Tak lama setelah Sisca kembali ke kamar, Shani yang sejak tadi duduk di kursi tiba-tiba berdiri. "Mah bentar ya, aku dipanggil Dokter Tirta buat ngobrol soal hasil pemeriksaan Mama kemarin."
Mama Shani mengangguk pelan. "Iya gapapa, kan ada Sisca juga disini."
Shani lalu menoleh ke Sisca. "Sayang, kamu di sini dulu ya. Temenin Mama sebentar, kayak kemarin. Aku gak lama."
"Iya, gapapa kok." jawab Sisca lembut.
Sebelum beranjak, Shani sempat mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Sisca. Suaranya merendah, penuh perhatian.
"Tombol ini-" ujarnya sambil menunjuk ke tombol merah kecil di sisi tempat tidur. "Kalau Mama tiba-tiba kumat atau susah napas, kamu langsung pencet aja ya. Suster nanti bakal langsung dateng."
Sisca mengangguk cepat. "Iya, aku inget tenang aja."
Shani tersenyum kecil, lalu menatap mamanya sekali lagi sebelum keluar dari ruangan.
Begitu pintu tertutup, suasana di kamar menjadi lebih tenang. Hanya ada suara alat medis dan langkah perawat yang sesekali lewat di luar. Sisca duduk di kursi di samping ranjang, memperhatikan wajah Mama Shani yang tampak lebih segar dari sebelumnya.
"Capek ya? Maaf ya harus nemenin tante terus disini. Doain tante cepet sembuh ya." ucap Mama Shani lembut sambil tersenyum.
"Aamiin semoga tante cepet sembuh. Enggak kok, Sisca ga capek. Aku seneng bisa nemenin tante." jawab Sisca sambil menunduk, jari-jarinya memainkan tutup botol air mineral. "Shani juga pasti tenang kalau tahu mamanya gak sendirian sekarang."
"Shani se khawatir itu ya sama tante?" ucap Arum.
"Sisca bisa lihat dari semenjak pertama kali Sisca dateng kesini tante. Shani keliatan sayang banget sama tante. Mungkin bisa dibilang disini Sisca bisa liat sisi lain Shani."
Mama Shani tertawa kecil, suaranya lembut dan menenangkan. "Anak itu emang perhatian, tapi sering nyembunyiin perasaan. Dari dulu suka pura-pura kuat padahal hatinya lembut banget."
"Aku tahu kok tante. Kadang dia suka nyebelin, tapi di balik itu dia orang yang paling tulus yang pernah aku kenal."
"Tau banget nih soal anak tante, sesayang itu ya?" tanya Mama Shani dengan nada menggoda.
Sisca terkejut, pipinya langsung memanas. "Eh aku-nggak, maksudnya iya, tapi..."
Mama Shani terkekeh kecil. "Tenang aja, sayang. Tante cuma bercanda. Tapi jujur, Tante seneng banget ngeliat Shani bisa nemuin orang yang bisa bikin dia senyum lagi."
Ucapan itu membuat Sisca terdiam sejenak. Ia bisa merasakan beban di balik suara lembut itu - rasa sakit seorang ibu yang berjuang, tapi juga kebahagiaan kecil karena anaknya kembali punya alasan untuk tersenyum.
"Aku sebenernya pengen tahu lebih banyak tentang dia, tante. Soalnya kalau di sekolah tuh, Shani keliatan kayak orang yang dingin, cuek, dan susah dideketin. Dia tuh kayak bangun tembok tinggi banget di sekelilingnya."
Mama Shani menatap Sisca penuh perhatian. "Kamu pengen tahu kenapa dia kayak gitu?"
Sisca mengangguk kecil. "Iya, pengen banget. Aku ngerasa dia banyak nyimpen hal yang gak diceritain ke siapa pun. Dulu Shani pernah bilang kalo dia akan ceritain semuanya, Sisca selalu nunggu momen itu dateng. Sisca pengen ngertiin dia tante. Di sekolah aja dia cuma deket sama Jinan sama Pak Yanto."
"Oh masih sahabatan dia sama Pak Yanto?"
"Loh tante kenal Pak Yanto?"
"Ya kenal lah, masa gak kenal. Emang Shani gak cerita?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Asa & Rasa
Randomcinta tak bisa ditebak datangnya darimana dan untuk siapa dua kepribadian yang berbeda apakah bisa saling mencintai? dua orang yang sama-sama keras kepala apakah bisa bersatu? apakah pertemuan hari pertama yang sangat menyebalkan bisa berujung menja...
