Jadian?

735 77 13
                                        

Jungkook sepertinya sedang tidak beruntung karena di pertemukan dengan gadis seperti Lalisa. Bagaimana tidak perasaan yang telah ia pendam selama dua tahun ini masih ia simpan rapih di hatinya. Ini belum tentang penolakan karena ia juga belum mengatakannya kepada Lisa. Namun hal yang selalu ingin ia ungkapkan kepada Lalisa hanya ingin menyatakan perasaannya tapi bagaimana dengan Lalisa yang belum selesai dengan traumanya itu?

Kalau membahas trauma tentang percintaan mungkin agak klise dan cringe juga. Namun dari sudut pandang Lalisa yang sengaja memasang wajah angkuh dan sifat egois untuk menghindari orang yang menyukainya karena ia tahu sekali kalau ia tidak akan bisa membalas perasaan itu karena selain itu juga sedikit konyol karena sudah terbiasa sendiri. Kalau di telaah lagi Lalisa itu hanya trauma dengan laki-laki tapi bukan berarti ia benar-benar menghindar hanya sekedar berteman mungkin masih oke tapi kalau lebih dari itu ia akan secepat kilat menghilang.

Jungkook sudah mendekati Lisa 2 tahun terakhir ini. Mencoba mengimbangi sikap  Lalisa yang menurutnya masih dalam hal wajar. Memangnya apa yang membedakan Lalisa dari wanita diluar sana? Bukankah sikapnya sama saja? Jadi apapun sikap yang di tunjukan Lalisa kepadanya bahkan hal yang menurutnya angkuh pun ia sudah biasa karena apa? Ia memandang Lalisa dari hati jadi sepertinya sejauh ini ia masih bisa mengontrol suasana hatinya.

Saat ini mereka sedang duduk berdua di sebuah cafe yang memandang kearah pantai. Suasana Sunset yang mendekati malam membuat suasana terasa nyaman. Seperti yang di bicarakan tadi Lalisa hanya menghindari kontak fisik berlebihan sehingga kalau diajak duduk berdua seperti ini ia merasa biasa saja.

"Sa, gue ada yang mau di ngomongin nih." Ujar Jungkook membuka suara setelah menyudahi acara diam-diaman mereka sejak tadi.

Lalisa menoleh. "Ngomongin apa?"

"Kalo gue bilang gue suka sama lo sekarang, itu lo percaya apa anggap gue bohong?"

Lalisa mengernyitkan dahinya. "Apaan sih lo tiba-tiba banget."

Jungkook tanpa menggeleng. "Gak tiba-tiba lah. Gue udah pikirin ini tiap hari ya, gue udah mikirin gimana reaksi lo, gimana jawaban lo. Di pikiran gue ini masih hal positif sih makanya gue mau mastiin."

"Lo suka sama gue? Lo serius?"

"Seriuslah, tampang boleh songong tapi kalo soal hati jangan main-main yakan."

"Lo yakin nih? Ego gue tinggi loh."

"Gue imbangin."

"Gue matre."

"Saldo gue mampu beliin lo apa aja. Apa yang habis? Skincare? 20 kita cukup? Apa sekalian Make up juga? Mahal kan perawatan lo? Sini gue yang biayain. Oh iya apa mau sekalian beli tas Celine yang baru itu? Gue denger-denger ada yang baru rilis dan itu limited edition sih paling harganya 100 jutaan, gimana lo mau?"

Lalisa menatap Jungkook karena tidak menyangka kalau Jungkook akan mengatakan hal itu. Jungkook anak tunggal kaya raya jadi wajar-wajar saja ia segampang itu menawarkan barang semahal itu. Tapi bukan itu poin yang di maksud. Laki-laki yang pernah mendekatinya tidak pernah mengikuti standarnya padahal standarnya simpel sekali. Lalisa tidak suka laki-laki yang hanya berjanji tapi tidak pernah di tepati, tidak suka laki-laki yang menye-menye apalagi plin-plan yang masih ragu dengan keputusannya dan yang paling penting setia tapi sayangnya diantara itu tidak ada laki-laki yang menyanggupinya sehingga ia selalu menolak laki-laki dan seperti tidak butuh laki-laki padahal saat jam jam rawan ia sering merasakan ingin punya pacar tapi siangnya udah merasa biasa saja.

"Lagian setinggi apasih ego lo? Mau setinggi burj kalifah juga gue jabanin. Lo gak suka cowo menye-menye, kan? Gue pastiin lo bisa dapet itu dari gue. Semua hal tentang lo gue tau makanya gue berani ngomongin ini sekarang karna apa? Gue selalu mikirin ini tiap hari bahkan ketika gue lagi duduk di depan lo."

Oneshoot LKCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang