"Hai," panggil Diasley ketika ia keluar dari kelasnya. Ia langsung mendapati Andrew sedang menunggunya sambil mengotak-atik ponselnya. Andrew melirik laki-laki yang ada di samping Diasley.
"Hai, Drew," Leo langsung merangkul bahu Andrew seperti biasanya. Seperti saat mereka belum sejauh ini.
"Hai," Andrew memasukan ponselnya ke dalam saku. Kini mereka mengacangi Diasley di samping.
"By the way, lo mau kemana nih?" Tanya Leo pada Andrew, "gue butuh ngumpul bareng."
"Gue mau ke tempat nyokap sama Diasley," Andrew melirik Diasley yang berjalan sendirian di samping mereka.
"Ah, gue ga bisa ikutan."
"Kenapa?" Tanya Diasley pada Leo.
"Ada urusan," Leo meronggoh sakunya begitu mereka sampai di parkiran, "gue duluan."
"Kelas dua belas sibuk banget," Diasley mensejajarkan langkah panjang Andrew, "kita jadi jarang ngumpul."
"Tugas numpuk sih," Andrew memasuki mobilnya dan disusul oleh Diasley, "tahun ini ga bisa ikutan Studytour lagi," Diasley cemberut.
"Bikin study tour kita sendiri aja," Andrew menghidupkan mesinnya lalu memacu mobilnya, "Ara makin lama makin nyebelin."
"Masa? Ara kan kalem."
"Ya kali, kalem," Andrew memutar matanya tanda tak setuju, "dia udah jadi tengil."
"Kaya lo."
"Ya terus aja gue."
"Lah kan emang."
"Emang ganteng."
"Emang tengil."
"Ih, jelek."
"Ih, cantik."
"Dih, PeDe."
"Dari dulu."
"Dari dulu jelek."
"Bacot banget."
"Dari dulu."
Mereka berdua tertawa bersama, "beli bunga dulu ya, Spesies."
Spesies.
"Iya, Om."
Om
"Jangan panggil gue Om."
"Jangan panggil gue Spesies."
"Emang Spesies aneh."
"Emang Om-Om mesum."
"Dih, nyium doang mesum."
"Ya, iyalah!" Diasley mencubit lengan Andrew geram.
"Bercanda, ih," Andrew memegangi bekas kejahatan Diasley barusan.
"Drew," panggil Diasley serius. Andrew menoleh.
"Kenapa?"
"Gue–"
"Apa?"
"Gue laper," Diasley menatap Andrew dengan wajah memelas.
"Ya kali, makan doang mah," Andrew memutar matanya, "lo gimana sama papa?" Tanya Andrew akhirnya. Sudah lama ia ingin menanyakan ini.
"Papa sekarang sering dinas keluar kota. Pas papa pulang gue selalu gak ada di rumah atau nggak gue udah tidur atau sebaliknya," Diasley tersenyum singkat, "gue kasian sama Papa."
"Gue–gue sayang sama papa."
"Lo pasti sayang sama dia, karna dia Bokap lo," Andrew mengelus rambut Diasley dengan tangan kirinya, menyandarkan Diasley di bahunya, "malem ini ada Papa?" Tanya Andrew.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK
Teen Fiction[Complete] Laki-laki itu menatapnya dari bawah sambil berbaring dipaha gadis itu. "Jangan bicara seakan-akan lo bakal pergi." "It's real life, i told you for many times, Andrew." Dan kini gadis itu berada dipelukan sahabatnya setelah beberapa bulan...
