31. INSIDEN

95 1 0
                                        

Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.

Kring

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kring

Masih hari yang sama dengan waktu yang berbeda. Bel pulang sudah berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah. Seperti biasa siswa pulang ke tempat asalnya. Yang tadinya berada di alam mimpi jadi terpaksa keluar dari situ, tapi mereka tidak merasakan kesedihan sedikitpun, melainkan senang yang tiada tara. Yang tadinya tidak berenergi, entah kenapa sekarang mempunyai semangat tak terkalahkan setelah mendengar bunyi kesenangan semua murid. Kelas mulai sepi tak berisikan orang. Hanya tinggal Krayna dengan empat murid lainnya. Salah satunya ada Vanya beserta dua dayang berkedok teman itu.

Di tengah-tengah Krayna merapikan buku, matanya tergulir ke pintu. Edvan, kok, belum dateng, ya? Tidak ada kemunculan Edvan disana. Biasanya Edvan sudah berdiri tegap menunggu Krayna selesai setiap harinya.

Satu murid cewek berkacamata meninggalkan kelas. Meninggalkan mereka berempat dengan Vanya dan dua temannya. Sejenak hawa dingin terasa, padahal AC kelas sudah dimatikan sedari tadi. Entah kenapa Krayna juga tidak tau.

Tidak ada suara. Mau dari Krayna ataupun tiga orang belakang. Tangan Krayna bergetar sedikit dalam diam. Ia meneguk ludahnya sendiri demi mengurangkan sedikit rasa gelisah yang membuncah. Krayna mencoba berani menggerling matanya ke belakang, lewat ekor mata. Tapi usahanya nihil, kegiatan mereka tak bisa Krayna deteksi—disebabkan mereka yang keberadannya terlalu jauh dari jangkauan netra, juga rambut yang menghalangi pandangan.

Aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Aku samperin aja Edvan daripada nungguin dia, batinnya berbunyi. Sebenarnya Krayna tidak tau ada apa dengan cowok itu. Alasan kenapa dirinya yang belum menampakkan diri.Tidak ada satupun notifikasi dari cowok itu untuk memberikan informasi.

Krayna tidak ingin berlama-lama lagi di sini. Ia tidak mau memberikan rasa takutnya memakan segala kekhawatiran yang lahir. Tangannya membawa tas untuk di rangkul di bahu. Menggenggam tali depan dengan erat, tak ingin terlepas dalam keasaan saat Krayna beranjak dari ruangan itu.

Langkah kakinya maju, baru satu langkah ia berjalan, ada satu tangan yang mencekalnya dari samping.

Tubuh itu terdiam membeku. Krayna tak bisa bergerak karna takut, seolah ada es yang membekukan kakinya. Bahkan untuk sekedar menoleh kesamping, Krayna tak berani. Padahal ia tidak mau berdiam lama dalam kesengsaraan yang sepertinya lagi menghampiri.

Krayna menggigit bibirnya dalam, matanya menatap tak berani atas satu tangan yang bertindihan di atas tangannya. Wajah Krayna pucat pasi sekarang, apalagi dengan hawa-hawa sekitar yang begitu mencekam.

Krayna menarik oksigen di sekitar untuk mengisi rongga paru-paru. Malahan untuk mengambil nafas terasa berat.

"Langsung mau pulang?"

Itu hanya kalimat biasa. Tapi entah kenapa seperti ada bisikan yang berdengung di telinga berucap bahwa kalimat itu bukanlah kalimat pertanyaan sapaan saja. Tapi melebihkan dari itu. Ada gejolak gundah hati yang diberikan. Krayna menjadi mengingat kejadian dulu. Dimana dulu Vanya mendorongnya ke kolam renang berdalamkan dua meter, juga Vanya mengunci dia dalam kedinginan. Krayna sedikit trauma dengan Vanya. Ia tidak mau kembali lagi dalam marabahaya yang menyakitinya. Juga ia tidak mau berurusan dengan orang yang memberikan marabahaya itu. Yakni Vanya Amyrana.

SERAPHICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang