Roll the Dice II [Maknae Line]

15.1K 598 41
                                        

"Sehabis Yoongi, cobalah Jungkook."

Aku kembali membulatkan mataku, akhir-akhir ini otakku dipenuhi Ji-Kook yang selalu saja berdua, the ship is sailing!

"Yeah! Jimin Oppa, lakukan saja," dan hal yang aku dapat selanjutnya adalah delikan tajam dari mata sipit Jimin, yang hanya membuatku tertawa.

"Jikook sextape, pasti banyak orang di luar sana yang rela menukar tubuhnya demi sextape kalian," yang ada sekarang hanya blushing Jimin dan Jungkook.

"J-Jungkook... Kalau kau tidak mau aku melakukannya..."

Jungkook menyela dengan cepat, terlalu cepat menurutku. "Lakukan saja, hyung!"

Jimin sudah memerah hingga telinga, dan perlahan mendekati Jungkook. "Kenapa selalu aku yang terkena ini?!" Jimin mengerucutkan bibirnya dan terlihat semakin imut.

Aku ingin sekali memotret posisi mereka saat ini. Jungkook duduk di atas dengan Jimin yang berlutut di bawahnya. Perlahan tapi pasti, Jimin membuka celana Jungkook dengan menutup matanya, enggan melihat apa yang di depannya.

Jungkook hanya menatap Jimin dengan datar, tidak ada ekspresi sama sekali. "Jungkook Oppa, kenapa wajahmu seperti itu?" Semuanya terkikik mendengar pertanyaanku.

"Aku sedang tegang, kau diamlah!" Jungkook menatapku tajam, kembali membuat aku dan yang lain tertawa.

Setelah Jimin bersusah payah membuka celana dan boxer Jungkook, ia terlihat menelan ludahnya sendiri dengan gugup.

"Ngh..." Jungkook sudah mulai membuat desahan erotis saat Jimin memasukkan milik Jungkook ke dalam mulutnya sendiri.

Jimin mulai menaik turunkan mulutnya sendiri, membuat tempo yang tidak begitu pelan, juga tidak begitu kencang. "Jimin-ah.."

Jimin dengan kasar mengeluarkan milik Jungkook dan menyentilnya, "Hyung!"

"Apakah itu penting untuk sekarang, Jimin?" Yoongi menggelengkan kepalanya.

"Cepatlah, Jimin!" Jungkook menarik rambut Jimin, aku bisa mengategorikannya sebagai setengah menjambak, dan memasukkan mulut Jimin kembali pada miliknya yang sudah sepenuhnya tegang.

"Ah," Jungkook terus mengeluarkan desahan yang begitu seksi, membuat tubuh bawahku ikut bereaksi hanya karena mendengar desahannya.

"Jimin-ah, aku akan keluar," Jungkook bahkan sampai kehabisan napas karena permainan Jimin pada miliknya.

"Mmmmh!" Sepertinya Jungkook keluar dan tidak memperbolehkan Jimin untuk melepaskan mulutnya. Karena Jimin berusaha melepaskan dirinya sedangkan Jungkook yang lebih kuat enggan melepaskan genggamannya pada kepala belakang Jimin.

"Ah, terima kasih hyung."

Jimin dengan cepat berlari ke kamar mandi, dan kami semua tertawa.

"Apa dia hebat?"

"Seperti yang Yoongi Hyung katakan, aku akan memintanya lagi kalau ada waktu,"

"Menjijikkan,"

Jimin telah kembali dengan wajah yang basah, dan matanya memerah. Kasihan. "Awas kau, Jungkook."

"Maafkan aku hyung, kau sungguh hebat."

Dan sekarang giliran Kim Taehyung. Delapan. Dan langsung mendapat sorakan dari semua orang.

"Pengecut sekali, Taetae."

Taehyung mendelik, "Memangnya aku bisa mengatur dadunya harus muncul berapa?"

"Ada yang ingin bertanya?"

Semua kembali berpikir dengan giat. Mengerutkan kening masing-masing, berusaha memberikan pertanyaan yang mampu membuka aib Kim Taehyung.

Hoseok mengangkat tangannya dengan tinggi. "Taehyung-ah, seandainya kau mendapatkan dare, hal apa yang ingin kau lakukan dan dengan siapa?"

"Hoseok Oppa, daebak!" Aku bertepuk tangan kecil. Sama sekali tidak terpikirkan pertanyaan itu.

Taehyung menelan ludahnya, "dengan Jimin. Tapi ia yang memberiku blow-job."

"Ya! Tae! Memangnya aku ini pekerja prostitusi?" Jimin memukul lengan Taehyung agak keras, tapi membuat semua orang tertawa.

"Kau tahu, Yoongi Hyung dan Kookie memberikan feed back yang sangat bagus, jadi aku juga ingin mencobanya."

Jimin menatap Taehyung kesal, "terserah kau saja."

Jeon Jungkook. Tujuh.

"Ah! Padahal tadi enam," Jungkook menendang dadunya dengan kesal.

"Sebagai permintaan maaf, kau harus menjadi dongsaeng yang baik untuk Jimin selama satu minggu," dengan bahagia Jimin mengutarakan permintaannya untuk Jungkook.

Jungkook menatap Jimin dengan bingung, "memangnya aku bukan dongsaeng yang baik?"

"Dongsaeng alias babu."

Semuanya bertepuk tangan. Permainan kali ini didominasi oleh Jimin dan Jungkook, dan sepertinya itu tidak masalah.

"Bagus Jimin! Sekalian saja ia yang memasak untuk kita semua," Seokjin tiba-tiba menyela dan membuat semua orang kembali memecah tawa.

"Jangan hyung, nanti ia meracuni kita," Namjoon ikut-ikutan.

"Terserah kalian saja."

Yang terakhir adalah aku, aku berharap semoga genap. Karena mereka semua terlalu gila untuk masalah dare.

Dadunya berputar-putar membuatku semakin tidak sabar.

Dan sial.

Berhenti di sembilan.

Aku berteriak histeris.

Namjoon membisikkan sesuatu pada Seokjin, dan diangguki olehnya. Lalu terus berputar, hanya aku yang tidak tahu.

"Jadi, dare-mu adalah buka atasanmu sekalian dalaman dan jangan gunakan hingga permainan ini berakhir." Namjoon mengatakannya dengan santai.

Aku terbelalak. Benar kan, mereka semua gila. Tapi tidak apa, permainan ini sudah selesai, karena aku yang terakhir. "Baiklah,"

Aku dengan cepat membuka piyama milikku dan bra hitam rumahan yang sungguh lusuh. "Dan permainannya selesai kan?"

Seokjin menggeleng. "Siapa bilang? Kita bermain satu putaran lagi."

Dan aku baru saja tertipu.

--
halooo!
coba page ini di scroll lagi sekali
muncul apa ya?
semoga suka ya
sampai ketemu di tempat lain^^

WILDEST DREAMSCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang