduh! Stop dulu!" Adelyna kelelahan tergelak besar, sepertinya gigi Adelyna kering sekarang. Pun begitu dengan yang lainnya. Perut Adelyna terasa sakit sekarang, rasanya seperti di pelintir oleh kejadian tadi. "Perut gue sakit banget!"
"Sama! Gue juga sakit banget ini!" Afkar juga sama. Walaupun dia juga yang memulai ini semua, Afkar juga yang kesakitan.
Berberapa menit kemudian, mereka mulai berhenti tertawa. Untungnya ada seseorang yang berbaik hati memberikan ketujuh orang yang duduk di sofa itu beberapa makanan juga beberapa minuman sebagai pelengkap. Anggota itu merupakan anggota angkatan satu. Dia menaruh kantong belanjaannga di atas meja. Baru setelah itu anggota berpamitan dengan anggota inti. "Dimakan semuanya,"
"Iya, makasih."
Zihel mencomot satu potong martabak telur yang ada di depannya. "Kalian gak ada rencana apapun, nih, waktu weekend?"
"Wah, bener juga tuh. Udah lama kita gak main- main, kan?" Afkar merasa setuju dengan pendapat Zihel. Sudah lama juga mereka tidak keluar.
"Enaknya kemana, ya?" Terlihat Adelyna menopang dagunya, bertingkah seperti orang yang sedang berpikir.