ATTHALARIQ; 41

12.3K 1.1K 1.3K
                                        


...

Chapter ini didedikasikan kepada seluruh pembaca setia Atthalariq, baik yang setia menunggu, vote, dan boom komen.

Chapter ini tidak ditarget karena beberapa keluhan dari pembaca, chapter selanjutnya akan dilanjut sesuai dengan keinginan penulis karena penulis tidak memiliki tanggungan target sama sekali.

Silakan membaca jika berkenan untuk menunggu tanpa meninggalkan jejak komentar negatif di lapak ini.

Berikut adalah ultimatum dari penulis.

...


SERGIO ada undangan makan malam, tentu saja makan malam keluarga besar Airlangga. Dengan stelan jas hitam yang dipadu kemeja putih di dalamnya ia berjalan menghampiri Alariq yang tengah berdiri di dekat meja panjang yang menghidangkan banyak makanan, cowok itu tidak sendirian ia bersama adiknya yang tidak lain adalah Bianca.

Ini sudah di penghujung acara, beberapa keluarga sudah memilih untuk bangkit dari duduk, bercerita sebentar kemudian berangsur-angsur pulang.

Alariq hari itu mengenakan jas hitam yang dipadu dengan kemeja hitam tak lupa bawahan celana kain berwarna hitam pula. Rambut cowok itu ditata sangat rapi belum lagi dengan kalung salib yang selalu bertengger di lehernya yang mana semakin membuat cowok itu terlihat gagah malam ini.

Pertemuan keluarga malam ini memang sudah menjadi rutinitas keluarga besar yang mana pastinya berujung akan membahas siapa penerus yang akan memimpin perusahaan keluarga. Keluarga Alariq adalah keluarga terpandang, perusahaan keluarganya bergerak disektor industri berat dan konstruksi. Sebelum Attharel meninggal cowok itu lah yang digadang-gadang akan menjadi penerus yang memimpin perusahaan keluarga. Namun, kejadian na'as yang menimpa cowok itu membuat Alariq harus menjadi sasaran empuk Ayahnya untuk bisa menggantikan posisi Attharel yang mana tentu saja akan bersaing ketat dengan Sergio.

Alariq tidak memiliki hasrat untuk menjadi pemimpin dalam perusahaan itu sekalipun ia adalah seorang ketua geng di sekolahnya. Ia merasa bahwa memang Kakaknya lah yang paling memumpuni untuk menjalankan dan meneruskan apa yang sudah didapat oleh Ayahnya itu.

"Hai!" Itu sapaan dari Sergio ketika cowok itu mendekati Alariq dan Bianca. Keduanya langsung menoleh ke arah sumber suara, tentu saja, Bianca yang melihat seorang Sergio di hadapannya sontak langsung memutar bola matanya malas dan memilih pergi berbeda dengan Alariq cowok itu tetap berdiri santai dengan mata yang tajam memandang seorang Sergio.

"Yaelah adik lo gitu amat kayak lihat setan aja."

Membuang napas malas. Alariq berjalan mendekati Sergio kemudian mendekat, menepuk bahu cowok itu. "Lu baru sadar?"

"Al!"

"Gue gak ada urusan sama lo, ambil aja semuanya," Alariq berkata santai sembari berjalan melambaikan tangan pada Sergio tanpa berbalik, meninggalkan cowok itu yang hanya menggeleng-gelengkan kepala.

Tidak mau berlama-lama di tempat tersebut, Sergio ikut keluar. Ia masih ingin berdialog dengan sepupunya itu sebenarnya namun dari kejauhan Bianca sudah terlihat memasang wajah dongkolnya pada Alariq sehingga yang Sergio lihat selanjutnya adalah pemandangan Alariq yang menarik rambut adiknya iseng tak lupa pula berlari cepat agar Bianca tidak dapat memukulinya.

ATTHALARIQTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang