"Halo guys!" Sentak Vale yang tiba tiba datang setelah acara telatnya selama satu jam kurang. Tiga manusia yang sedang sibuk sendiri itu memandang sinis si biang onar. Menunggu memang hal yang paling menyebalkan.
"Oi!" Ia menggebrak meja kafe, tempat dimana mereka janji untuk berkumpul hari ini.
"Apa lo liat liat?" Diasley melotot sadis.
"Ini jam berapa?" Tanya Diasley sambil mengetuk ngetuk jam tangan coklat yang melingkar manis ditangan kirinya. Sangat kontras dengan kulit cerahnya.
"Kita janjian jam berapa?" Matanya kembali melihat Vale yang sudah salah tingkah. Vale membuang mukanya dan mencoba mencari alasan yang tepat untuk ketiga sahabatnya ini. Ketiga sahabatnya yang kini menatapnya dengan tatapan siap menerkam.
"Iya, iya, maap. Aelah, sensi banget lo pada. Udah kaya nenek-nenek PMS aja," Vale memaik turunkan alisnya sambil tersenyum menggoda teman temannya yang sedang kesal itu.
"Nenek-nenek ada yang PMS?" Leo bertanya dengan segala kepolosannya. Leo mengacaukan acara marah-marah kepada Vale.
"Beler banget, lo," Diasley melipat kedua tangannya didepan dada sambil menyandar pada sandaran kursi.
"By the way, mau ngapain nih ngumpul?" Tanya Vale sambil duduk disamping Andrew. Yang sedang memainkan ponselnya.
"Liburan cepet banget, elah. Tinggal seminggu," runtuk Leo mengeluarkan gadgednya dan membuka aplikasi game mengikuti jejak Andrew.
"Jalan yuuu?" Ajak Vale dengan mata berbinar lucu.
"Kemana, kemana?" Andrew sangat semangat dan memalingkan wajahnya dari game yang sedang ia mainkan.
"Yah kan gue kalah!" Andrew menatap nanar ponselnya yang kini terpampang tulisan 'game over'
"Ya... Deket sini ajasih, jangan jauh jauh...eum, maksud gue—elah liatnya biasa aja," Vale menenggelamkan wajahnya kedalam lipatan tangannya diatas meja karena salah tingkah diperhatikan seperti itu.
"Malu gue, kaya lagi diceramahin sama guru BK," masih setia menenggelamkan wajahnya.
"Cie salting," Andrew menoel pipi Vale yang menyembul gemas.
"Onyek, gausah," Vale mengangkat kepalanya sambil memajukan bibirnya.
"Buruan, mau kemana? Gue bosen dirumah. Semua sibuk merhatiin abang gue doang. bosen ngeliat itu mulu," curhat Leo.
"Curhat lo?" Diasley menggoda Leo sambil tersenyum tidak jelas.
"Aih, jangan buka kartu gue," Leo senyum (sok) malu-malu.
"Elah, buruan, Val. Kemana?" Tanya Andrew lagi.
"Eum, ke Villa keluarga gue dipuncak. Tapi itu balik lagi ke lo semua, mau apa engga. Eum, nyaranin ajasih. Gue juga bosen dirumah, mereka selalu sibuk kerja," Vale tersenyum yang menorehkan luka. Wajah salah tingkah itu seketika berubah.
"Gue gak tau bisa apa enggak. Gue harus izin dulu," Diasley tersenyum.
"Sama papa," senyum itu tampak berbeda.
"Sekarang kemana nih?" Tanya Leo berusaha mencairkan suasana yang sedikit 'berbeda'.
"Eh, ada satu tempat yang mau gue sama Andrew tunjukin ke lo berdua. Sebenernya, ini tempat Andrew yang kasi tau gue. Mau ikut gak?" Tanya Leo memecah keheningan yang ada diantara mereka. Semuanya menoleh kearah Leo. Leo memang selalu bisa mencairkan suasana. Setidaknya itu yang paling Diasley sukai tentang Leo.
"Bagus?" Tanya Vale kurang percaya dengan tampang Leo.
"Ga percaya banget lo sama gue," Loe memutar bola matanya gemas.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK
Teen Fiction[Complete] Laki-laki itu menatapnya dari bawah sambil berbaring dipaha gadis itu. "Jangan bicara seakan-akan lo bakal pergi." "It's real life, i told you for many times, Andrew." Dan kini gadis itu berada dipelukan sahabatnya setelah beberapa bulan...
