Edvances Leygander dan Krayna Auderelia adalah dua orang yang tidak pernah merasakan yang namanya kebahagiaan, bertemu untuk menciptakan suatu jalan menuju kebahagiaan.
Tentu itu tak mudah. Mereka harus menerima sebuah kenyataan dan rintangan sehin...
Tolong vote-nya kennat! Tolong untuk dukungannya. Ayo vote dan komen dong, biar aku gak kesepian. Biar aku tahu kamu suka ceritaku yaa.
Ayo spam 🥔🥔
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Berhubung bel sudah berbunyi, jadi Bapak rasa sudah cukup untuk disini saja." Pak Dito, guru fisika mulai menutup bukunya, di iringi dengan kata, " Jadi kalian boleh pulang ke rumah masing-masing dengan selamat. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Seusai suara teiakan seluruh murid terdengar, Pak Dito langsung keluar menuju pintu. Senyum penuh bahagia langsung muncul di setiap wajah. Mereka sudah lelah menunggu momen membahagiakan ini.
"Akhirnya bisa pulang juga, ya Allah!" seru satu murid cewek langsung meregangkan ototnya yang sudah terasa tidak berfungsi lagi sedari jam pelajaran fisika di mulai. "Patah tulang gue, nengok papan tulis dari tadi, huh!"
"Oh iya!"
Suara itu langsung membuat seluruh pandang mata tertuju ke arah pintu di mana masih ada Pak Dito terdiam di sana.
Keberadaan Pak Dito sungguh tak mereka harapkan. Lantas mengapa Pak Dito masih berada di sini. Kan mereka mau cepat-cepat pulang dan berjumpa dengan kasur yang sudah amat dirindukan.
"Siapa juga yang mau ngasih PR." Pak Dito berucap ketus. Sontak seluruh murid kelas XII IPA 1 mengeluarkan nafas leganya. Tidak ada PR, hidup damai! Begitu kata anak XII IPA 1.
"Terus ngapain masih disini, Pak?" tanya Cendy dengan muka polosnya. Ia sungguh tidak suka dengan pelajaran Fisika dan jenis pelajaran IPA lainnya. Cendy lebih suka dengan hal yang berbau geografi dan entah mengapa ia malah masuk kesini. Bukan IPS.
"Ngusir kamu, ya? Seenggak tampan itukah Bapak sampek diusir begini, hah?" Tatapan tajam Pak Dito dilayangkan untuk Cendy. Membuat cewek itu cekikikan tak jelas di belakang.
"Eh, bukan gitu, Pak." Cendy menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. Ia tersenyum kemudian mengangguk canggung pada Pak Dito. "Bapak itu ganteng. Ganteng banget malahan!" seru Cendy memuji. Ia menarik kedua tangannya ke atas, mengangkat ibu jari sedangkan yang lain ia genggam. Membentuk jempol untuk menambah bukti bahwa yang diucap itu fakta.
"Nah itu tau. Janda mana sih, yang gak tertarik sama Bapak?" tukas Pak Dito percaya diri. Padahal Bapak itu sudah berumur, istrinya juga sudah lama meninggal. Dengan rambut yang sudah dihiasi uban putih di sela-selanya, juga kacamata yang bertengger di batang hidung guna untuk memperjelas dunia ketika memandang. Pak Dito masih saja percaya diri dengan tampangnya itu.
"Hehe, iya, Pak."
"Oh iya, Bapak sampai lupa tujuan Bapak berdiri disini untuk apa." Pak Dito menghela nafas bersamaan mata yang mengarah ke seluruh murid. Melihat satu persatu wajah mereka yang juga memandang penasaran akan perkataan selanjutnya. "Siapa yang mau bantu Bapak beresin barang-barang di kantor? Ayo tunjuk tangan semuanya biar lebih cepat selesainya!" Pak Dito sungguh bersemangat kali ini saat mengucapkan itu. Bahkan tangannya terkepal ke atas meninju angin.