Part. 52

5.2K 267 9
                                        


Di ruangan dengan pencahayaan terang, seorang pemuda terbaring lemas dengan mata tertutup, jarun infusan yang sudah tertancab di lengan kanannya, tidak membuat dia terusik atau merasakan sakit kala tetesan air infus itu menyalur ke dalam  tubuhnya.

Sedangkan ketiga orang dengan topeng yang bertengker di wajahnya, duduk di sofa melihat layar laptop yang tertera di depan mereka, fokus pada satu klip vidio yang menampilkan kebisingan dari kediaman Rahardian.

Seolah mencari seseorang yang telah hilang dari kediamannya, membuat wajah murka serta marah ke arah penjaga karena telah di nilai lalai atas pekerjaannya.

Sementara mata yang terlelap itu perlahan bergerak, mengerjap pelan hingga manik matanya itu melihat sudut ruangan yang cukup asing baginya, melihat lengannya yang masih terpasang alat infus membuat dia berkerut heran, bahkan manik matanya itu kini menyorot ke arah tiga orang pria yang masih bertaut duduk di tempatnya.

"Ka-kalian si-siapa?" Ucapnya dengan sayu bahkan perkataannya masihlah terbata-bata.

Namun seolah tuli ketiga orang itu yang tak lain adalah Shikigami chameleon, tak menghiraukan ucapannya.

Perlahan remaja itu Deza, mulai beranjak perlahan untuk sekedar duduk dengan tatapan yang seolah bingung dengan keberadaannya disini.

"Permisi?" Ucapnya lagi.

Namun masih tak ada jawaban dari ketiganya. "Maaf permisi, apa kalian masih hidup?" Lagi dan lagi hanya keheningan yang ia dapati dengan tatapan kesal ia mencoba menetralkan tenggorokannya.

Ekhem!!

Deheman yang cukup keras pun Deza berikan, namun bukannya menolah ketiga pria itu malah menganggap deheman itu hanya sebagai angin lalu.

"KALIAN UDAH MATI YA!!" teriaknya dengan keras seolah menandakan bahwa ia sudah di ambang batas.

"Berisik lo, kita masih sibuk" jawab Riyu santai tanpa mau menoleh melihat lawan bicaranya.

"Duduk ajh gk usah bawel" timpal Kara dan itu malah membuat Deza cengo di buatnya.

Bisa-bisanya dia perlakukan seperti pajangan seperti ini, bahkan keluarganya pun tidak pernah memperlakukannya seperti ini, meski hanya di jadikan samsak hidup tapi keberadaannya tetap di perlukan kan?

"Sialan!!" Geramnya.

"Gak usah ngumpat, syukur-syukur gua masih biarin lo idup" sela Riyu "berisik lagi gua jual ginjal lo" tambahnya dengan tatapan yang masih fokus ke layar monitor laptopnya.

Deza menghela nafas pasrah lalu menyandarkan punggungnya kebelakang.

"Apa mamah sama papah ngejual gua sama mereka ya? Apa gua bakal ngalamin yang namanya eksploitasi anak? Terus ginjal, kornea mata, hati, jantung gua di jual gitu? Lalu tubuh gua di jadiin bahan dasar bakpao dan isian bakso gitu? Apa gua-"

Bught!!

"Aww!!"

Tepat omongan Deza terpotong di saat sebuah bantal sofa mendarat dengan sempurna di wajahnya.

"Ginjal lo beneran mau gua jual hah?!" Tanya Riyu yang kini sudah berdiri tepat di depan Deza.

"E-engga bang makasih, gua masih butuh utuh kedu ginjal gua" jawab Deza dengan raut wajah takut.

Riyu hanya menatap malas ke arah Deza "sudah membaik?" Tanya Kara yang kini sudah berada di samping Riyu.

Deza terdiam sesaat lalu menganggukan kepalanya sekilas, menatap manik Kara dan Riyu bergantian "apa yang kalian mau dari gua?" Tanyanya dengan sorot mata penuh kecurigaan.

Alvan's Transmigrasi [End] ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang