Dark (37)

2.8K 170 0
                                        



Ujian Nasional. Murid kelas dua belas mana yang tidak deg-degan? Ini penentu kelulusan mereka, walau tidak seratus persen dari UN. Tapi tetap saja bukan? Tiga tahun mereka belajar ditentukan dalam waktu beberapa hari. Seluruh murid SMA di ibukota merasa lega, karna hari ini merupakan hari terakhir ujian nasional. Seluruh murid keluar dari ruangan masing-masing dan bersorak gembira.

"Wanjer, selese juga perjuangan."

"Gila, serem pengawasnya."

"Gue mendadak laper liat soalnya."

"Gue nyaris salah masukin kode soal di komputernya."

"Gue berasa di kejer waktu liat komputernya."

"Gue kira CBT enak, tai lah."

"Pengawas gue baik hati."

"Enak banget sekolah lain bisa pake kunci."

"Sialan, gue takut jelek hasilnya."

"Gue berasa mau mati di tempat tadi."

"Gue ngerasa liat muka mantan di layarnya."

"Anjir, tapi ga susah-susah banget."

Dan celotehan-celotehan lainnya. Mereka semua mengutarakan apa yang mereka rasakan di dalam ruangan tadi. Dengan komputer di depan mata. Tapi tidak dengan seorang gadis yang baru saja keluar dari ruangannya. Tanpa berbaur dengan anak-anak lain yang mengutarakan isi hatinya, tapi ini berbeda. Ia berjalan sendirian meski termasuk anak populer walau tidak hitz. Ruangannya kali ini berbeda dengan sahabat-sahabatnya dan sedikit terpelosok ke belakang sekolah. Dia menatap langkahnya yang perlahan-lahan. Wajahnya tertunduk dan tertutupi beberapa helaian rambut. Bukan masalah ujian nasional yang baru saja ia laksanakan. Bukan masalah CBT yang di lakukan sekolahnya. Bahkan bukan masalah SNMPTN yang di idam-idamkan seluruh murid kelas dua belas. Melainkan masalah hatinya. Hatinya masih bergemuruh tentang semua itu. Ia masih belum memutuskan semuanya. Semua yang sangat berdampak pada masa depan. Semuanya bahkan terasa sangat sulit baginya.

"Diasley!" Panggil Vale yang tiba-tiba ada di hadapannya. Diasley menoleh, memasang wajah sok cerianya. Tersenyum manis menatap mata bulat milik Vale yang khas.

"Hai!" Diasley nyegir, "gimana ujian lo?"

Vale berpaling, "cih," Vale membuang muka pada Diasley, "lo sama aja kaya Andrew yang kalo ketemu gue nanya 'gimana ujiannya?' It's shit like hell."

Diasley cekikikan, Vale dengan wajah jengkelnya, "masa?"

Vale memutar matanya, "oh, c'mon, gue lagi galau."

"Lah kenapa?" Mereka mulai berjalan berdampingan. Tidak mungkinkan hanya berdiri? Sekolah akan sepi kurang dari setengah jam lagi.

Vale cemberut, "gue kangen kumpul."

Diasley senyum cerah, dirinya pun sangat merindukan masa-masa itu, "yuk kumpul!"

"Ga bisa, gue mau jalan-jalan bareng bokap nyokap dan balik dua minggu sebelum kelulusan, pas promnight."

Mungkin pas kelulusan gue udah gak ada di sini.

"Bagus dong kalo gitu," Diasley tersenyum bahagia, "lo makin baik sama ortu lo."

"Yes, i think."

-----

Diasley bingung. Dia benar-benar bingung dengan semua yang membelenggunya saat ini. Bagaimana cara memberitahu kepada semuanya? Memberitahu isi surat itu. Surat kelulusannya mendapat beasiswa untuk kuliah di london. Jujur saja, diasley membenci perpisahan. Siapa pun benci akan hal itu bukan? Tapi ini berbeda. Sangat berbeda. Diasley tidak memberitahu siapa pun selain Marvel. Lagi pula, Diasley belum memberi persetujuan jika dia menerima beasiswa itu. Pihak penyelenggara mengatakan bahwa paling lambat adalah bertepatan saat ia promnight dua minggu lagi. Mengingat seminggu kemudian setelah promnight adalah hari kelulusan dan dia tidak dapat hadir pada hari itu. Lebih tepatnya hadir, tapi hanya untuk mengambil surat kelulusan. Tidak dapat merasakan bagaimana bahagianya anak-anak lain coret-coret baju kebangsaannya. Tidak dapat merasakan terakhir kalinya ia mengenakan seragam putih abu-abu itu. Tidak dapat merasakan yang di katakan oleh orang-orang sekali seumur hidup.

DARKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang