Edvances Leygander dan Krayna Auderelia adalah dua orang yang tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan, bertemu untuk menciptakan suatu jalan menuju kebahagiaan.
Tentu itu tak mudah. Mereka harus menerima sebuah kenyataan dan rintangan sehin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Di luar markas geng Delvoz banyak sekali motor yang terparkir sembarangan. Dari luar saja keadaannya sungguh kacau balau, entah bagaimana dengan kondisi di dalam.
Pukulan, hantaman, terdengar sampai luar. Edvan dan yang lainnya langsung berlari menuju ke dalam mendengar itu. Ia tidak mau anggota lain lengah.
"ALEX!" Teriakan Dikta begitu menggelegar ke seluruh ruangan. Semua orang yang ada di dalam markas mendengar itu jadi berhenti serempak. Seluruh pandang mata memusatkan pada satu objek, yaitu kearah mereka yang baru saja sampai.
Alex, ketua geng Frados, yang barusan terpanggil langsung menampakkan dirinya ke depan. Bibirnya tertawa meremehkan sembari kaki terus berjalan. Matanya menatap satu persatu anggota inti yang sudah was-was. Takut tiba-tiba terjadi penyerangan dan mereka tidak siap.
"Dateng juga lo kesini, gue pikir enggak?" Alex tersenyum miring. Menatap mereka dari atas sampai bawah dengan lirikan sinis.
"Yakali gue gak dateng," Dikta berucap dengan semangat ketua yang menguar dalam jiwa. Amarah mengalir di aliran darah yang hampir naik ke ubun-ubun. "Dan gue enggak kayak lo yang suka main keroyokan juga nyerang markas kayak gini." ucapnya memancing ketua geng Frados yang menatap geram. Sengaja.
Alex merasakan harga dirinya di senggol dengan kalimat barusan. Tangannya langsung terkepal, dengan mata yang melotot memperlihatkan kemarahan yang keluar.
"Emang anjing lo, Dikta!" Alex langsung berlari dan memberikan satu bogeman ke Dikta. Untung saja Dikta sempat mengelak karna ia sudah was-was sejak tadi.
Yang lain melihat ketuanya sudah saling memukul sama lain, mereka ikut juga. Ikut memukul lawan yang sempat tertunda tadi.
Kini ruangan itu kembali dipenuhi dengan suara pukulan dan hantaman yang begitu memekak telinga. Darah berceceran mengotori lantai, juga sofa yang sudah pindah ditendang dari tempat asalnya.
"Lo gak punya harga diri, ya?" tanya Dikta, tangannya menangkis tangan Alex yang hendak memukul dada Dikta.
"Maksud lo?"
"Mainnya langsung nyerang markas." Dikta mendorong Alex ke belakang, kepalanya dengan keras terantuk kaki meja, sepertinya kepala Alex sudah berdarah sekarang. Tapi semoga meja itu tidak patah nantinya.
Alex merasakan darah terus mengalir dari arah belakang, merasakan sedikit pusing yang baru saja tiba. Mata Alex menjadi buram sebentar, semuanya terasa menjadi dua. Itu menandakan dorongan Dikta berarti tidak main-main.
"Masih belum puas lo?" tanya Dikta dengan nada santai. Di dalam jiwanya tidak ada sedikit pun rasa takut berlabuh mengarungi.
Kali ini Edvan berhadapan dengan dengan dua orang dari enam yang menyerangnya dua hari kebelakang. Edvan sungguh muak melihat wajah itu, ingin rasanya ia mengambil muka mereka dan membuangnya ke got. "Ck, jumpa lagi."