Dark (8)

4.4K 280 4
                                        

Sebelumnya makasih banyak huat teman-teman yang udah mau menyempatkan waktunya untuk baca cerita pertama aku ini, oh iya ada cerita baru yang aku upload barusan, ceritanya sih masi diawang-awang yah, mungkin bakalan fokus kesana kalo dark udah tamat, makasih sekali lagi buat para siders dan teman2 yang udah vomments.


Diasley memasuki bus dengan raut wajah yang kembali masam akibat kejadian tadi yang disebabkan oleh Willy. Wajahnya ditekuk dan ditundukan yang membuat siapa saja tau bahwa ia sedang ada masalah. Dihempaskannya tubuhnya ditempat duduk busnya yang berada disamping Andrew yang juga baru menghempaskan tubuhnya dikursinya. Selama perjalanan menuju Bukittinggi ia hanya terdiam dan tak mengucapkan sepatah kata pun untuk memecah keheningannya bersama teman sebangkunya. Tak ada suara.

"Tadi itu siapa?" Tanya Andrew memecah keheningan diantara mereka dan mencairkan es yang ada diantara mereka.

"Temen, dulu sahabat, sekarang pacar orang."

Diasley terlihat lesu menjawab pertanyaan Andrew yang bersangkutan dengan Willy.

"Lo liat?" Diasley terperanggah menyadari bahwa Andrew melihat semua yang ia alami tadi.

"Hmm."

"Ah, shit."

"Udah deh, gausah kaya abege labil, putus cinta doang sih," Andrew memasang kupluk berwarna hitam keabu-abuan yang baru ia keluarkan dari dalam tas ranselnya.

"Apa sih, gue gak mood," kata Diasley ketus.

"Yakan lo juga," Kata Andrew tak peduli.

"Main uno yuk!" Ajak Diasley semangat.

"Dih, apaan banget," Andrew bergidik ngeri.

"Ih, jahat banget lo," kata Diasley memanyunkan bibirnya. "Ayolah, main sama gue," pinta Dialsey memohon.

"Kalo kalah gimana?" Tanya Andrew melirik malas kearah Diasley.

"Hmm..apa ya?" Diasley bingung memikirkan hukuman apa yang akan digunakan untuk salah satu diantara mereka yang kalah.

"Yang menang boleh nyuruh yang kalah. Apa aja. Tapi cuma untuk sekali. Gaboleh berulang- ulang. Gimana?" Tawar Andrew melirik Diasley yang masih berfikir itu.

"Wah, boleh tuh! Gue kan Queen nya uno banget," kata Diasley PD.

Sejauh ini, Sudah 2 ronde yang mereka mainkan. Diasley selalu menang. Andrew tak mau berhenti hingga ia menang. Dan..

"UNO!!" Teriak Andrew gembira.

"Aelah, baru menang sekali juga." Kata Diasley malas. "Jadi, apa hukuman lo buat gue?"

"Hmm.. Gue mau lo..."

"Hah, taik! Apa-apaan tuh kaya gitu. Gamau gamau!" Teriak Diasley.

"Tadi lo aja setuju," Andrew tersenyum. "Lo aja minta beliin pizza ukuran large sama gangguin Mumu yang kaya begituan aja gue mau," kata Andrew sambil menunjuk gadis berkulit hitam, berkacamata, dan rambut dikepang dua yang duduk empat baris didepan mereka dengan dagunya.

"Ahh, pokoknya gue gamau, mau ditaro dimana muka gue!" Teriak Diasley.

"Makanya jangan sombong lo jadi orang," kata Andrew kepada Diasley. "Lagian, gue belum bilang kan hukuman gue buat lo apaan," Andrew senyum miring.

"Gue punya bad feeling nih sist,"
------

Rombongan mereka tiba di Bukittinggi. Kota Jam Gadang ini.

"Oke, time to do it!" Kata Diasley dengan cengiran sumbringah diwajahnya. " ayoo!! Lo harus godain dia, pegang pipinya bikin dia nge- fly se-fly-fly-nya sama lo," kata Diasley, "gue bakal jadi paparazi disini, jahahahaha," Diasley tertawa puas menatap wajah Andrew yang jengkel, "selamat pedekate broh," Diasley meninggalkan Andrew dengan cekikikan geli.

"Hai, Mumu," sapa Andrew canggung.

"Eh, Andrew ada apa?" Kata Mumu dengan malu-malu. 'Sialaan banget Diasley, liat aja dia ntar,'

"rambut lo kusut," Andrew merapikan dan mengelus rambut Mumu dan tersenyum canggung.

"Engg..hehe sori," kata Mumu semakin salah tingkah.

"Tadi lo abis makan apa?" Tanya Andrew dengan senyum termanisnya yang dapat membuat siapa saja terlena oleh senyuman mautnya itu.

"Engg.. Es krim, hehe," Mumu tertawa garing dan salah tingkah atas perhatian yang dibuat Andrew padanya.

"Ihh, belepotan gini," Andrew melap sisa es krim yang ada di pipi gadis itu. "Buat gue ga ada nih?" Tanya Andrew menggoda Mumu yang sudah slah tingkah atas perhatian Andrew.

"Enghh.. Hehe sorry, udah abis. Apa, enghh... Mau gue beliin buat lo?" Tanya Mumu dengan terbata-bata karna salah tingkah.

"Gausah, gue duluan, dah cantik," kata Andrew berlalu dengan raut wajah yang masam.

Disisi lain, Diasley tertawa terpingkal-pingkal melihat aksi Andrew tadi. Sungguh, Andrew sangat pintar merayu wanita. Tampak dari Mumu yang merona dan salah tingkah diperlakukan oleh Andrew tadi.

"Hahaha! Aslii! Lo..pft..pfttt.." Diasley menahan tawanya yang akhirnya pecah juga dihadapan Andrew. " BUAHAHAHAHAHA," Diasley tertawa sambil memegangi perutnya. "Asli, gue ngakak!"

"Dih, tai lo," Andrew memutar matanya jengkel kepada Diasley yang menertawakannya.

"Ngapa lo? Tumben, hahahaha!" Tawanya masi pecah.

"Yuk cusss ke Pizza. Mumpung free." Kata Diasley tanpa sadar menggandeng tangan Andrew.

"tekor gue," Andrew menerawang kelangit.

"Buruaaannn," Diasley menarik tangan yang berada digandengannya.

------

"Mau kemana Drew?" Tanya Diasley. Dia ditarik Andrew ditempat dimana banyak anak sekolahnya yang ikut study tour berkumpul, tetapi tidak ada guru disana.

"Ini hukuman," bisik Andrew ditelinga kanan Diasley.

Perasaan Diasley tak enak dengan nada bicara Andrew barusan.

"Hu..hukuman apa?"

DARKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang