45

292 38 10
                                        

Cahaya pagi menembus tirai kamar Sisca, menari lembut di udara sebelum jatuh di wajahnya yang masih setengah mengantuk. Di nakas dekat ranjangnya, ponselnya bergetar pelan - layar menyala memperlihatkan nama yang selalu bisa membuat jantungnya berdebar tanpa alasan.

Shani <3

Morning sayang
Mau berangkat bareng?

Sisca mengusap matanya perlahan, lalu tersenyum kecil. Pesan itu sederhana, tapi hangat - seperti secangkir teh hangat di pagi yang dingin. Malam tadi, sebelum tidur, Shani juga sempat mengirim pesan terakhir "Aku Udah nyampe rumah, mau tidur. Makasih buat hari ini. Good night, sayang."

Morning too. Aku berangkat sendiri aja, nanti aku ada rapat OSIS soalnya.

Oh, oke. Jangan lupa sarapan.
I love you.

Iya, kamu juga ya.
I love you sayang.

Beberapa detik setelah pesan terkirim, Sisca masih memandangi layar ponselnya. Ada rasa hangat yang pelan-pelan tumbuh - bukan ledakan, tapi tenang, lembut, dan nyata. Seolah hanya dengan satu pesan dari Shani, seluruh dunia jadi terasa lebih ringan.

Ia menepuk pipinya pelan sambil tertawa kecil pada dirinya sendiri. Lalu ia membuka tirai lebar-lebar, membiarkan cahaya pagi masuk memenuhi kamar, dan mulai bersiap ke sekolah.

Sedangkan Shani sudah duduk di tepi tempat tidurnya, memasang sepatu dengan satu tangan sambil menatap layar ponsel di tangan satunya. Notifikasi dari Sisca baru saja muncul. Senyum tipis menghiasi wajahnya - senyum yang jarang dilihat orang lain, kecuali satu gadis itu.

Ia memasukkan ponselnya ke saku jaket, lalu mengenakan helm. Hari ini, ia berangkat sendiri. Ia tahu gadisnya sedang sibuk kegiatan OSIS. Jadi ia tak ingin mengganggunya - cukup jadi pendukung diam yang menunggu dari jauh.

Pagi itu, suasana SMA Garuda ramai seperti biasa. Deru motor, teriakan murid, dan suara tawa memenuhi udara. Gerbang sekolah tampak seperti gerbang festival - ramai tapi akrab. Shani memarkir motornya di pojok parkiran, menepuk-nepuk jaketnya yang masih lembab oleh embun pagi. Beberapa murid yang lewat melirik heran - Shani yang biasanya datang last minute, kali ini malah sudah nongol sebelum bel pertama.

Tak lama setelah Shani duduk di bangku kelas, Jinan muncul dengan wajah setengah mengantuk, tas selempang disampirkan di bahu.

"Widih, keren amat temen gue sekarang. Mentang-mentang pacaran sama wakil ketua OSIS nih ceritanya?" ujarnya sambil menepuk pundak Shani.

Jinan berani mengejeknya, karena dikelasnya belum ada murid lain yang datang. Jadi ia masih bisa bebas mengoda sahabatnya itu yang ternyata bucin, bukan bucin lebih tepatnya takut kena marah lagi.

Shani melirik temannya itu sambil menahan senyum. "Biar nggak kalah teladan aja."

"Dulu aja gue harus gedor-gedor kamar lo biar bangun." Jinan terkekeh, menggeleng tak percaya. "Dasar bucin."

Shani hanya mengangkat bahu, tapi di dalam hatinya ia tahu bukan dunia yang berubah - dirinya yang berubah. Sejak Sisca datang, segalanya jadi terasa punya arah.

Shani hanya tersenyum, tak mau menanggapi terlalu jauh. Tapi dalam hati, ia tahu Jinan benar - ada sesuatu yang berubah sejak Sisca datang dalam hidupnya. Sesuatu yang sederhana, tapi cukup buat bikin hari-harinya terasa punya arah.

Sementara itu, Sisca baru saja menurunkan tasnya di kursi kelas. Gadis itu membuka ponsel dan menemukan pesan baru yang membuat senyumnya kembali muncul tanpa sadar.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Nov 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Asa & RasaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang