Dark 31
"Sianggg..." Diasley membuka pintu ruangan Briliana sambil memegang seikat bunga Lili. Andrew mengikuti Diasley dari belakang dengan tangannya di dalam saku.
Andrew tersenyum sekilas.
"Siang," Andrew tersenyum ke arah Ara dan Indra yang sedang bermain UNO. UNO. Andrew mengingat hukuman gila yang dulu ia berikan pada Diasley ketika kalah bermain UNO bersamanya. Andrew masih ingat betul detail pada saat itu.
"Ih, seru banget deh kayanya," Diasley berlari meletakan seikat bunga Lilinya di nakas samping tempat tidur Briliana kemudian duduk di samping Ara, "ikutan dong."
"Siang ka', ntar ya. Kalo ronde ini selese main bareng," Ara menaik turunkan alisnya pada Indra. Semangkuk kecil kopi kental sudah ada di atas meja.
"Tau deh yang entar lagi menang," Indra melemparkan satu kartunya ke atas meja.
"UNO," kartu Ara tinggal satu.
"Yah papa telat, sih," Andrew duduk di samping Indra dan mengamati permainan mereka.
"Ini buat Ara!" Indra melempar kartunya lagi.
"Games, pah," Ara mengambil mangkok kopi mereka dan mencolek muka Indra berbentuk kumis melengkung.
"Sadis lo, Ra," Andrew tertawa melihat muka cemong Indra.
"Yadong," Ara tersenyum bangga. Mahakaryanya terpampang nyata sekarang.
"Buruan, gue pengen cepet main," Diasley tidak sabaran lagi.
"Bah, kalo kalah jangan nangis," Ara menjulurkan lidahnya.
"Wehey, you're maybe a princess, but hey, i'm the Queen," Diasley menaik turunkan alisnya menantang.
"Let's see," Ara membagikan kartu yang sebelumnya sudah ia kocok terlebih dulu.
"Who's first?" Tanya Indra pada ketiga anaknya. Ara dan Diasley berpandangan dengan senyum mereka masing-masing.
"I'm first," Andrew melempar kartunya dengan senyum kemenangan.
"So, i'm next," Diasley yang berada di hadapan Andrew melempar kartunya dahulu.
"Tunggu, tunggu," Indra menghentikan Ara yang hendak melempar kartunya. Ara mengurungkan niatnya dan mengerut kan alisnya menatap ayahnya itu, "i'm last?" Tanya Indra dengan polos menatap ketiga remaja itu.
"Hahaha, anjayy, Om kocak banget."
"Wahaha, mukanya Pa, mukanya."
"Bahahaha, ekspresinya Pa, ampun."
"Jelek banget, ya?" Indra bertanya lagi dengan polosnya sambil meraba wajahnya.
"Nggak kok, my Dad sweety you're never be ugly," Ara tersenyum penuh Arti kepada ayahnya.
"Udah buruan, tangan gue gatal pengen nyemongin muka yang kalah," Andrew mengintrupsi percakapan di antara mereka.
"Duh 'kan gara-gara muka Papa, nih," Ara melempar kartunya, begitupun Indra seterusnya.
"UNO!" Kartu Diasley tinggal satu.
"UNO!" Kartu Ara pun tinggal satu. Indra mengeluarkan kartunya yang masih tersisa lima itu. Disusul Andrew dengan tiga kartunya.
"Yah," Diasley mengambil kartu cadangan hingga tiga kali baru ia menemukan kartu yang sesuai.
"Yah, kok samaan mulu," Ara mengambil kartunya juga.
"Games! I'm done," Andrew tersenyum bahagia pada ketiga pemain yang kalah. Andrew langsung mempoleskan kopi kepada ke tiga pemain yang kalah dibandingkan dirinya. Dan kopi terbanyak ada di wajah Ara dan Diasley.
KAMU SEDANG MEMBACA
DARK
Teen Fiction[Complete] Laki-laki itu menatapnya dari bawah sambil berbaring dipaha gadis itu. "Jangan bicara seakan-akan lo bakal pergi." "It's real life, i told you for many times, Andrew." Dan kini gadis itu berada dipelukan sahabatnya setelah beberapa bulan...
