Dark (7)

4.5K 284 3
                                        

Ditempat ini Diasley dan yang lainya bermain air. Dia benar-benar basah kuyup bersama Vale dan banyak lagi para peserta study tour yang juga ikut basah kuyup. Karna menurut mereka kesempatan seperti ini tidak boleh dilewatkan dan harus dinikmati, karna mungkin hanya akan terjadi sekali seumur hidup. Sampai akhirnya Diasley kedinginan dan kembali kepermukaan untuk sekedar menghangatkan tubuh dan mungkin minum teh hangat dikedai yang ada disekitar kolam.

"Brrr," rintihan itu keluar dari mulut Diasley yang saat ini sedang kedinginan dan basah kuyup. "Val, gue mau kewarung bentar ya, sist," kata Diasley beranjak dari tepi kolam memuju warung-warung yang ada disekitar sana.

Dia menuju deretan warung-warung yang berjejer rapi dengan makanan dan minuman yang dapat menghangatkan tubuhnya saat ini, bahkan ada pula makanan khas daerah ini yang dijual disini. Ia memilih-milih makanan yang dikiranya cukup enak dan dapat menghangatkannya. Sampai pada suatu saat, matanya terfokus pada satu titik. Willy. Orang itu. Kerap membeli sesuatu dengan seorang wanita yang tidak ia kenali, wajahnya sangat asing bagi Diasley.

'Siapa dia?' Pikiran itu terbesit diotaknya. Dari sini ia dapat melihat  Willy memeluk dan mencium pipi wanita itu lalu mencubitnya dengan gemas. Setau Diasley, Willy tak punya kakak sepupu yang sebaya atau pun kakak kandung wanita atau bahkan adik. Lantas siapa wanita yang sedang bersama dengan Willy saat itu? Ia merasa matanya panas dan segera pergi meninggalkan warung yang tadi ia kunjungi. Berjalan secepat mungkin agar tak ada yang dapat melihatnya dengan hati yang kacau seperti saat ini. Sampai sebuah suara bulat seorang pria yang sangat ia kenali itu memanggilnya,

"Woi, Dias! Lo disini juga?" Teriak Willy memanggil diasley yang mau tak mau berhenti dibuatnya.

"Iya," ucap Diasley berhenti dari usaha melarikan dirinya lalu berbalik menghadap Willy dan wanita tadi.

"Kebetulan banget, nyet. Kenalin ini Terre," ucap Willy memperkenalkan wanita yang ada disampingnya itu.

"Pacar gue."

Seluruh dunia rasanya menjadi membesar dan menekannya hingga ia merasa bahwa dirinya menjadi hancur berkeping-keping. Merasakan sakit yang begitu dalam menghancurkan semua yang telah ia jaga selama ini dari siapa pun yang berusaha menghancurkannya dari dulu. Menghancurkan segala rasa yang ia punya dan merasa kalau semuanya sia-sia. Menyadari bahwa sebenarnya yang ia jaga dari dulu adalah perasaan cintanya kepada sahabatnya yang baru ia ketahui bahwa rasa itu ada jauh didalam hati kecilnya. Merasakan sakitnya kehilangan segala yang telah lama ia jaga selama ini. Perasaan itu ternyata perasaan cinta yang kini telah berdarah tertusuk pedang besi yang tajam dan membuatnya terasa ngilu dan menyakitkan terjatuh tak berdaya. Wanita cantik bermata coklat itu menatap kosong kedepan hingga tersadar bahwa seseorang wanita mengucapkan sapaan kepadanya.

"Haii." Wanita cantik itu tersenyum simpul yang bagi Diasley merupakan pedang besi kesekian kali yang menusuk hatinya hingga berdarah.

Susah payah ia berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin dan membalas sapaan wanita cantik tadi. Ia berdoa agar suaranya tetap sama dan tidak tampak kesakitan yang ia rasakan saat ini, tidak bergetar.

"Hai."

Diasley sangat bersyukur bahwa suara yang ia keluarkan tidak serak dan bergetar yang nantinya akan mengundang tanya dari Willy maupun Terre.

"Gue duluan, nyet. Dah!" Willy menggenggam tangan Terre lalu pergi meninggalkan Diasley sendirian dengan rasa sakit yang tak bisa ia ungkapkan. Ia menatap lurus kearah sepasang insan didepannya yang sedang berjalan bergandengan tangan sambil bercanda gurau dan tertawa.

Merasakan dunia seperti milik berdua tanpa mereka tau ada hati yang terluka.

Bug

"Andrew,"katanya melihat orang yang ia tabrak itu dengan tatapan kosong yang menyakitkan.

"lo ken---"

Bug

Dipeluknya lelaki yang ada didepannya ini. Memeluk Andrew dengan sangat erat seakan ia sedang meminta kekuatan untuk dirinya yang kini sedang dilanda kesakitan. Ia memeluk Andrew kuat, sangat kuat. Dan membenamkan wajahnya di dada milik Andrew. Ia tak menangis sedikitpun, tak terlihat ada bendungan air mata dipelupuk matanya. Ingin rasanya ia menangisi semua takdir yang ada saat ini. Menyakitinya dari segala sisi yang sedikit demi sedikit meruntuhkan pertahanannya.

Tik

Satu tetes air mata sukses menetes dari pelupuk mata gadis mungil itu. Andrew yang sudah lama membalas pelukan Diasley pun tertegun. Apakah wanita didepannya ini menangis? Sunggu dari dulu Andrew benci melihat seorang wanita menangis dihadapannya. Cukup ibunya, jangan ada lagi wanita lain yang pernah menangis dihadapannya.

"Maaf, izinin gue untuk meluk lo kali ini aja."katanya pelan..dan lirih. Menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Meyakinkan Andrew bahwa wanita yang ada dihadapannya ini sedang merasa buruk.

"Lo kenapa?" Pertanyaan itu sukses keluar dari bibir lelaki berperawakan tinggi itu. Diasley menggeleng dan semakin mengencangkan pelukannya dan semakin menangis didada bidang lelaki itu. Bahunya naik turun menangis tanpa isakan yang terdengar oleh Andrew.

"Maaf," katanya lirih, seraya melepaskan pelukannya, ia melap kasar air mata yang membasahi pipinya menggunakan punggung tangan, "gue butuh seseorang buat jadi penompang gue,"

"Maafin gue,"katanya sekali lagi merasa bersalah akan situasi yang ia buat kini. "Harusnya gue ga mel---"

Bug

Kata-kata Diasley terpotong bersamaan dengan Andrew memeluknya lagi. Seakan memberinya kekuatan dan mengatakan bahwa semuanya tidak menjadi masalah. menyampaikan lewat pelukan itu 'lo harus kuat'

"Lo harus kuat," bisik Andrew ditelinga kanan Diasley yang masih berada dalam pelukannya.

"Thanks," jawab Diasley parau dan masih sedikit bergetar.

"Lo, kedinginan?" Andrew melihat kearah bibir pucat dan sedikit keunguan milik Diasley, "Lo kelamaan main aer ya?" Diasley hanya tersenyum tipis dan menganggukan kepalanya seraya berkata, "Jaket lo mana? Udah tau dingin kok ga pake jaket?" Tanya Andrew bertubi-tubi kepada Diasley yang sekarang berusaha tersenyum.

"Jaket gue tinggal di bus," kata, bahkan bisa dibilang bisikan dari Diasley.

"Nih, pake jaket gue," seraya memakaikan jaketnya di bahu Diasley yang kedinginan.

"Makasih," ucap Diasley parau.

"Sekarang, lo harus makan sama minum yang anget anget," kata Andrew sambil menarik Diasley menuju   Salah satu warung yang Diasley kunjungi tadi.

"Udah anget?" Tanya Andrew.

"Udahh, anget banget malah, sampe melepuh," kata Diasley sambil nyengir.

"Pelan-pelan makannya, ga bakal lari makanannya. Kalo kurang tambah lagi, Gue bayarin." Kata Andrew sambil memakan makanannya.

"lo bawa duit banyak ya?" Mata Diasley berbinar-binar. "Bisa nih bayarin makan sama shoping gue selama disini. Jadi gue bisa ngirit gitu ceritanya," Diasley pun terkekeh.

"Minta sama nyokap bokap lo lah." Kata Andrew melirik sekilas Diasley yang raut wajahnya berubah.

"Jangan bengong, ntar kesambet,"

"Apa om? Gue lagi kepanasan, kebakaran dalam mulut gue."

A/N
Makasih buat temen-temen semua yang udah votments cerita aku. Dan juga para siders yang baca cerita aku juga makasih banyak ya. Sebenarnya ini cerita pertama yang pernah aku publish, jadi kalo ada kesalahan atau kurang sempurna mohon dimaafkan. Terimakasih sekali lagi ya buat para readers yang udah baca cerita aku.


Salam jomblo,
Icin

DARKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang