41. KEMARAHAN SANG AYAH

37 1 0
                                        

Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.

🎶 Bernaung —Feby Putri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

🎶 Bernaung —Feby Putri

Krayna baru saja menurunkan kakinya untuk bersentuhan dengan jalan aspal yang rapi. Kini Krayna dan Edvan berada di depan rumah Krayna, mereka berdua baru saja menyelesaikan sekolahnya dan langsung pulang. Seperti biasa Edvan selalu mengantar Krayna untuk pulang.

Setelah berpamitan dengan Edvan, cowok itu langsung menghilang dari pandangan Krayna. Membuat langkah kaki Krayna beralih memutar tubuh dan tangannya juga terangkat untuk membuka gerbang rumahnya. Tak lupa Krayna tutup kembali gerbang itu.

Sesampainya di depan pintu jati yang dicat putih, knop pintu itu diputar oleh Krayna menimbulkan suara ceklek. Setelah Krayna sukses masuk kedalam rumah yang sudah ditutup pintunya, Krayna sempat membeku. Pandangannya lurus ke depan pada sosok yang berada di sofa, duduk dengan santai tapi Krayna yakin dibalik itu ada satu hal yang kini membuat Krayna merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya. Krayna tidak tau apa yang harus ia khawatirkan, sebab dirinya tidak merasa melakukan kesalahan. Tapi entah kenapa saat pandangan mata Krayna bertemu dengan pandang mata Ayahnya membuat Krayna gelisah. Bahkan sekedar untuk menyapa Ayahnya yang baru pulang—lebih tepatnya Krayna tidak tau kapan Ayahnya pulang, rasanya lidah Krayna kelu, dingin, dan tidak bisa digerakkan. Untuk meneguk ludah saja Krayna tidak bisa.

Atmosfer di sekitar terasa begitu mencekam. Udara yang dihirup Krayna terasa dingin membuat tubuhnya mendadak seperti berada di dalam bongkahan es. Tangan Krayna berada pada tali tas yang kini Krayna genggam sekuat mungkin untuk menyalurkan rasa takutnya yang semakin menjalar. Krayna harus berusaha mencairkan suasana, ia harus membuka ruang obrolan hangat yang bisa meluruhkan semua rasa takut yang dialaminya. Bibir Krayna terbuka perlahan-lahan. Siap untuk mengeluarkan kata walaupun rasanya sangat sulit karna Krayna merasa takut bahkan bibirnya bergetar. "A-ayah kapan pulang?"

Masih belum ada suara dari Ayahnya untuk menyahut, hanya ada suara jam dinding yang terus berdetak mengisi ruangan. Juga ada suara detak jantung Krayna yang hanya bisa didengar olehnya terus menggertak jiwa Krayna.

Danil bangkit tanpa mengindahkan pertanyaan Krayna. Tangan Danil dimasukkan ke dalam saku celana. Badannya yang lebih tinggi mengharuskan Krayna untuk mendongak agar bisa melihat dengan leluasa pada wajah Ayahnya yang kini nampak gelap akan amarah. Tapi entah untuk apa.

"Ulangan kemarin." Dua kata yang disebut Danil seolah suara yang memberikan pertanda bagi Krayna untuk berhati-hati. Suara itu menggema ke seluruh ruangan, padahal Danil tidak berteriak, hanya bicara pelan saja, tapi entah kenapa seluruh isi ruangan disini seolah  juga kalut akan Ayahnya.

"Ulangan?" celetuk Krayna pelan, tapi masih bisa didengar oleh Ayahnya. Krayna bingung apa maksud dari kata ulangan kemarin. Krayna menatap kembali pada Ayahnya sebelum tadi menunduk disaat mengucap celetukan kebingungannya. Yang Krayna lihat dari perawakan Ayahnya kali ini sungguhlah berbeda, disekitarnya terasa gelap.

SERAPHICCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang