43. PEWARNA KEHIDUPAN

44 2 0
                                        

Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya.
Guys bantu komen dong biar aku semangat update nya

Malam minggu kali ini ini Edvan dan Krayna memutuskan untuk mengelilingi jalan kota Jakarta waktu malam hari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Malam minggu kali ini ini Edvan dan Krayna memutuskan untuk mengelilingi jalan kota Jakarta waktu malam hari. Kini Krayna tengah memandang penampilannya di depan cermin, dengan sandal slides berbulu bewarna coklat, rok panjang dengan detail maxi skirt berwarna putih, ditambah dengan tank top hitam yang dilapisi kardigan rajut crop berwarna coklat tua. Krayna sudah siap, hanya tinggal melapisi sedikit perwarna di bibirnya agar tak terlihat pucat. Baru kemudian dirinya mengambil tas punggung kecil di dalam lemari. Kini Krayna benar-benar telah siap, baru ia melanjutkan langkahnya keluar dari kamar, menyusuri anak tangga.

Bertepatan dirinya pada anak tangga terakhir, ada ketukan pintu sebanyak dua kali di depan. Krayna tau itu siapa, maka dirinya langsung berlari kecil untuk membuka pintu segera.

"Hai." sapa Edvan pada pertemuan mata pertama mereka malam ini. Diiiringi dengan senyum tipis yang terlihat tulus, lalu disambuti dengan senyum balasan dari Krayna yang lebar.

"Hai juga!" balas sapanya dengan girang.

Ia memandang pada penampilan Edvan. Sepatu sneakers berwarna putih gading yang membalut kaki Edvan, celana pendek berbahan katun yang berwarna coklat ditambah dengan baju kaos polo berkerah berlengan pendek berwarna putih. Secara tidak langsung warna pakaian mereka sama. "Ih kita couple tau! Kamu niru-niru aku ya!" Tunjuk Krayna pada dada Edvan dengan sedikit digoyangkan, merayu Edvan.

"Jelas-jelas disini lo yang niru gue." Edvan menurunkan sedikit bibirnya dengan anggulan kepala ke atas.

"Kamu, ya! Liat aku udah coklat-putih jadi pasti kamu nyuruh seseorang buat liatin warna baju aku, kan, supaya bisa samaan," sangka Krayna. "Ayo, ngaku aja!"

"Gue lahir duluan, berarti lo yang niru gue!" Edvan bergerak mencubit hidung Krayna karna merasa gemas, ia menjewernya lalu membawa ke kanan dan kiri.

"Ih sakit tau!" Krayna memukul Edvan pelan.

Membuat Edvan terkekeh gemas. "Oke, oke, maafin gue, ya. Kita udahin aja pembahasan ini, kalo dilanjut gak habis-habis nanti," kata Edvan. "Kapan bisa malmingannya kalo gini...."

"Hehehe, iya, iya." Krayna beranjak keluar dari rumah, ia berbalik kebelakang untuk menutup pintu. Kunci diputar, setelah terkunci dengan sempurna, Krayna menarik kembali kunci itu dan menyimpannya di dalam tas punggung kecil miliknya. "Ayok."

Edvan mengangguk, kemudian tangannya meraih tangan Krayna untuk digenggam, mereka berdua meninggalkan taman di depan rumah. Edvan memberi satu helm untuk Krayna dan membantu memasangkannya, sebelum itu ia memakai helm miliknya terlebih dahulu. Keduanya pergi meninggalkan rumah Krayna untuk menyusuri tempat yang akan dinanti.

Cantiknya jalan malam di kota Jakarta sungguh memanjakan mata. Gedungnya tinggi menjulang ke langit, disekitarnya ada videotron yang menampilkan video iklan yang terus saja berganti, dengan lampu kuning jalan yang tak dimatikan, dibiarkan menyala untuk membantu penglihatan manusia yang nyatanya bisa memperindah jalanan kota, di tambah lampu kendaraan yang ikut serta, juga pohon-pohon kecil yang ditanam di tengah-tengah jalan.

SERAPHICCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang