42. KEBERSAMAAN

24 1 0
                                        

Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.

Tempat berkumpulnya seluruh anggota Geng Delvoz tidak pernah luput dari kata sepi, bahkan bisa dikatakan tidak pernah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tempat berkumpulnya seluruh anggota Geng Delvoz tidak pernah luput dari kata sepi, bahkan bisa dikatakan tidak pernah. Selalu saja ada anggota yang datang untuk sekedar meramaikan dan menghabiskan waktu disana. Juga bahkan ada anggota yang bermalam disana dengan alasannya sendiri, Dikta sebagai ketua mengizinkan itu karna ia memaklumi segala hal yang menjadi alasan mereka berada disini. Tapi adapula yang hanya datang dan bermalam untuk sekedar menjaga markas, Dikta sungguh senang akan hal yang dilakukan anggotanya itu.

Kini banyak sekali suara-suara yang terus menyahut, tertawa, teriakan datang memekak telinga. Dipadukan suara bola biliard yang terus disodok, juga ada suara panahan yang baru saja tertancap pada papannya mengisi ruang. Dikta sengaja membeli itu agar para anggotanya betah disini, dan itu salah satu menjadi penyebab kebanyakan anggota Geng Delvoz bersantai disini. Bagi mereka markas Geng Delvoz lebih menyenangkan daripada rumahnya sendiri.

Kebanyakan anggota Geng Delvoz sekarang bersantai masih dengan mengenakan seragam sekolah, sepulang sekolah mereka langsung kesini. Begitu juga dengan Edvan, Krayna, dan  teman-temannya yang lain. Tapi tidak ada Dikta dan Adelyna disini, sebelumnya mereka berdua berpamitan terlebih dahulu untuk menyusul nanti.

"Kalian pergi aja dulu ke markasnya, gue sama Adelyna mau pergi bentar." beritahu Dikta.

Afkar segera mengalihkan pandangannya dari depan ke samping, pada Dikta dan Adelyna. "Emangnya kalian berdua mau kemana?"

"Adalah pokoknya." Setelah berkata itu, Adelyna menjulurkan lidahnya keluar ke samping kiri, memberikan ekpresi mengejek untuk Afkar.

"Nyesel gue tanya." Afkar mendatarkan mukanya sebisa mungkin disaat ia memfokuskan kembali pandangan kedepan. Balasan ekpresi Adelyna sungguh menjengkelkan dan Adelyna selalu saja seperti itu, suka membuat kesal temannya.

Gelak tawa terdengar ketika mendapatkan ekpresi Afkar yang begitu masam, semuanya diketuai oleh Adelyna baru diikuti yang lain. Menertawakan raut wajah Afkar yang menghiburkan.

"Kalian duluan aja kesana, nanti kami nyusul."

"Eh, bentar!" Mereka yang sempat mau pergi dari sana jadi mengurungkan niatnya akibat ada suara Zihel yang menghentikan.

"Kenapa, Hel?" tanya Afkar lagi. "Gue harap, sih, lo gak jawab adalah pokoknya juga, ya, jangan jadi kayak si onoh. Nyebelin." Afkar menggulingkan matanya, yang dibalas tatapan tak terima oleh Adelyna, ia tengah disindir sekarang.

"Adek gue nanyain gue, dia mau ikut ke markas, pengen cobain duduk disana katanya," beritahu Zihel setelah membaca pesan sang adik dengan seksama. "Boleh, gak, Dikta?" tanyanya dulu meminta izin pada Dikta.

"Tentu boleh dong, markas Delvoz selalu terbuka." jawab Dikta diakhiri dengan alis yang dinaikkan lalu diturunkan kembali.

"Oke, kalo gitu gue jemput Adek gue dulu, motornya lagi bengkel soalnya."

SERAPHICTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang