Jean, cowo pengganggu, cowo banyak omong, banyak drama, itulah yang akan di jawab Lisa ketika kalian bertanya tentang pandangannya kepada laki-laki bernama Jean itu. Ia muak sekali ketika mendapati laki-laki itu di semua tempat yang ia pijaki seakan-akan ada magnet tersendiri yang membuat pemuda itu secara tidak langsung berada di depannya. Seperti yang sudah-sudah Lisa baru saja meneguk minuman dingin itu karena selesai olahraga dan si biadab Jean ini merampasnya dari tangannya sehingga botol minuman itu berpindah tangan.
"Kebetulan banget lo udah beli minuman." Ujarnya tanpa merasa bersalah dan meneguknya.
Lisa jengkel setengah mati di tempat melihat itu dan memukul tulang lehernya sehingga membuat Jean tersedak. "Mampus lo anjing." Umpatnya dan menarik kembali botol minumannya dan berlalu darisana dengan kaki yang di hentak-hentakan akibat kesal padahal masih pagi.
Jean yang masih setengah batuk itu pun menatap Lisa dengan nanar, memang gadis sialan. "Woi berhenti gak lo." Ujarnya dengan berteriak kemudian melangkahkan kakinya berniat mengejar Lisa.
Di depan sana Lisa semakin memaju langkahnya. Bukan tentang ia takut pada Jean tapi ia malas sekali berurusan dengan pemuda itu, sungguh. Ia muak sekali menghadapi segala drama yang selalu membuatnya jengkel.
"Lo mau kemana sih buru-buru banget?" Tanyanya setelah berhasil memegang lengannya.
"Intinya gak liat muka lo."
Jean tertawa. "Percayalah ngeliat muka gue pagi-pagi bikin mood lo tambah bagus."
Lisa berdecih. "Tambah kacau mah iya, minggir lo." Ujarnya lagi menatap Jean malas.
"Mau ke kantin, kan? Yaudah bareng gue aja yuk."
"Gue yang gak mau bareng sama lo."
"Aelah sok jual mahal lo, ayo ah."
"Apaan sih, lepasin gak."
"Gue traktir deh."
"Gue punya uang."
"Simpen aja, lumayan nambah tabungan buat nikah sama gue yakan." Ujarnya pede.
Lisa mendelik mendengar itu. "Najis amat nikah sama lo."
"Lah nikah sama gue tuh beruntung tau."
Lisa hanya memutar bola matanya malas. Ia malas menjawab karena kalau ia tetap menjawab perkataan random Jean tidak akan ada habisnya. Wajah ganteng dan angkuhnya membuat Lisa ingin mual hanya melihat itu karena ia menganggap Jean musuhnya namun sebaliknya Jean mengakui dirinya sebagai pacarnya, memang orang gila.
"Mau makan? Sini gue pesenin dah." Ucapnya sesaat setelah menyuruh Lisa duduk.
"Gue bisa sendiri, minggir."
Jean berdecak malas. "Gue yang pesenin, sayang."
"Stop panggil gue sayang, brengsek." Umpatnya kesal sekali.
Namun sang lawan bicara bukannya tersinggung ia tertawa mendengarnya. "Oke juga panggilan kesayangan lo."
"Itu gak panggilan kesayangan." Ketusnya.
"Panggilan kesayangan dong kan cuma gue doang yang lo panggil itu." Bangganya.
Lisa tercegang mendengar itu bahkan setelah dikatai pun Jean masih mengira itu panggilan kesayangan, sekali lagi memang orang gila. "Terserah lo."
"Jadi mau makan apa?"
"Mie goreng aja." Ucapnya pasrah.
"Jangan dong kemaren kan udah makan mie."
Lisa menatap Jean. "Terserah gue dong kan yang makan gue." Sewotnya.
"Yaudah sih galak amat." Ejeknya kemudian berlalu darisana takut di amuk Lisa.
